KAMU SUDAH MATI, AKU BELUM!

2895 Kata
Di papan kayu nisan itu tertulis, YERIN DEWINA binti HUSEIN Lahir: 20 Mei 1997 Wafat: 20 Juni 2020 Flo menatap sedih makam Yerin. “Sebulan setelah berulang tahun ….” lirih Flo. Dimas mengangguk, “Ya … saat itu kita dan keluarga besarnya sedang menginap di villa di pinggir kota untuk merayakan ulang tahunnya … tapi malam itu, sakitnya bertambah parah … dan rumah sakit lokal tidak memiliki peralatan yang memadai … kondisinya tak tertolong lagi,” papar Dimas lalu tercekat diam. Flo mengusap-ngusap bahu Dimas. “Apakah kita harus mengadakan upacara atau semacamnya gitu?” tanya Flo. “Kita sudah melakukan itu Flo,” jawab Dimas. Flo berjongkok mencium papan kayu nisan Yerin, berbisik, “Gue akan jaga cowok lo Rin. Lo baik-baik di sana ya, jangan datang-datang lagi.” Tiba-tiba dari balik nisan muncul wajah Yerin dengan mata melotot disusul dua tangan bersimbah darah yang mencoba mencakar wajah Flo. Flo menjerit menghindar hingga membuatnya jatuh terduduk. Dimas pun terpekik kaget melihatnya. Bibir Yerin menyeringai dan berbisik serak, “Jangan coba-coba Flo … gue akan menjadi mimpi buruk lo!” Dimas segera membantu Flo berdiri dan mereka pun bergegas pergi. Yerin pun tertawa seraya mengusap darah dari hidungnya. *** Malam itu Flo belum bisa tidur. Ia duduk di pinggir tempat tidurnya menghadap kaca rias. Melihat pantulan dirinya. Berpikir tentang dirinya, Dimas dan duri di tengah-tengahnya, Yerin. Sebuah hubungan tak lazim antara aku, kau dan dia yang telah menjadi arwah penasaran. Kisah cinta yang tak logis, dicemburui oleh setan mantan kekasih. Bagaimana caranya mengusir mantan yang telah menjadi setan? Bagaimana caranya melanjutkan kisah cintanya tanpa dihantui arwah penasaran? Flo terus berpikir hingga ia menyadari. “Satu-satunya jalan lo harus berani, ya lo harus berani,” tegas Flo pada pantulan dirinya di kaca rias. “Berani untuk berhadapan dengannya meski wajahnya mengerikan, berani menyampaikan apa yang lo rasakan … gimana Flo, apakah lo berani?!” seru Flo pada dirinya sendiri. Flo diam sebentar, mengumpulkan seluruh gemuruh semangat dalam dadanya lalu menatap tajam pantulan dirinya dengan sunggingan senyum di ujung bibirnya. *** Yongki dan Yuli menatap Flo. “Lo yakin Flo?” tanya Yuli memastikan. Flo mengangguk. “Lo ngasih tau Dimas soal ini ga?” tanya Yuli lagi. Flo menggeleng, “Ini masalah perempuan.” Yuli menatap Flo cemas. Yongki menepuk pundak Yuli, berkata, “Eh Tuyul udah dech lo tenang aja nek, kemarin itu Flo nelpon akyu, dia udah siap dan berani kok … lagian ‘kan ada akyu yang melindungi dia dari ruangan sebelah.” Yuli menatap Yongki, “Lo yakin bisa jagain dia? Gue serius nih, soalnya kemarin aja lo dikeplak sama ‘tu arwah.” Yongki mendengus kesal, lalu nyerocos, “Hiiiih, ini orang demen banget dech mengungkit kesalahan yang lalu … eh Tuyul, sekarang akyu sudah lebih paham soal jampi-jampi tentang arwah penasaran … akyu itu tipe orang yang belajar dari kesalahan masa lalu … emang situ, ga pernah belajar, iiiih makanya ga diwisuda-wisuda tuch.” “Dih apa hubungannya Tongki,” balas Yuli. “Udah, udah, ini kapan mau dimulainya?” sela Flo. “Ini ni si Tuyul! … Ok kita mulai sekarang ajach, lo duduk di sini Say,” tunjuk Yongki pada kursi yang berada di tengah ruang dan kaki-kaki kursinya telah dibungkus oleh kain-kain berwarna merah dengan garis emas di sampingnya. “Kain ini akan membuat arwah penasaran ga berani merasuki lo,” terang Yongki ketika Flo memperhatikan kain tersebut. Flo pun duduk di kursi. “Duduk tenang ya Say … jangan takut, semenyeramkan semenyeramkannya wajah si Yerin masih lebih seram wajah dia,” bisik Yongki sambil melirik pada Yuli ketika menyebut “dia”. Flo tertawa jadinya. “Heh ada apa ini ketawa ga ngajak-ngajak?” cetus Yuli. “Kepo ih,” cibir Yongki, “akyu ke ruang sebelah ya Say.” Flo mengangguk, Yongki pun melangkah keluar ruangan. Yuli mendekati Flo bertanya, “Tadi si Tongki ngomong apaan sampe lo ketawa begitu?” Flo tersenyum, “Katanya dia bangga punya temen kayak lo.” “Si Tongki ngomong begitu? Ga percaya gue,” cetus Yuli, Flo tertawa. “Flo, kalau ada apa-apa lo kabur aja ya … atau lo teriak aja, gue ada di sebelah, ok?” lanjut Yuli. Flo mengangguk. Setelah Yuli keluar ruangan, Flo hanya berada sendiri di ruangan itu. Cahaya lampu yang disengaja tidak terang membuat pojok-pojok kamar menjadi gelap. Flo menghembuskan nafasnya berkali-kali, mengatur rasa berdebar jantungnya. Ia mencoba melawan ketakutannya dengan bertekad untuk menemui Yerin. Sementara itu di ruangan sebelah. Puluhan lilin berwarna merah telah disiapkan, begitu juga dupa-dupa besar telah dinyalakan dan ditempatkan menghadap tujuh arah mata angin. Yongki pun telah bersiap dengan memakai baju khusus yang terbuat dari kain merah dengan garis emas di sampingnya. Ia bersila dikelilingi lilin-lilin merah tersebut. Di hadapannya ada kotak kayu yang berisikan tiga buah dupa berukuran lebih kecil berwarna hitam yang asapnya menebarkan harum bunga kamboja bercampur kayu gaharu. Di sebelah dupa itu, terdapat tumpukan kertas berwarna kuning terang dengan tinta hitam bertuliskan “kehidupan setelah kematian” dalam aksara Tionghoa yang telah disiapkan Yongki untuk menangkal hal-hal buruk. “Gue khawatir sama Flo, dia itu penakut banget sama hal-hal begini Yong,” celetuk Yuli. “Ritual pemanggilan ini, dia yang minta sama akyu di telepon kemarin, akyu pikir dia sudah siap dan berani,” tanggap Yongki, “tenang Yul ga akan ada apa-apa … Yul tolong nyalain lilin-lilin merah itu yah.” Yuli menuruti perintah Yongki, mengambil korek api dari atas meja dan mulai menyalakan satu persatu lilinnya. “Duh Tuyul … kalau lo pake korek api gitu buat nyalain lilinnya, sampe Superman pake kolor di dalem juga ga bakalan selesai ih! Tuch di atas meja ada tongkat pemantik api, jadi lo lebih mudah buat nyalain apinya ckckck,” sahut Yongki geleng-geleng, Yuli menepuk jidatnya. “Bener juga lo Yong,” cengir Yuli. Beberapa saat kemudian. Yongki telah mengatupkan tangannya di d**a, matanya terpejam sedang bibirnya berkomat-kamit. Asap dari dupa-dupa besar itu mulai bergoyang padahal di dalam ruangan tidak ada angin bertiup. Pelan dan semakin keras. Yuli menjadi tegang melihatnya. “Yerin sudah di sini,” bisik Yongki. Di ruangan sebelah. Flo terdiam dan terpaku melihat dinding di hadapannya memunculkan bercak darah yang semakin lama semakin melebar. Darah di dinding itu mulai menetesi lantai. Jantung Flo berdegup cepat. Ia terus meyakinkan dirinya kalau ia berani. Bercak itu menjadi besar, lama kelamaan darah telah menggenangi lantai. Mata Flo terus menatap bercak darah di dinding itu, sebentar lagi, Yerin akan muncul dari situ. Dada Flo kembang kempis. Tegang bercampur takut menjalarinya. Tangannya gemetar. Kerongkongannya serasa kering. Seumur hidupnya ia belum pernah mengundang arwah penasaran untuk bertemu. Bercak darah di dinding itu semakin basah dan likat. Warna merahnya mulai menghitam. Ini saatnya Yerin muncul. Flo mempersiapkan dirinya. Flo menatap dinding itu. Tiba-tiba. Gasp! Flo terkesiap menahan nafasnya. Ia merasakan kedua bahunya dicengkeram keras dari belakang. Ia melirik pada kedua bahunya. Dua buah tangan berlumuran darah dengan kuku menguning berada di bahunya. Darah dari kedua tangan itu membasahi bahu Flo. Kini d**a Flo naik turun dengan cepat. Hhhhhhhhhh. Deru nafas dingin itu bisa dirasakan Flo di punuk lehernya. Yerin ternyata muncul dari belakangnya! “Surprise … halo pelakor, punya nyali juga lo,” bisik parau Yerin di telinga Flo. Flo mengendalikan rasa takutnya. Ia berusaha menenangkan dirinya. Gue berani, gue berani, Flo mengulangnya terus dalam pikiran. “Gue … mmm … mau ngomong sama lo!” cetus Flo berani meski masih terdengar gemetar. Srek, srek. Flo mendengar langkah Yerin di belakang punggungnya. Srek, srek. Flo melirik Yerin yang sedang berjalan di sampingnya dengan menyeret tiang infusnya. “Tiang infus b******k bikin ribet aja! Bisa ga sih ni tiang infus diilangin? Penulis cerpennya iseng banget pake ngasih tiang infus sama gue huh! Bisa ga sih gue kayak si Kunti yang ga bawa apa-apa, bisa kesana kesini, melayang-layang cepet gitu!?Hhhhhh!” rutuk Yerin kesal sambil menggoyangkan tiang infusnya dengan kasar. Yerin kini telah berdiri di depan Flo menyeringai. Darah dari hidungnya menetes. “Gue di sini … apa yang mau lo omongin?” Flo memberanikan diri menatapnya. “Pertama-tama … gue bukan pelakor … lo itu sudah setahun mati Yerin ….” ujar Flo masih terbata-bata tapi perlahan ia mulai bisa menguasai ketakutannya. “Kedua, gue kesini mau menawarkan kesepakatan … mmm … katakan apa yang lo mau? Apakah lo mau diadakan upacara besar untuk memperingati kematian lo? Apakah lo mau gaun yang bagus untuk mengganti baju pasien lo itu? Gue akan coba penuhi … tapi setelah semua itu gue penuhi, lo harus pergi dan jangan ganggu gue dan Dimas lagi,” lanjut Flo kali ini lebih lancar dan tegas. “Hahahaha,” ledek Yerin tertawa keras, “Flo kecil mau membuat kesepakatan dengan setan?” Flo mengangguk, “Ya, tapi bukan dengan setan … sama lo, arwah penasaran.” Sementara itu di ruangan sebelah. Harum bunga kamboja bercampur kayu gaharu masih mengambang di udara. Yongki masih komat kamit sambil satu persatu membakar kertas berwarna kuning. Kertas yang terbakar itu mengeluarkan percikan-percikan kuning keemasan lalu kertas itu hilang menguap begitu saja tidak meninggalkan abu. Yuli terkesima melihat itu, mulutnya sampai terbuka lebar. Kembali ke ruangan Flo. “Hhhhehehe, dan kalau gue menolak kesepakatan itu, lo mau apa? Membunuh gue? Gue udah mati inget? Hehehehe.” Flo menggeleng, “Lo tu aneh, lo nyadar lo udah mati, kenapa ga berbaring tenang aja, di alam lo? Masih aja ngengganggu kita.” “Karena perempuan yang cemburu itu tidak tenang Flo dan arwah yang tidak tenang akan terus menganggu.” “Trus waktu di toilet kampus, itu lo ‘kan yang nulis di kaca wastafel? Kalau bisa ngomong langsung kayak gini kenapa ga ngomong aja waktu itu?” heran Flo. “Supaya tampak menyeramkan seperti di film-film horror dong, lagi pula gue seneng lihat lo ketakutan! Dan heh! Jangan atur-atur gue, terserah gue mau gimana!” bentak Yerin dengan mata melotot hingga tiang infusnya bergoyang-goyang. “Ok, ok … sekarang supaya arwah lo tenang … apa yang lo mau?” Yerin mendekatkan wajahnya pada Flo. Flo sedikit menarik kepalanya. Gentar juga dirinya didekati wajah pucat, sorot mata tajam dengan hidung yang menetes darah. “Gue mau lo jangan deketin Dimas,” tekan Yerin. Flo menghela nafas, “Kalau itu gue ga bisa penuhi.” “Apa lo bilang?” Yerin terkejut. Flo berdiri dari duduknya. “Berapa kali gue harus bilang sama lo … lo sudah setahun mati, Dimas sudah berduka selama itu … sekarang saatnya Dimas melanjutkan hidupnya, dan gue yang akan mendampinginya … lo adalah masa lalunya, gue adalah masa depannya,” cecar Flo seraya berjalan mendekati Yerin. Yerin terlihat mundur ketika Flo mendekatinya. Nyali Flo semakin membesar. “Kalau lo betul-betul sayang sama Dimas, lo harus merelakan dia melanjutkan hidupnya dan bahagia … asal lo tau, gue tidak bermaksud menjadi pengganti lo, gue juga tidak merebut Dimas.” Yerin mulai menggelengkan kepalanya dengan gelisah. “Gue mencintai Dimas, Dimas pun mencintai gue. Mau lo halangi gimana pun, kita akan terus jalan. Cinta kita kuat, cinta lo sudah selesai. Lo bisa ganggu kita tapi lo ga bisa ganggu cinta kita. Lo akan selalu melihat kemesraan kita setiap hari, lo akan melihat kita menikah, punya anak, dan bahagia. Lo akan lihat kalau kita ga akan perduli sama semua gangguan lo! Dan itu akan semakin menyiksa lo, membuat lo ga tenang sampai kiamat! Jadi gue minta baik-baik, tolong Yerin, kembalilah ke alam lo!” Yerin berteriak kencang, parau dan marah, “Tidaaaaaakkkk!” Tiba-tiba tubuh Flo terlempar menghempas dinding. BRUK!! Di ruangan sebelah. Mata Yongki membelalak, komat kamitnya terdiam. “Ada apa Yong? Ada apa? Apa yang terjadi? Lo lihat sesuatu?” tanya Yuli panik. “Flo butuh kekuatan, dia ga bisa lawan arwah penasaran yang marah,” jelas Yongki. “Hah? Kalau gitu gue akan bantu Flo,” cetus Yuli bersiap pergi ke ruangan Flo. “Percuma lo ga akan bisa apa-apa melawan yang tak kasat mata Yul, sebaiknya lo jaga lilin-lilin itu jangan sampai mati!” perintah Yongki, “akyu akan bantu dia dari sini,” lalu ia berkomat kamit lagi dan membakar kertas-kertas kuning itu dengan lebih cepat. Sementara itu. Flo merasakan punggungnya sakit, tapi ia berusaha berdiri. Yerin bergerak mendekati Flo dengan wajah yang semakin pucat, rambut yang semakin kusut dan amarah yang semakin terlihat dari sorot matanya. “Tidak ada yang bisa merebut Dimas dari gue!!” murka Yerin dan mencekik Flo dengan satu tangan. Matanya melotot tajam tapi keberanian Flo telah terkumpul, ia tak gentar menatap balik sorot mata hitam Yerin. “Lo ga akan bisa bersaing sama gue Yerin,” ucap Flo dengan suara tercekik. “Kenapa?” “Lo juga mungkin lebih cantik dari gue, tapi lo tetep ga bisa memiliki Dimas!” “Kenapaaa??” geram Yerin, dan Flo semakin tercekik. “Karena LO SUDAH MATI, GUE BELUM!!” teriak Flo. Yerin terkejut mendengarnya. Ia menggelengkan kepalanya keras hingga terdengar bunyi gemeretak dari lehernya. Ia tak terima itu tapi ia tahu apa yang dikatakan Flo benar. Yerin pun menjerit sedih dengan darah memuncrat dari mulut juga hidung, membuat Flo menutup wajahnya, bersamaan di ruangan sebelah terjadi hembusan angin keras yang menghamburkan lilin-lilin serta melontarkan jilatan api dari sumbu-sumbunya yang menyambar Yongki serta mendorong Yongki hingga jungkir balik ke belakang. Yuli terpekik melihat itu. Beberapa saat kemudian. Asap mengambang memenuhi ruangan. Lilin-lilin yang telah padam tampak jatuh berantakan dan bergeletakan di lantai. Yuli segera mendekati Yongki yang terlentang diam dengan bajunya mengeluarkan asap. “Tidak, tidak … Yong … Yongki bangun Yong,” panik Yuli lalu memeluk Yongki. Yuli menepuk-nepuk pipinya, berusaha membangunkannya, “Yong, Yong bangun!” Tidak ada respon. Yuli segera membaringkan Yongki dan melakukan CPR, tapi tetap tidak ada respon. “Ya Tuhan … Yongki kenapa?” seru Flo. Yuli menoleh, “Flo! Lo ga apa-apa?” Flo memberi tanda ia baik-baik saja meski punggungnya terasa sakit. Yuli celingukan, “Mana si Yerin?” Flo menggeleng, “Ga tau … tiba-tiba dia ilang gitu aja.” “Berarti lo berhasil membunuhnya?” tanya Yuli. “Gimana caranya lo bisa membunuh sesuatu yang sudah mati Yul? Mereka ga bisa dibunuh, mungkin hanya pergi,” jawab Flo lalu menatap Yongki, “apa yang terjadi sama Yongki?” Yuli mengusap rambut Yongki dan menunduk sedih. “Tadi … waktu lo teriak di ruangan sebelah, di sini ada angin kenceng banget bikin api dari lilin-lilin itu menyala besar, membakar dan melempar Yongki … gue ga bisa nyelametin dia Flo ….” papar Yuli lirih, “kita emang sering berantem … tapi sejak SMA, Yongki ini sahabat terbaik gue … dia selalu ada buat gue, dia ga itungan kalau ngebantu orang … dia ngeselin tapi ngangenin … dia reseh tapi perhatian … dia bawel tapi baik … Ya Tuhan Yong, umur lo pendek banget.” Flo mengusap-ngusap bahu Yuli memberi tabah. “Sabar Yul … nanti kita kuburin Yongki sebelahan sama kuburan Yerin aja,” cetus Flo. “Tidaaaak, akyu tidak mau ih!” pekik Yongki panik dan langsung bangun. Flo tertawa, Yuli terkejut. “Heh, gue pikir lo metong Tongki!” ketus Yuli. “Iiiih masa Cucudewa kalah sama arwah penasaran siich … tidak lach ya,” sahut Yongki tertawa. “Jadi lo pura-pura metong tadi itu?!” tukas Yuli. Yongki nyengir, “Panik ga, panik la ya … iiih akyu senang bisa ngerjain Tuyul nek hihihi … Flo ajach tau akyu pura-pura, masa lo engga sich.” Yuli langsung mengusap-ngusap bibirnya, “Puih! Mana tadi udah gue kasih CPR pula, mana mulut lo bau dupa!” Yongki melotot, “Dih emang mulut lo engga, mulut lo tuh bau keringet laler … akyu sampe tahan nafas nek!” Flo tertawa lalu merangkul kedua sahabatnya yang masih berseteru itu. *** Sebulan kemudian. Flo, Dimas, Yuli dan Yongki menatap makam Yerin. Mereka baru selesai berziarah, berdoa dan menaburkan bunga di pusaranya. Makam Yerin terlihat lebih bersih dan rapih dengan batu nisan yang baru. Dimas tersenyum bercampur haru menatap nisannya. Flo menggenggam jemari Dimas. “Kita ga akan melupakannya Dim, kita akan terus mengirim doa buat Yerin,” ujar Flo menenangkan hati Dimas. Dimas mengangguk dan menggenggam jemari Flo lebih erat. “Udah ya Say, jangan bangkit-bangkit lagi, jangan penasaran lagi, cape tau ich, bawa-bawa tiang infus kemana-mana,” pesan Yongki. “Eh Yong, kira-kira arwahnya Yerin ada di sini ga?” bisik Yuli. Yongki menatap arwah Yerin yang sejak tadi berdiri di bawah pohon memperhatikan mereka. “Engga, akyu ga lihat … kayaknya dia udah tenang di sana Yul,” jawab Yongki lalu tersenyum pada arwah Yerin. Kemudian, mereka pun melangkah pergi meninggalkan makam Yerin. Komplek pemakaman tampak sepi. Angin mendung bertiup pelan dan dingin. Berhembus melewati makam-makam dari tanah merah ataupun makam-makam yang telah didinding, melewati papan nisan dari kayu ataupun nisan-nisan dari batu. Beberapa bunga kamboja berguling-guling di atas tanah terbawa angin lalu berhenti tersebar di antara makam-makam. Menjelang sore hujan mulai merintik, menyejukkan jiwa-jiwa yang berbaring sendiri, terbalut sepi. Tidak ada kawan, tidak ada keluarga. Tidak ada bincang-bincang. Tidak ada percakapan. Rumah terakhir untuk kita semua. Di pojok pemakaman, arwah Yerin tampak berdiri di depan makamnya sendiri. Tak lagi memegang tiang infus dan telah memakai gaun putih panjang bukan lagi baju pasien. Arwah Yerin menatap batu nisannya yang baru. Berukir kalimat, YERIN DEWINA binti HUSEIN. Lahir: 20 Mei 1997. Wafat: 20 Juni 2020. DI BAWAH TANAH INI BERBARING SESEORANG YANG PENUH CNTA, HANGAT DAN AKAN SELALU MENGISI KENANGAN KAMI. Kemudian Yerin menatap kepergian ke empat orang tadi. Ia pun menyeringai senang. TAMAT
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN