ARWAH YANG MARAH

1761 Kata
Flo melempar tasnya ke atas meja belajar. Sebagian buku dari dalam tasnya berhamburan. Ia lalu melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Hatinya bimbang sejak pulang dari ruko Yongki tadi. Di kepalanya terus melintas bolak-balik dua pilihan seperti yang ditawarkan oleh Yongki dan Yuli. Mana yang harus dipilihnya. Ia terlalu takut untuk melawan arwah penasaran tapi ia juga tidak mau kehilangan pria yang baru saja membuatnya mabuk kepayang. Flo menimbang-nimbang. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berdiri di depan kaca riasnya. Flo menatap tajam matanya sendiri. “Lo pasti bisa Flo, lo harus lawan Flo,” ucapnya pada dirinya sendiri untuk menaikkan keberaniannya. “Lo manusia Flo, dia hanya arwah penasaran, lo itu makhluk yang sempurna, tapi … dia menakutkan, hiiiii,” pekik Flo sambil merinding. Flo mengusap-ngusap wajahnya. Ia memulai lagi dari awal, berdiri tegak, menatap kembali matanya sendiri di kaca rias. “Kalau lo mundur, lo akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cinta Dimas, dan Dimas akan semakin terpuruk dalam kesedihannya, bukankah, lo mendekati Dimas juga untuk menolongnya dari kesedihan yang berkepanjangan?” ucap Flo pada dirinya sendiri di pantulan cermin, “jadi … lo harus berani Flo, lo harus berani! Dia cuma setan, setaaaannn.” Tok tok tok!! “Aaahhh!!” jerit Flo terkejut mendengar suara itu hingga melompat ke atas tempat tidur. Tok tok tok. Flo baru tersadar kalau itu adalah suara ketukan di pintu kamar kosnya. “Flo ada temen lo nih!” seru teman satu kosannya. Flo menghela nafas lega ternyata bukan setan. Ia membuka pintu kamarnya dan terkejut di hadapannya berdiri Dimas. “Eh … eung … ngapain lo kesini? Dan lo tau dari mana kosan gue ini?” heran Flo. “Gue pikir lo sakit … dan gue tau kosan lo dari i********: lo, lo pernah posting foto waktu lo pindah kosan ke sini, ada lokasinya, gue tinggal cari di map …” jelas Dimas. “Oooh … tapi bukannya lo ga punya IG ya?” tanya Flo. Dimas mengusap rambutnya seperti yang malu, “Mmm, gue baru bikin lagi kemarin.” Flo tersenyum, “Ya udah … masuk sini.” Dimas mengerutkan kening. “Memang tamu cowok boleh masuk?” tanyanya ragu. Flo mengangguk, “Selama ga nginep dan pintu kamarnya tetep terbuka.” Dimas pun melangkah masuk setelah melepas sepatunya. “Welcome in my crib,” sambut Flo. Dimas tersenyum dan tampak canggung. “Mau duduk di mana aja boleh silahkan,” lanjut Flo, “jadi ada keperluan apa seorang Dimas datang ke kosan hamba selain karena mengira hamba sakit?” “Cuma itu aja, gue pikir lo sakit,” jawab Dimas. Flo manggut-manggut, “Oooh, beneran?” “Iya, gue pikir lo ‘tu sakit,” tegas Dimas. “Beneran, ga ada keperluan lain?” “Ga, gue pikir lo sakit.” “Lo udah bilang itu tiga kali Dim,” senyum Flo. “Lo juga nanyain hal yang sama udah tiga kali Flo,” kilah Dimas. Flo tertawa, Dimas pun ikut tertawa. “Kirain kangen,” gumam Flo. “Apa Flo? Lo ngomong sesuatu?” tanya Dimas. Flo menggeleng dan melanjutkan tawanya lagi. “Gue boleh tau nomer WA lo?” lontar Dimas membuat tawa Flo terhenti. “Kemarin itu ‘kan cuma gue yang ngetik nomer gue di hape lo, tapi gue belum punya nomer hape lo,” jelas Dimas melihat Flo seperti kaget. Dalam hati Flo tak menyangka, mungkin setelah kekasihnya, baru dirinyalah yang dimintai nomer telepon oleh Dimas. Flo pun tersenyum dan membuka telapak tangannya, “Mana hape lo?” Dimas menyerahkan telepon genggamnya. Flo mulai mengetik nomernya. Sebuah bercak darah muncul di atas ranjang. Lama kelamaan bercak itu semakin melebar hingga membasahi sebagian tempat tidur. Muncul juga sebuah tangan dari bercak tersebut, disusul tangan berikutnya, kemudian menyembul sebuah kepala berwajah perempuan pucat, dengan rambut kusut. Matanya menatap tajam. Mulutmya terbuka lebar dengan darah yang menetes dari hidungnya. Hhhhhhhhhh. Dimas berdiri terpaku melihat kejadian itu. Sedang Flo menjerit sekerasnya melihat arwah penasaran itu keluar dari ranjangnya yang penuh darah. Ia bermaksud berlari keluar kamar tapi tiba-tiba pintu kamar menutup keras lalu mengunci dengan sendirinya. Flo tak bisa kemana-mana, ia berdiri gemetar ketakutan. Dimas terkesima tak bisa berkata melihat sosok itu. “Yerin?” lirih Dimas tak percaya setelah menyadari sosok di depannya. Yerin menyeringai, “Halo Sayang.” Suaranya parau. Dimas gemetar dan tak percaya melihat penampilan Yerin yang menyeramkan itu sembari menyeret-nyeret tiang infus. Wajahnya pucat, rambutnya kusut dengan darah menetes dari hidungnya membasahi baju pasiennya dan lantai kamar. Srek, srek. Yerin melangkah mendekat. Dimas yang ketakutan mundur beberapa langkah. Srek, srek. Kemudian Yerin menghentikan langkahnya menatap Dimas. “Kenapa takut Sayang? Aku berantakan ya?” ujar Yerin seraya menarik-narik rambutnya yang kusut mencoba merapihkan tapi rambutnya malah tercerabut dari kulit kepalanya. Flo bergidik melihatnya, ia segera memalingkan mukanya dan merapatkan tubuhnya pada Dimas. Tubuhnya gemetar. Srek. Yerin melangkah lagi. Tiang infus itu diseretnya juga. Dimas menggenggam jemari Flo untuk menenangkannya. Yerin mendelik pada genggaman itu lalu menatap tajam Dimas, memohon, “Sayang, aku pacarmu bukan dia. Jangan sentuh dia.” Dimas menggelengkan kepala, berkata, “Ga ini ga mungkin … ini ga nyata … ini hanya halusinasi.” “Hhhhhhhh!” Yerin mendesah keras membuat Flo dan Dimas tersentak kaget. “Aku nyata Dimas, seperti dia!” tunjuk Yerin pada Flo dengan marah. Srek. Yerin melangkah lagi semakin dekat. Dimas mengangkat tangannya, “Stop di situ … stop … kenapa kamu bisa begini, aku … aku ga ngerti.” Yerin menggerakkan kepalanya ke kiri ke kanan, menggeretakkan lehernya dan tak sengaja ia menoleh pada meja belajar yang berada di sebelahnya lalu melihat judul sebuah buku, “Kamasutra”. Seketika mata Yerin melotot. “Oh jadi ini yang mau kalian lakukan di sini?!” bentaknya parau disusul buku tersebut tiba-tiba terlempar menghantam tembok dengan keras. Dimas menggeleng, “Tidak Yerin … kamu salah paham.” Flo memberanikan diri untuk bicara, dengan kepala yang tetap tertunduk dan bibir yang gemetar, “Itu … buku itu gue yang ambil … dari perpus … salah ambil sebetulnya … jadi ga ada … hubungan sama kedatangan Dimas kesini.” Srek. Yerin melangkah lagi dan kini telah berdiri di hadapan Flo. Ia mengangkat dagu Flo yang tertunduk dengan tangan kirinya yang berlumur darah lalu menatapnya tajam, darah dari hidungnya mengucur. Bau anyir menyengat hidung Flo. Flo memejamkan mata juga menahan mualnya. “Kenapa Flo, illfeel lihat darah? Atau illfeel lihat gue?” sinis Yerin. Flo menggeleng pelan dengan tubuh gemetar. “Sebelum ancur gini gue juga cantik kayak lo, bahkan jauuuh lebih cantik … ga pake baju pasien dan ga bawa-bawa tiang infus gini!! Arrgghh,” raung Yerin mengguncang-guncang tiang infusnya kesal. “Tapi gue ga pernah ganggu pacar orang Flo!! Kalian selingkuh!” lanjut Yerin berteriak. “Selingkuh? Tapi kamu sudah mati Sayang, setahun lalu,” sela Dimas. Flo jadi teringat kalimat Yongki, “ … biasanya selain punya tujuan, arwah penasaran itu kadang ga sadar kalau dia itu udah metong.” Ternyata Yongki Cucudewa itu benar. Yerin mendelik pada Dimas. Kini ia mendekati Dimas, hingga wajah mereka dekat. Dimas menelan ludahnya seraya menarik mundur kepalanya. “Kenapa Sayang? Kenapa ga mau deket lagi sama aku? Apakah aku terlalu menyeramkan buat kamu? Oh Dimas, betapa teganya kau membiarkan aku mati sendiri malam itu!” geram Yerin. Dimas menggeleng, “Ga Yerin, aku ada bersamamu malam itu … aku tidak meninggalkanmu … malam itu kita bersama, di rumah sakit tua di pinggir kota, kamu ingat itu … dan kamu … kamu mati di meja operasi.” Yerin menggeleng, “Tapi aku belum mau mati Dimas … aku masih muda, aku belum puas hidup … dan kita mau menikah bukan?” Dimas mengangguk sedih, “Iya, iya Sayang … ini takdir … ini bukan keinginan kita Yerin.” Flo trenyuh mendengar percakapan itu, ia melepas perlahan genggaman tangannya dengan tangan Dimas seiring Yerin melangkah mundur dengan wajah sedih. “Kenapa … kenapa … ini bukan takdir yang aku minta Dimas! Ahhhh!!” jerit Yerin kecewa. Dimas hanya bisa terdiam. “Apakah kamu berduka untukku Dimas?” lirih Yerin. “Setiap hari … aku patah Yerin ….” sambat Dimas. “Tapi kenapa kau sekarang bersama dia?” tunjuk Yerin pada Flo. “Sudah setahun lebih Yerin … aku harus melanjutkan hidupku …” balas Dimas. “Lalu aku apa, harus melanjutkan matiku gitu? Hahahaha,” sinis Yerin. “Yerin, tempatmu bukan di sini … seharusnya kamu tenang di sana,” ujar Dimas. “Cewek mana yang bisa tenang kalau pacarnya digangguin?” dengus Yerin. “Demi Tuhan Yerin, kamu sudah mati!” seru Dimas. “Memang kalau sudah mati, aku ga boleh cemburu?” balas Yerin. Dimas menghela nafasnya lalu mengusap-ngusap wajahnya, kemudian menatap Yerin dan berkata lagi, “Yerin, meski aku bersama Flo … itu bukan berarti aku tidak mengingatmu lagi … kamu akan selalu aku ingat dan kenangan kita akan selalu menjadi bagian terbaik dari hidupku, tapi ini adalah waktunya aku melanjutkan hidup, bersamanya.” Dimas pun menarik tangan Flo, menggenggam jemarinya. Flo terkejut tapi ia pun membalas genggaman Dimas lebih erat untuk menunjukkan kalau mereka kini telah bersama. “Oh so sweet … kalian boleh bersama … tapi kamu harus memutuskan aku dulu Dimas, kita masih jadi kekasih saat aku mati ‘kan?” ujar Yerin. “Baiklah, kalau begitu---“ Dimas baru mau membuka mulutnya tapi Yerin telah memotongnya. “Ups, kamu tidak bisa memutuskan aku, karena aku sudah mati bukan? Hahahaha,” ledek Yerin. “Dan buat lo Flo! Kalau lo mau ngerebut pacar gue, langkahin dulu mayat gue! Ups, gue udah mati tapi belum jadi mayat, gue ‘kan arwah penasaran … jadi lo ga bisa ngelangkahin gue hahahaha,” ledek Yerin lagi lalu mendadak lampu di kamar padam. Dimas dan Flo terkejut. Di dalam kamar begitu hening. Setelah menunggu beberapa saat dalam diam dan sepi, Flo segera menyalakan lampunya lagi. Yerin sudah tidak ada di dalam kamarnya, juga tidak terlihat ada darah yang menggenang di tempat tidur ataupun di lantainya. Semua kembali rapih seperti semula. Flo melihat Dimas yang duduk tercenung. “Lo ga apa-apa Dim?” tanya Flo. “Gue … gue ga ngerti … tadi itu bukan halusinasi ‘kan Flo?” lirih Dimas. “Awalnya juga gue berpikir gitu … tapi sayangnya bukan Dim …” sesal Flo. “Ya Tuhan …” desis Dimas mengusap-ngusap rambutnya, “tapi gimana bisa?” Flo mengangkat bahunya, “Hal-hal seperti ini gue juga ga ngerti … menurut lo apa yang harus kita lakukan Dim?” Dimas menatap dalam mata Flo, “Flo, lo percaya sama kekuatan cinta ‘kan?” Flo mengangguk dan tersenyum. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN