Mereka berdua sampai di depan sebuah ruko.
Di atas pintu masuk ruko yang dilapisi besi teralis itu, terdapat sebuah papan nama yang berukuran cukup besar, seperti papan nama milik dokter, hanya saja papan nama yang satu ini dikelilingi lampu kerlap kerlip. Pada papan namanya tertulis;
DOKTER ALAM GAIB
Yongki Cucudewa (Sarjana Pergaiban.)
Menerima Konsultasi Khusus Dunia Mistis dan Gaib. Tidak mengobati santet, tidak sudi mengirimkan santet meski mampu.
Hubungi 081378910 untuk jadwal praktek.
“Papan namanya gemoy ya dan gue juga baru tau kalau indigo itu ada titelnya,” gumam Flo setelah membaca papan nama tersebut. Yuli nyengir lalu menekan bel pada pintu ruko. Tak lama pada sebuah lubang pengintip di pintu tampak dua mata memperhatikan mereka. “Sudah punya janji belum?” tanya orang di balik pintu tersebut dengan suara berat. “Hadeeeh, udah deh, suara lo ga usah diberat-beratin gitu, gue udah apal sama suara lo Tongkiiiii … buruan buka pintu, gue butuh bantuan lo nih!” cetus Yuli. Terdengar suara kunci pintu yang dibuka, disusul suara gembok pintu dengan rantainya lalu selot pintu tiga kali, setelah itu pintu baru terbuka.
“Masih belom aman daerah sini apa? Sampe segitu banyak kuncinya,” ledek Yuli. “Heiish iyalah nek harus aman dong ah, akyu ‘kan hidup sendirian, apalagi penjahat sekarang, hiiiii, lebih s***s dari setan nek,” balas si pria yang membuka pintu dengan masker bengkoang di wajahnya dan jari jemari lentiknya yang bergoyang-goyang ketika ia bicara. Pria itu lalu tersenyum pada Flo mempersilahkan masuk.
Di dalam ruko, Flo melihat banyak lilin-lilin merah berukuran besar di atas meja, juga kain-kain berwarna merah terang dengan garis emas di sampingnya yang tergantung di dinding sepanjang ruko. Berikut dupa kecil yang menyala di setiap pojok ruang. Lalu di dalam lemari kaca besar, terlihat banyak persediaan dupa, lilin berbagai ukuran, kain-kain merah dengan garis emas, lonceng-lonceng, bokor kuningan, pena kayu, botol tinta dan tumpukan kertas-kertas kuning dengan tulisan Tionghoa.
“Flo ini Yongki, Yongki ini Flo,” ujar Yuli memperkenalkan mereka dengan cepat dan singkat, “nah sekarang ada roti ga lo? Gue laper nih.”
“Tuh roti ada di lemari … hiiiih lo tuch kebiasaan dech, kalau mau kesini bawa temen atau klien, telpon dululah nek … sekarang ‘kan jadwal akyu pake masker, jadi ga enak ih,” tukas Yongki pada Yuli seraya menepuk-nepuk masker bengkoang di wajahnya.
Flo tersenyum, “Ga apa-apa kok Mas.”
Pria bermasker bengkoang itu seketika menatap Flo, “Hey … apa lo bilang? Mas? Haduuuch duuch … cantik gini dibilang Mas … tolong Tuyul, tolong bilangin temen lo nich, akyu jadi pusing, pusiiiiing!” Flo menutup mulutnya dengan tangannya, sepertinya ia salah bicara, ia jadi tak enak.
Yuli tertawa dan berkata sambil mengunyah roti, “Flo, jangan panggil dia Mas … namanya ‘kan Yongki, jadi panggil aja Om Bewok hahahaha.” Yongki yang sedang membersihkan maskernya langsung melotot pada Yuli yang tengah meledeknya.
“Maaf Om---“
Yongki mengangkat tangannya di depan wajah Flo, jemarinya bergoyang-goyang membuat Flo tidak melanjutkan kalimatnya. “Ingat ya Say … panggil akyu, Yongki … cukup Yongki, okeh?” tegasnya. Flo nyengir, mengangguk, “Ok.”
“Jadi Yong … gue bawa temen gue ini---“
“Ga usah dilanjut … ga usah lo omongin Yul … akyu sudah tau, kenapa lo bawa Flo kesini, masa Yongki Cucudewa si Dokter Alam Gaib ga tau siiiiiccch,” potong Yongki.
“Mantap! Tapi … perasaan kemaren-kemaren nama lo itu Yongki Putragaib deh … trus ganti jadi Yongki Rajadewa … kenapa sekarang ganti lagi jadi Yongki Cucudewa? … Kayaknya besok jadi Yongki Tetangganya Dewa nih hahaha,” kelakar Yuli.
“Hmm! Gimana lo ajach Tuyul! … Sini Flo, ikut akyu,” ajak Yongki. Flo mengikuti Yongki disusul Yuli yang masih cengar cengir. Mereka duduk bersila di karpet merah dan di tengah-tengah mereka terdapat sebuah meja persegi panjang berukuran kecil. Di atas mejanya terdapat dupa beserta satu lilin besar berwarna merah yang menyala dengan beberapa buah apel yang ditumpuk di atas piring. Yongki menarik nafas dalam, memejamkan matanya, mengatupkan kedua tangannya di d**a lalu menghela nafasnya perlahan.
Flo dan Yuli hanya menunggu.
Beberapa saat kemudian.
Yongki membuka matanya dan menatap Flo. “Yap, ada arwah penasaran yang mengikuti lo Flo,” ungkap Yongki. Flo dan Yuli terkejut bersamaan. “Berarti yang selama ini gue alami, itu bukan mimpi?” tanya Flo. Yongki mengangguk. Flo mendesah lalu Yuli menggenggam jemari Flo memberi tenang. “Tadi waktu lo masuk, sebetulnya akyu sudah tahu ada sesuatu, tapi akyu belum yakin, barusan akyu coba lihat lebih dalam lagi dan ya, ada arwah penasaran yang ganggu lo,” lanjut Yongki.
“Tapi kenapa Yong?” sela Yuli.
“Akyu belum tahu … arwah itu ga mau diajak komunikasi sama akyu,” jawab Yongki.
Flo menunduk, mengusap-ngusap wajahnya. “Tenang Flo, pasti ada jalan keluarnya,” ujar Yuli, “Yong, trus gimana caranya supaya arwah itu ga ganggu dia lagi?” Yongki menggeleng lalu berkata, “Akyu belum tau … kita harus tau apa keinginan si arwah penasaran itu.”
Yuli menggaruk-garuk kepalanya, “Gimana caranya?”
“Temen lo ini harus berani dulu,” jelas Yongki.
“Kalau sudah berani?” tanya Yuli lagi.
“Dia bisa berkomunikasi sama arwah itu,” jawab Yongki, “supaya tau apa keinginannya.”
“Ga, ga mau … lihatnya aja gue udah mengkeret takut, hiiiii,” tolak Flo, “tapi Yong, penampakan yang gue lihat itu, dia … dia perempuan, rambutnya kusut … trus … dia pake baju kayak baju pasien rumah sakit gitu … udah gitu dia nyeret-nyeret tiang infus.”
“Hah? Tiang infus?” cetus Yuli, Flo mengangguk. “Ribet amat tu setan,” gumam Yuli.
“Yes, sama seperti yang akyu lihat Beib … dan dari hidungnya keluar da---“
Tiba-tiba nyala lilin di atas meja mati dengan cepat begitu pun seluruh lampu ruangan. Semua terpekik kaget. Ruangan menjadi gelap gulita. Flo menggenggam erat jari Yuli, jantungnya berdebar-debar. “Perasaan gue ga enak nih,” bisik Yuli. Yongki menyalakan lampu senter dari telepon genggamnya dan meletakkannya di atas meja sebagai penerang.
Ia menempelkan telunjuk pada bibirnya.
“Dia ada di belakang lo,” bisik Yongki.
Flo dan Yuli menelan ludah. “Jangan keluar dari karpet merah ini, tenang, arwah penasaran itu ga akan berani masuk ke karpet akyu ini karena sudah akyu jampe-jampe,” terang Yongki, baru selesai Yongki bicara tiba-tiba kepala Yongki dikeplak keras. Plak!
“Aducch!” pekik Yongki.
Flo dan Yuli terkejut, ternyata sosok yang mereka bicarakan tadi kini telah berdiri di belakang Yongki. Menyeringai dengan darah dari hidung yang menetes-netes jatuh di karpet merah.
“Aaaahhhh!!” Flo dan Yuli menjerit takut bersamaan melihat hal itu.
Mereka berlari ketakutan, lalu bersembunyi di balik lemari kaca besar. d**a mereka berdua naik turun, tegang bercampur takut. Yuli memberanikan diri untuk mengintip dari balik lemari. Yongki tampak menggelepar-gelepar di atas karpet, terus diam beberapa saat dan sontak dengan cepat Yongki duduk bersila di depan meja. Matanya membuka. Yuli terkesiap melihat mata Yongki yang menatap kosong.
“Hhhhh, rasanya aneh di badan orang ini,” gumam Yongki menggerakkan kepalanya ke kanan ke kiri, lalu tangannya mengambil sebuah apel. “Apa ini … apel jin? Hhhhh, apel jin, kopi, rokok kretek, huh basi, itu hanya untuk setan tua!” maki Yongki. Kemudian piring apel itu ditumpahkannya ke lantai, hingga apelnya bergelindingan kemana-mana. Yuli menarik kepalanya kembali dan berbisik pada Flo, “Cucudewa kerasukan!” Flo terkejut, ia semakin takut saja.
“Heh! Flo!” teriak Yongki memanggil.
Flo terkejut namanya dipanggil. “Gue tau lo bersembunyi! Gue bisa menemukan lo dengan mudah tapi gue lagi malas … heh Flo, ingat ini! Jauhi Dimas! Atau lo mati!” hardik Yongki. Flo dan Yuli saling memandang dengan kening yang sama-sama berkerut setelah mendengar ancaman itu. Dalam pikiran mereka berkelebat hal yang sama.
“Yerin,” gumam Flo dan Yuli bersamaan.
Kini mereka mengerti mengapa Flo menjadi sering diganggu oleh arwah penasaran itu. Arwah penasaran itu adalah arwah Yerin, kekasihnya Dimas yang telah meninggal setahun lalu. Flo memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia geleng-geleng, rasanya tak mungkin tapi ini terjadi.
Tak terdengar suara apa pun, Yuli mengintip lagi.
Matanya mencari-cari memastikan, takut arwah penasaran itu masih ada, ia tak mau dikagetkan lagi seperti tadi. Setelah dipastikan tidak ada yang mencurigakan, Yuli memberanikan keluar dari balik lemari diikuti Flo. Mereka melihat Yongki tergeletak tak sadarkan diri di atas karpet merah dengan kemejanya yang telah terbuka dengan sebuah tulisan di dadanya, yang ditulis dengan tinta darah, bertuliskan,
MUNDUR JALANG!!
***
Dimas memandangi foto dirinya saat bersama Yerin di atas meja belajarnya.
Ia mengusap foto itu lalu mengambilnya dan menyimpannya di dalam laci meja. Ia menghela nafas seraya mengusap rambutnya ke belakang. Kemudian ia meraih telepon genggamnya. Membuka WA-nya. Tidak ada pesan baru. Ia melirik jam dindingnya, masih belum terlalu malam sebetulnya. Dimas melangkah ke jendela kamar. Menatap keluar, memandang jauh pepohonan yang berayun tertiup angin. Pikirannya sedang bergelut dengan masa lalu, masa kini dan masa depannya. Kemarin-kemarin ia tidak tahu harus bagaimana dengan hidupnya setelah kekasihnya pergi, tapi kehadiran gadis ini seperti menuntunnya untuk menemukan jalan keluar.
Florita Naura, gumam Dimas.
Saat pertama kali berpapasan dengan gadis itu di lorong kampus, dia meninggalkan kesan baginya. Saat dirinya sering memperhatikan gadis itu dari kelas, itu membuatnya senang. Saat gadis itu meminta tolong diambilkan buku, itu membuatnya bergetar. Saat gadis itu memejamkan mata menikmati lagu, itu memberinya waktu untuk memperhatikan tiap lekuk garis wajahnya hingga menjadi sebuah keterpukauan yang tidak dibuat-buatnya. Dimas menyukainya, mengingat detilnya.
Florita Naura, desis Dimas.
Kemudian ia kembali memeriksa telepon genggamnya.
Tetap tidak ada telepon atau pesan WA yang masuk.
***
Flo sedang mengompres belakang kepala Yongki dengan es.
Yuli sedang menahan tawanya. “Udach dech Tuyul, lo tu seneng banget kalau akyu s**l ih,” cetus Yongki sebal. “Bukan gitu Yong, lo ‘kan cucudewa, masa bisa dikeplak sama setan sih, dan kata lo arwah penasaran ga akan bisa masuk ke karpet lo itu, nyatanya?” balas Yuli. Yongki menghela nafas, “Itu sialnya akyu … akyu kecolongan.” Yuli tertawa.
“Jadi … ternyata arwah penasaran yang ngikutin lo itu si Yerin?” tanya Yongki memastikan, Flo mengangguk. “Gue yakin emang dia sih,” sela Yuli. “Dan lo lagi deket sama mantannya Yerin?” lanjut Yongki, Flo mengangguk lagi. “Hmmm bukan suatu hal yang kebetulan kalau gituch,” gumam Yongki.
“Bisa diusir ga sih Yong?” tanya Flo. Yongki berpikir sejenak. “Mengusir arwah penasaran itu sulit, karena mereka bangkit kembali itu punya tujuan dan tujuan mereka harus tercapai dulu,” jelas Yongki. “Kalau dilawan? Maksud gue dipaksa pergi gitu, gimana?” tanya Yuli. “Bisa ajach, tapi ga mudah sich Say … biasanya selain punya tujuan, arwah penasaran itu kadang ga sadar kalau dia itu udah *metong,” jelas Yongki lagi. (*Metong = mati)
“Jadi gue harus gimana?” keluh Flo lalu duduk lemas.
Yongki dan Yuli saling berpandangan lalu mereka memandang Flo.
“Kenapa lo berdua ngeliatin gue?” tanya Flo tak mengerti. Yongki dan Yuli masih tetap menatap Flo. Mata Flo melebar. “Maksud lo berdua, gue yang ngadepin arwah penasaran itu gitu!?” cetus Flo baru mengerti. Yongki dan Yuli manggut-manggut. “No way!” tolak Flo sambil berdiri lalu berjalan bolak-balik gelisah. “Dia bangkit karena lo mengganggu miliknya,” ungkap Yongki, “maka cuma lo yang bisa menyuruhnya pergi Say.”
“Atau lo jangan ganggu miliknya lagi, cuma dua pilihan ini yang lo punya Flo, gimana?” timpal Yuli dengan kedua alisnya terangkat-angkat. “Hah? Ga, ga … tapi … aarrgh, gue bingung!!” cetus Flo menggelengkan kepala lalu mengacak-ngacak rambutnya. Ia kembali berjalan bolak balik sambil sesekali menghelakan nafasnya.
Ia tak menyangka jatuh cinta bisa serumit ini.
BERSAMBUNG