Mas Faresta berdiri di depan sana sedang mengajar, tangannya bergerak mencoret-coret papan tulis. Seharusnya aku memperhatikan materi yang sedang dia jelaskan, tetapi aku malah memperhatikan wajah dan postur tubuhnya. Sesekali pandangan kami bertemu, dia langsung menghindar dengan menyapu pandangannya ke mahasiswa lain, sedangkan aku hanya tersenyum kecil melihat responnya. Masih tidak menyangka pria berwibawa di depan sana adalah suamiku. Saat bertemu denganku di dalam kelas dia terlihat biasa saja, seolah kami berdua orang asing yang tidak begitu dekat, tetapi di luar kelas dia begitu mencintaiku. Padahal aku dan Mas Faresta memakai cincin yang sama, tetapi sampai saat ini belum ada yang tahu tentang status kami. Mungkin karena interaksi kami yang terlihat biasa aja. "Saya akan tampi

