Kenapa sih, cewek sekece Emilia yang keimutannya sudah mengalahkan anak kucing yang baru seminggu melek lihat dunia, bisa tega-teganya diperlakukan dengan keras dan kasar? Mungkin Emil harus bertanya pada ubur-ubur yang berdendang prepet-prepet atau pada Abang Asdos yang sedang makan mi instan isi dua dengan kriuk berisik.
"Bang, ini nggak boleh istirahat dulu ya? Aku juga laper, butuh asupan tenaga buat kerja keras," rengek Emil pada laki-laki yang menjilat ujung garpunya dari bumbu kecap yang menempel. Seolah memamerkan kelezatannya pada Emil. Lebih tepatnya menggoda kawanan cacing dalam perut gadis yang tingginya tak seberapa itu.
"Selesaikan dulu yang kardus pertama. Dari tadi satu kardus saja kamu belum selesai-selesai, kerjamu apa saja?" kesal Dika.
"Aku kerja kok, Bang. Kerja pakai keras lagi. Sekardus popok gini, dikira dikit apa. Boleh dong makan sedikit aja, ya? Janji habis itu aku kerjain sampai beres deh!" rayu Emil dengan mengangkat dua jari membentuk ‘V’. Tak lupa kedipan manja seperti gambar Pikachu di celana dalam kuning miliknya.
"Lima menit."
"Ya?" Emil kaget.
"Aku kasih waktu lima menit untuk kamu istirahat. Setelah itu, kerja lagi. Satu..., dua..., tiga!"
Daripada Emil tak dapat apa-apa, dijabani juga maunya Dika. Ini demi kemaslahatan kaum papa di dalam perut Emil. Dengan kekuatan seribu bulan untuk menghancurkan, Emil berdiri lalu berlari keluar dari kamar menuju dapur. Tujuannya hanya satu, lemari es.
***
"Mil?"
"Emil!"
Suara sentakan yang berdenging di telinga, membuat Emil berjengit dari rasa kantuk yang mendera. Ia menoleh dan mendapati sang bos menatap marah ke arah... dirinya?
"Ya, Bang. Ada apa?" Emil menarik kedua tangan ke atas diiringi kegiatan menguap dengan mulut terbuka. Sialan! ia ngantuk dan lelah sekali.
"Kamu niat nggak sih ngerjainnya? Lihat ini!" Dika mengacungkan sebuah map, dan melemparkan di atas bantal yang tergeletak tak berdaya di atas karpet kamarnya.
"Niat, Bang. Tadi aku sudah nawaitu kok pas mau kerjainnya."
"Kalau niat, pasti nggak bakal salah masukkin data. Lihat ini!" Dika menunjukkan kolom berisi angka yang setahu Emil sudah ia selesaikan.
"Kenapa, Bang?" tanya gadis bernama panggilan Cebol itu, bingung.
"Kamu lihat ini mata kuliah apa? Bulan apa dan semester berapa?"
Emil mengangguk ragu-ragu.
"Kalau iya, kenapa bisa ketuker gini?"
Emil mengambil map tersebut dan melihat data di layar laptop yang ada di hadapannya.
"Itu daftar nilai tahun kemarin, Emil! Kenapa kamu masukkin? Itu juga mata kuliahnya nggak kamu lihat? Ini yang bulan kemarin kamu masukkin ke ujian semester, yang tahun kemarin malah kamu ikut masukkin datanya. Kenapa dituker-tuker gini? Memangnya kalau hidungmu dituker sama telinga, kamu mau?"
"Sorry deh, Bang. Mungkin aku lelah," jawab Emil enteng sembari meringis.
"Aku tidak mau tahu. Cepat selesaikan sebelum tengah malam. Kerjakan di sini. Kalau sudah selesai, aku akan masuk lagi."
Emil menghela napas frustrasi. Seharian ini tenaganya benar-benar dikuras, diperas dan diremas oleh Abang Asdos. Sebenarnya bisa saja ia melarikan diri ke rumah. Bahkan sore tadi, saat ia pulang ke rumah untuk mandi dan melakukan panggilan alam (baca:pup dan cebok), kemudian makan sedikit camilan untuk menambah tenaga, ia duduk santai di depan televisi, berniat acuh pada tugas dan tanggung jawab. Namun, yang terjadi Ari malah menyuruhnya membantu pekerjaan Bang Asdos, lagi. Mau nolak, tetapi takut dianggap anak durhaka. Mau dilaksanakan, badan udah lelah.
Dika keluar dari kamarnya meninggalkan Emil sendirian bersama tumpukan makalah dan map di sekitarnya. Emil sendiri begitu lelah sebenarnya. Apa daya, ia hanya romusa.
Pukul delapan malam, Emil belum boleh pulang. Mau lapor sama pemilik rumah, tetapi sedang pergi semua. Kedua orang tua Iko ada urusan di luar kota, Sila tidur di rumah mertuanya, sementara Iko sibuk di kampus entah ada kegiatan apa.Emil melirik kasur empuk yang terlihat menggoda dan menggiurkan. Rasa lelah sepertinya akan sirna jika ia merebahkan badan di atasnya. Ah, mungkin merelaksasikan tubuh sejenak di atas sana tidak apa-apa kan?
Tanpa menunggu persetujuan batinnya, tubuh Emil langsung menerjang empuknya sang kasur dengan tengkurap. Kemudian membentangkan kedua tangan dan kaki. Emil menggerak-gerakkannya seperti sedang melakukan kegiatan renang gaya kupu-kupu.
Nyaman sekali..., apalagi ditambah aroma sabun mandi yang menguar dari sarung bantal milik Dika. Berasa Emil sedang mandi bersama pemiliknya. Hem, lupakan khayalan itu, Mil! Mata Emil terpejam, entah kenapa seperti ditempeli lem super kualitas wahid, membuatnya sulit membuka. Rasa nyaman membelenggu hingga nyanyian dewi mimpi mengiringnya untuk masuk ke dunia sana.
***
Emil mengerjapkan mata begitu cahaya silau mengganggu pandangan. Mengucek sebentar sebelum badannya bangkit dari posisi telentang. Pandangan Emil menyusur sekeliling, mengingat di mana dirinya berada saat ini. Bukan di kamarnya, sudah jelas. Butuh tiga setengah menit untuk ingat bahwa saat ini ia berada di kamar kakak ipar sekaligus Asdos kesayangan Ari, karena semalam sepertinya ia ketiduran. Baiklah, tidak apa-apa juga kalau tertidur, toh terlanjur juga.
Perut Emil terasa mules, mungkin karena terlalu banyak makan ketela rebus yang disediakan di rumah itu semalam. Keluarga Iko memang senang menikmati makanan 'desa' dibanding makanan yang sudah mengikrarkan diri di iklan televisi sebagai camilan terlezat. Ketela memang lebih sehat jika dibanding makanan zaman sekarang yang penuh bahan pengawet, pewarna, dan perasa buatan.
Segera ia langkahkan kaki menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar Dika. Sekali tekan, terasa susah. Dua kali tekan, barulah berhasil karena memang tidak terkunci.
Langkah kaki Emil sedikit terburu karena kentutnya juga buru-buru mengeluarkan suara. Baunya pun mulai menyengat. Emil takut benda lembek yang menyusulnya kemudian akan ikut keluar menampakkan diri juga. Dengan cepat ia masuk, sedikit berlari ke arah toilet duduk. Memelorotkan celana kolor sebatas lutut kemudian ia duduk dengan menampilkan wajah penuh gairah untuk segera mengeluarkan 'dia' dari dalam. Tak lupa diiringi suara desisan dan guntur mini.
Emil lega luar biasa.
Diembuskannya napas lega sambil menyeka keringat yang sempat hampir bercucuran. Mata Emil yang tadinya terpejam langsung membuka dengan lebar. Begitu terbuka, ia langsung dihadapkan pada d**a bidang yang begitu basah, menggoda, dan pastinya begitu sayang kalau tidak diraba. Terlebih bawah d**a bidang itu terlihat handuk warna biru tua sebatas pinggul, sedang melilit dengan indahnya. Naik sedikit dari d**a bidang, Emil menemukan sorot mata yang bertatapan langsung ke arahnya. Senyum Emil yang sempat merekah langsung mengerut.
"Ngapain kamu di sini?"
Satu pertanyaan itu membuat Emil tersentak, dan langsung mengarahkan pandangan pada paha miliknya yang terbuka. Seketika Emil menutupi dengan kedua telapak tangan.
Ngapain aku di sini?
Ngapain juga makhluk itu di sini?
"Pagi-pagi bikin polusi udara. Punya p****t diajari sopan santun, biar nggak bau kentutnya!"
Setelah mengatakan itu, Dika langsung ngeloyor pergi meninggalkan Emil yang masih menunggu sesi kedua si 'dia' akan keluar. Sepertinya sesi terakhir, karena minat untuk mengeluarkannya seakan lenyap berganti kesal, bingung, dan malu juga.
Jadi, dari tadi Emil brat brot, Abang udah nangkring di dalam kamar mandi ini?
Mereka satu kamar mandi juga?
Astaga!
_____________________