Saat berada di kantin, aku berpapasan dengan Galih. Tidak ingin membuang kesempatan, aku langsung menariknya, dan meminta nomor teleponnya. Dia memberikannya dan kami saling menyimpan kontak w******p. "Kita harus bicara, Gal," ucapku saat dia ingin melanjutkan langkahnya. "Jam 4 nanti aku ada bimbingan." Aku melirik ke arah jam tangan, saat ini masih pukul satu siang. Masih ada waktu untuk kami berbicara. "Sekarang masih jam satu, ayo ke cafe depan," aku berjalan lalu menarik Galih untuk mengikutiku. Sesampainya di sana, aku memesan makanan yang sama dengan Galih. Setelah itu kami dilanda keheningan. Dia meletakkan ponselnya di atas meja lalu menggeser ke arahku. "Aku udah tahu, kamu dan Pak Faresta, suami istri kan, Na?" tanyanya. Mataku membulat seketika begitu melihat foto pernik

