"Mas, aku boleh pinjam motornya?" tanya Iko begitu Dika hendak masuk ke kamar. Dika baru saja mengambil paku dari gudang untuk memasang gantungan baju di kamar. Mumpung pagi ini ia tidak ada jadwal mengajar, jadi masih sedikit santai.
"Motor kamu kenapa memangnya?" Dika balik bertanya.
Ia dan Iko termasuk suka kendaraan sepeda motor untuk bepergian ke mana-mana. Meskipun ada mobil yang bisa dikendarai dan sopir yang siap untuk mengantar. Tapi, dengan motor, jauh lebih nyaman dan efisien menurut mereka.
"Aku taruh bengkel, Mas. Kemarin bannya bocor pas aku pakai pulang sama Emil. Sudah malam juga, bengkelnya nggak mau nerima. Pagi ini ada kuliah praktek ngajar, mana nggak boleh telat lagi."
"Motornya kamu titipin di sana?"
Iko mengangguk.
Dika geleng-geleng kepala tak percaya. Ia ingat jika membawa Emil dalam boncengan, sudah pasti akan mendapat kesialan. Dulu Emil pernah mencret di jok motornya, seminggu lalu malah muntah karena kekenyangan makan bakso. Mungkin karena masuk angin juga. Sudah diberi tumpangan, malah Dika diberi imbalan muntahan si Cebol hingga mengenai jaket bagian lengan.
"Ya udah, kamu bawa saja," kata Dika sambil mengangguk, memberi Iko izin.
"Mas Dika ke kampus nggak?" Dika mengangguk dengan seulas senyum.
Mendadak Iko tak enak hati.
"Kamu pakai saja. Aku naik mobil juga nggak masalah." Iko legamendengar ucapan Dika.
***
"Ko... Iko!"
"Iko... yuhu!"
Dika kenal suara ini. Suara kaleng rombeng yang setiap hari berteriak di rumah ini. "Bukan hutan, jangan teriak di sini. Ganggu, berisik!" ketus Dika.
Dicebikkan bibirnya kesal.
"Aku teriaknya di kamar Iko, Bang. Bukan di kamar situ. Yang lain nggak ada yang keganggu kok. Telinga situ aja yang kelewat lebar lubangnya."
Sialan!
Seumur hidup Dika, mana pernah ia diperlakukan songong begini. Semua yang dihadapi selalu orang-orang normal yang tinggal di planet bumi, dengan tata krama dan kesopanan. Emil sangat berbeda. Gadis hutan ini seperti tak berpendidikan. Untung ia anak dari dosennya sekaligus saudara adik iparnya (meski tak kandung juga). Kalau tidak, mungkin akan disembelih saat ini juga.
"Apa sih, Mil. Aku ada praktek ngajar nih." Iko membuka pintu.
"Ko, Shella gangguin aku terus. Pagi-pagi udah neror minta nomor kamu."
"Kamu kasih?"
Emil menggeleng.
"Ya udah, kalau dia hubungi kamu lagi, ilang aja aku nggak ada ha-pe. Adanya nomor togel. Dah, aku berangkat dulu." Iko segera melesat mengabaikan teriakan kesal Emil karena tak ditanggapi.
"Siapa Shella?" Dika basa-basi sekaligus penasaran. Selama mengenal Iko, tidak sekali pun ia dengar adiknya itu membahas soal perempuan. Dika hanya tahu bahwa Iko memiliki segudang kegiatan di kampus yang merenggutnya dari kebersamaan keluarga. Ia saja baru tinggal di rumah Rangga sekitar dua tahun lalu.
"Nyamber aja sih, Bang. Perasaan belum aku colokin deh kabel teleponnya, kok main nyahut aja."
Kesal dengan jawaban Emil yang diiringi kekehan, membuat Dika mengangkat tangan yang membawa palu dengan gerakan hendak memukul. Namun, sekadar berhenti menggapai udara untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Eits ... bawa palu ama paku. Mau ngapain nih?" Tanya Emil waspada begitu sadar yang ada di tangan Dika adalah palu dan sekaleng paku.
"Mukul kamu!" Emosi Dika bisa mendidih juga lama-lama.
"Wow, woles, Bang. Aku bukan Suketi yang ditancepin paku langsung berubah dari sundel bolong jadi manusia. Cari mangsa lain aja ya, bye Abang Asdos." Untung Emil segera lari. Kalau tidak, mungkin Dika benar-benar sudah mencincangnya di depan kamar ini.
***
"Ini buat kamu."
Dika hanya diam sambil mengamati benda dalam kotak persegi panjang yang sudah ia ketahui apa isinya, dari gambar dan merek yang tertera di kardusnya.
"Tapi, saya…."
Pak Ari menepuk kardus tersebut seraya menyela ucapan Dika yang bahkan belum selesai. “Untukmu. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena Emil menghilangkan daftar nilai yang sudah kamu rekap."
Tidak.
Bukan Dika tidak mampu membeli benda yang dihadiahkan Pak Ari untuknya. Mungkin sebagai mahasiswa, benda tersebut sudah menjadi benda wajib yang akan sering digunakan. Selain untuk kepentingan tugas, juga media untuk kesenangan pribadi. Bahkan anak SD saja sudah mahir, dan bahkan beberapa sekolah dasar sudah mewajibkan muridnya menggunakan benda tersebut.
Alasannya sangat sederhana. Almarhum orangtua Dika dulu berteman. Setelah orangtuanya meninggal, Rangga pun mengangkat Dika sebagai anggota keluarga,sebagai rasa solidaritas seorang teman yang dianggap saudara. Dika menjadi bagian keluarga dengan fasilitas amat mencukupi. Namun, ia tidak mau semakin menjadi beban keluarga barunya. Apalagi Rangga telah membelikannya sepeda motor secara tunai. Padahal sebelumnya ia berusaha menolak dan menawari ganti dengan angsuran. Tentu Rangga tidak berkenan. Jadi, mana mungkin ia meminta dibelikan ini dan itu yang sebenarnya memang dibutuhkannya.
Gaji Dika sebagai asisten dosen, lebih baik ia gunakan untuk keperluan sehari-hari, menyisihkan untuk anak rumah singgah dan sesekali memberi uang jajan pada Iko. Padahal gajinya juga tidak seberapa, maka dari itu Dika tidak sampai bisa menyisihkan uang untuk membeli laptop.
"Jangan menolak. Aku harap kejadian hilangnya daftar nilai tidak terulang lagi. Atau, minta bantuan Emil saja saat merekap nilai esok hari agar ia bertanggung jawab atas keteledorannya."
"Terima kasih, Pak."
"Nanti aku yang bilang Emil untuk membantumu," saran Ari. Dua kali daftar nilai dihilangkan oleh sang anak, lama-lama Ari kesal dan tak enak juga pada Dika.
Dika undur diri karena hari sudah sore. Mendung menggelayut. Sebaiknya ia segera sampai di rumah. Terlebih hari ini Sila kembali dari liburan ke Jogja. Tiga hari lalu saudara angkatnya itu mengunjungi nenek dari pihak ibunya. Dika sungguh telah merindukan kopi buatan Sila. Seandainya saja dulu Dika bergerak lebih cepat, mungkin ia akan mendapatkan kopi buatan Sila setiap hari.
Tidak.
Enyahkan pikiran itu. Tapi, entahlah, kadang perasaan itu muncul sesekali. Menciptakan harapan dan angan Dika yang menggantung sejenak, kemudian gugur.
***
"Apa, Bang? Kata Papa, aku suruh nemuin ke sini."
Dika menoleh kea rah pintu kamar. Di sana terlihat kepala Emil menyembul. "Masuk!" perintah Dika.
Emil melangkah masuk dan ikut duduk di karpet kamar, berhadapan dengan Dika.
"Kamu keluarin semua makalah yang ada di kardus itu," tunjuk Dika pada tumpukan kardus yang diletakkan dekat ranjang tidurnya. Lalu lanjutnya, "Bawa ke ruang tengah.” Map-map yang ada di atas meja juga kamu bawa. Aku tunggu di depan."
Emil hanya melongo sesaat melihat tumpukan kardus berjumlah enam buah yang tersusun menjadi dua tumpuk. "Maksudnya apa nih, Bang?" herannya sambil menggaruk rambut yang dikuncir seperti pemeran Jinny si putri penghuni kerang.
"Kamu rekap ulang nilai yang pernah kamu hilangkan. Ini perintah papamu sendiri. Kerjakan saja, jika tidak ingin kulaporkan karena lepas dari tanggung jawab."
Emil seketika berdiri dan berbalik menuju pintu. Dika mengernyit lalu ikut bergerak.
"Elah, main ngaduan si Abang. Maaf, Bang. Perutku tiba-tiba mules."
"Nggak usah bikin alasan!"
"Deborah butuh pelukanku buat nina boboin. Kucing embul itu sama aku udah kayak tali sama beha. Saling melengkapi."
"Nggak ada!"
"Iko tadi nyuruh aku ciumin ikan di akuarium buat nenangin mereka dari serangan jantung."
"Ngarang!"
"Papa nyuruh aku makan dulu, Bang, takut maag kumat."
"Kamu sudah makan di rumah ini dua piring, Mil," sanggah Dika terhadap alasan yang dibuat-buat Emil.
"Yah, Bang. Aku pakai alasan apalagi sih. Duh, ini berat tahu!" Emil terlihat pasrah dan berjalan menuju tumpukkan kardus.
Dika kembali duduk bersila untuk menyimpan file sebelum keluar, membiarkan Emil sibuk dengan kardus. Tak lama, matanya seketika melirik awas saat melihat Emil berusaha lari menuju pintu. Ia tak kalah cepat. Ditariknya rambut Emil untuk menghentikan langkah gadis tersebut. Kaki Emil melangkah di tempat, tubuhnya meronta serta kepalanya mendongak karena rambutnya dijambak oleh Dika. "Sakit!" teriaknya. Dika tak peduli. Masih ditariknya rambut Emil agar tetap berhenti di tempat.
"Iya, iya... aku kerjain. Lepasin, Bang! Rambutku rontok entar!"
“Baiklah.” Dika melepaskan cekalan tangannya dari rambut Emil.
Emil beringsut dengan wajah gondok, lalu berjalan menuju tumpukan kardus.
---------------------