Ya Tuhan... berilah Dika kesabaran yang amat besar.
Perbuatan dosa apa yang pernah ia lakukan di masa silam, sampai membuat nasibnya di masa sekarang begitu amat menyedihkan. Dihadapkan dengan makhluk jadi-jadian yang selalu menguras kesabaran.
Dika berdoa meminta ampunan dosa, sembari menyisir rapi rambutnya yang basah dan berantakan karena usai mandi besar. Sstttt... jangan bilang siapa-siapa jika semalam Dika mendapatkan mimpi adegan 21++ saat tidur di karpet.
Tidur di karpet? Garis bawahi, Dika tidur di karpet dengan memeluk makalah yang berceceran akibat ulah Emil di kamarnya. Ranjang nyaman yang harusnya ia tempati, sudah diambil secara paksa oleh gadis mencret itu. Ditambah lagi, Emil dengan tenangnya meneteskan liur di bantal Dika. Menciptakan pulau baru di negara ini.
Emilia.
Cobaan apa yang harus Dika hadapi, lagi dan lagi setiap berurusan dengan cebol itu. Sudah menyita tempat tidur Dika, pagi-pagi dengan tanpa dosa juga masuk ke kamar mandi saat ia sedang mandi. Untung saja Dika sudah selesai, tinggal memakai celana pendek dan handuk.
Di dalam kamar mandi, saat Dika mengusap rambut yang basah, pantulan Emil yang mengejan sambil mengikir bekas liur di sekitar bibir sudah mengganggu konsentrasi. Apalagi ditambah bunyi mendesis begitu benda lembek itu berhasil Emil keluarkan. Tak lupa diiringi suara ledakan dan bau yang hampir membuat Dika pingsan, jika tidak langsung ia hirup bau sabun dari lubang botol kemasan. Lupakan soal Dika dan Emil dalam satu kamar mandi, kalau pun mereka saling mengintip.
Haruskah Dika menyalahkan p****t Emil yang tidak diberi pelajaran sopan santun, agar tidak kentut dengan suara mengerikan dan bau yang dihasilkan bisa sedikit lebih harum? Menjijikkan sekali gadis itu bukan? Bagaimana bisa pagi cerahnya dihadapkan dengan suasana buruk dan mengerikan.
***
"Dari mana, Sil?" tanya Dika saat melihat Sila tengah menenteng kantong plastik berwarna merah ukuran besar.
Wanita itu masuk ke halaman rumah diikuti Iko yang memarkirkan motor. "Dari rumah singgah." jawab Sila
"Itu apa?" Dika bertanya lagi. Ingin tahu barang yang dibawa adik angkatnya.
Sila mengangkat sedikit kantong plastic tersebut dan menjawab, "Ini tas bungkus kopi buatan ibu-ibu di sana. Udah laku, mau aku bungkus dan paketin."
Dika mengangguk, kemudian Sila berlalu pergi. Dika sudah lama tidak berkunjung ke rumah singgah, tempat ia dulu pernah membagi kisah dengan anak-anak yang kurang beruntung. Sejak ia sibuk di kampus dan membantu Rangga di kantor, kehidupannya pun berubah. Bukan melupakan, hanya waktunya tak seleluasa dulu. Dulu Dika hanya karyawan minimarket, sekarang sudah dipercaya sebagai asisten dosen dan bekerja di kantor Rangga. Meski Dika hanya membantu sekadarnya saja apa yang Rangga butuhkan. Untuk menjalankannya sesuai keinginan Rangga, jujur saja Dika belum berani. Mungkin ia hanya sebatas mampu di bagian pemasaran saja, mengingat ia dulu sempat bekerja di salah satu mini market, sedikit tahu tentang masalah tersebut. Ia pun tidak masuk ke kantor setiap hari seperti karyawan lain. Bukan memanfaatkan nepotisme, hanya saja ia sudah dipenuhi jadwal di kampus. Bahkan Dika sudah berencana ingin mundur saja dari kantor Rangga. Ia ingin fokus pada bidang akademis. Mendaftar beasiswa S2, kemudian menjadi dosen.
***
"Mas Dika!"
Dika mendongak dari layar laptop begitu suara Iko memanggilnya.
"Tadi siang ada yang nyariin. Aku suruh ke sini sorean, pas Mas udah pulang," kata Iko kemudian.
"Siapa, Ko?"
Iko mengangkat bahunya. "Nggak tahu siapa namanya, Mas. Katanya penting sih."
Tumben-tumbenan ada yang mencari Dika di rumah. Biasanya jika teman kampus atau teman di rumah singgah mencarinya, mereka akan langsung ke kontrakannya. Malah terkadang teman-temannya itu memilih menghubunginya langsung.
"Aku masuk dulu, Mas. Nanti kalau Emil datang, kasih ini ke dia. Tadi dia telepon nitip ini. Aku mau keluar dulu jemput Mama." Iko menyerahkan bungkusan kecil kantong plastik merek sebuah mini market yang sudah tenar di negara ini.
Dika ingin bertanya apa isinya, Iko sudah masuk ke dalam. Penasaran, Dika membuka isi bungkusan tersebut.
Busyet!
Begitu melihatnya Dika ingin pingsan seketika. Baru ia tahu jika Emil yang dikenalnya ternyata... ah, sudahlah sudahlah. Ia kecewa dan tak menyangka.
Seketika pikiran buruk tentang Cebol langsung menyerang. Buat apa juga gadis itu membeli banyak benda tersebut dengan variasi rasa beraneka macam? Ada rasa pisang, strowberry, mint. Dika saja belum pernah mencoba satu rasa pun. Lah, ini si cebol. Bisa-bisanya memborong beraneka rasa. Apa benar dia sudah menodai dirinya? Memangnya badan kecil begitu bisa memuaskan? Dika bergidik ngeri.
Pikiran buruk Dika makin menguar. Jangan-jangan si cebol memang menjadi simpanan om-om hidung belang. Atau, ia melakukan bersama kekasihnya. Lalu, nama baik orang tuanya akan tercoreng oleh kelakuan primitifnya. Tidak! Hal itu tidak bisa dibiarkan.
Sebelum hal buruk terjadi, Dika harus cepat bertindak. Melarang mahasiswanya terjebak pergaulan bebas, serta memberitahu orang tua Emil agar anaknya diawasi lebih ketat. Baiklah, lebih baik Dika menghampiri cebol itu di rumahnya.
Dengan langkah cepat, Dika berjalan menuju rumah Emil. Begitu sampai di pintu gerbang, terlihat Cebol sedang bergelayut memeluk pintu gerbang sambil mengobrol dengan seoran... laki-laki.
Apa?!
Apakah laki-laki itu yang akan melapisi otongnya dengan benda yang sedang Dika genggam ini? Lalu menjelajahi milik si cebol yang kecil itu? Membayangkan saja membuat Dika bergidik ngeri.
Siapa sih laki-laki itu?
Mereka terlihat sangat akrab. Dika memperhatikan saksama wajah laki-laki itu, dari samping sembari mengingat. Ah ya, dia kan....
"Kak Dika!"
Sebuah suara membuyarkan konsentrasi Dika. Diputarnya tubuh menghadap pemilik suara yang memanggilnya dari arah belakang.
"Ternyata benar ini kamu, Kak."
"Lisa, ka…. Kamu…?” Suara Dika tercekat. Saking kagetnya dengan kedatangan perempuan itu, plastik dalam genggamannya terlepas, jatuh hingga isinya keluar.
"Aku nggak nyangka kamu seperti itu, Kak." Lisa mengatakannya dengan senyum miring menatap merek produk, dan bergantian menatap dengan sorot mengejek pada Dika.
"Tidak seperti dugaanmu, Lis." Dika membela diri.
"Long time no see. Aku merindukanmu, Kak."
Dika membeku di tempat. Rindu? Ia rasa perasaan itu sudah tidak pantas muncul ke permukaan lagi. Terlebih pada hubungannya dengan perempuan yang berdiri sambil mengulurkan tangan ke arah Dika.
"Kapan kamu kembali?" Dika basa-basi.
"Bang!" Suara pekikan dari arah lain mengaburkan jawaban Lisa akan pertanyaan barusan. Terlihat si cebol setengah berlari ke arah Dika. Laki-laki yang tadi mengobrol bersama Emil rupanya sudah tidak tampak lagi.
"Mana kondomnya?"
Dika ganti melirik pada genggaman tangannya. Benda sialan itu sedang dipertanyakan oleh Emil. Dika menyerahkan dengan ragu.
"Yang bergerigi nggak ada ya?" Cebol menyuarakannya dengan lantang, begitu mengecek isi plastik.
Dika hanya mampu menggaruk tengkuk mendapati dua pasang mata menatap ke arahnya. Satunya berharap akan jawaban soal gerigi, satunya meminta penjelasan. Sialan! Kenapa situasinya aneh begini sih.
"Nggak ada kayaknya. Adanya cuma itu. Rasa buah lebih segar daripada yang bergerigi, nanti malah sakit," jawab Dika asal.
Emil menerima saja, lalu melambai pamit. Tak lupa mengucapkan terima kasih akan pesanannya.
"Kamu dan dia?" tanya Lisa dengan pandangan tak lepas mengamati Emil berjalan menjauh, menuju rumahnya.
"Kamu p*****l, Kak?"
GUBRAKKKKKK!
Pedofil?
Astaga... mentang-mentang Emil badannya kecil, dikira Dika penganut p*****l. Emil sama anak TK memang badannya sebelas dua belas.
"Eh, dia itu…"
"Aku tahu. Tapi aku tidak menyerah untuk membuatmu memilihku, Kak. Kalau begitu aku pamit dulu. Sampai jumpa lagi, Kak Dika."
______________________________