"Es krimnya mau langsung dimakan atau nanti?" tanya Mas Faresta sambil membawa Tote bag yang berlogo supermarket terkenal. "Nanti," ucapku tanpa menoleh ke arahnya. Aku berpura-pura serius menonton televisi. "Saya taruh di kulkas ya." "Iya." Mas Faresta berjalan menjauhiku. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan pakaian yang sudah berbeda. Dia memakai celana bahan selutut dan dipadukan dengan kaus hitam. Tangannya memegang sekotak es krim. "Itu kan punya aku," ucapku sambil melirik ke arahnya yang sudah duduk di sampingku. Dia membuka tutupnya lalu menyuap es krim ke mulutnya. "Nanti kalau habis saya belikan lagi," ucapnya santai. Mas Faresta terus menyuap es krim ke mulutnya, aku jadi enggak fokus menonton. Apalagi ditambah aroma vanila yang tampak menggiurkan. Aku jadi enggak ku

