Pengintaian

1166 Kata
"Udah dapet, Mil?" Emil menyodorkan kantong plastik yang tadi ia dapat dari Dika. "Nggak ada yang bergerigi?" tanya Rey begitu mengecek isi plastiknya. Emil angkat bahu dan menggelengkan kepala. Yang bergerigi itu bukannya malah bikin sakit ya? Emil jadi menyamakannya dengan gergaji. Serem juga kondom ada gergajinya. Bisa-bisa malah merobek dan menyayat jiwa raga. "Aku pesennya yang ada geriginya, Mil. Kalau rasa buah begini udah sering. Kakakmu mana mau, kurang kerasa katanya," alasan Rey. "Aku kan nggak paham. Itu juga titip Iko tadi, pas jemput kak Sila," aku Emil. "Lah, kalau tahu gitu biar Sila aja yang beli." "Iko beli ini duluan tadi, baru jemput kak Sila. Mana tahu juga mereka bakal barengan." "Eh, Kak! Apa nggak sakit kalau ada geriginya?" tanya Emil sedikit meringis ngilu. Rey mengernyit dan mengetuk kening adiknya dengan jari telunjuk hingga mulut Emil mengaduh. "Kamu bayangin apaan? Kalau ada geriginya lebih terasa gelinya, bukan malah sakit. Udah, aku tinggal ke kamar si kembar. Kalau Sila datang, suruh masakin MPASI." Rey berlalu, naik ke atas. Meski masih menyimpan kebingungan, Emil putuskan menyudahi rasa bingung tersebut dan pergi mencari agar-agar buatan Sila yang ditaruh di lemari es. Emil terbuai dengan rasa nikmat agar-agar buatan kakak iparnya yang dicetak kecil-kecil, bentuk bulat dan lonjong. Sebenarnya ini makanan buat si kembar, tetapi Tante Emes nyicip dikit nggak apa-apa dong. Kan Emil juga masih kecil, masih berhak dapat asupan gizi. Agar-agar membuat mood Emil yang semula sedang buruk karena kedatangan Bejo, lambat laun sirna. Bejo ke rumah dengan dalih mampir dari rumah teman. Padahal di komplek ini, cuma Emil dan Iko yang sekampus dengan dia. Modus laki-laki memang tak ada matinya. Udah ditolak, masih saja nguber. "Mil?" panggil Iko. Emil menoleh begitu Iko datang sambil membenarkan topi yang ia kenakan. "Mau ke mana?" tanya Emil. Iko tak langsung menjawab, malah mencomot agar-agar dalam mangkuk yang sedang Emil genggam. "Biasa, ada rapat buat baksos minggu depan. Kamu mau ikut? Ada Lucky juga kayaknya," jawab Iko kemudian. Dia tahu pasti bagaimana usaha Bejo mengejar Emil dari zaman mereka sama-sama masih pakai bawahan abu-abu, dan Emil masih pakai daleman warna putih berenda. "Ogah! Tadi dia juga udah ke sini." "Ciye... dia berani dateng juga. Mau ketemu calon mertua," goda Iko yang semakin membuat Emil kesal. Godaan Iko soal Bejo lebih menguras emosi Emil dibanding nyinyiran mulut Abang Asdos.Tak mau berlarut, Emil segera mengalihkan perhatian. "Ko, tadi kakakmu, si Asdos itu kedatangan cewek. Siapa sih?" Iko mengunyah sebentar agar-agar di mulutnya dan menelan dengan lancar, baru menjawab, "Nggak tahu. Temennya, atau pacarnya kali." Oke, Emil harus tahu siapa cewek bohay itu. **** Siomay kedua yang Emil santap perlahan demi perlahan dengan tiga puluh sembilan kunyahan setiap suapan, sebentar lagi tandas. Tidak Emilia banget. Tapi ini semua demi. Target intaian Emil berupa sosok berambut panjang, badan penuh tonjolan yang sedari tadi duduk dengan gigi kegerahan, sehingga angin masuk dengan bebasnya, mengibaskan sisa cabai merah keriting yang bermain petak umpet di sela gigi taring. Cewek bohay itu (maksudnya hanya bohay di bagian tertentu) tengah mengobrol manja dengan wajah menggemaskan, berdua dengan Abang Asdos. Rasa penasaran akut yang Emil derita ternyata begitu menyiksa lahir dan batin. Siomay dua porsi, tetapi obrolan keduanya hanya sepihak, membuat Emil penasaran sebenarnya Abang asdos sedang sakit gigi atau apa? Kasihan sekali ceweknya dicuekin, dan malah ditinggal ngetik entah apa di laptopnya. "Kak, aku sengaja pilih kampus ini loh biar bisa ketemu Kakak." Elah... ngapain di kampus ini sih. Kan ketemu aku juga entar. Semoga bukan di jurusan yang sama kayak aku. "Kata Papa, Kakak udah nggak tinggal di rumah lama ya? Enak dong sekarang punya keluarga baru." Enak banget lah. Tinggal gratis cuma makan sama tidur aja dia. "Rambut aku udah panjang nih. Kakak kan suka sama yang rambutnya panjang." Oh... si Bang Asdos suka rambut panjang? Kalau bulu ketek yang panjang, kira-kira tetep mau nggak ya? Bulu ketekku kan panjang banget.. "Mil!" Emil hampir jatuh tengkurap di meja gara-gara Iko menepuk punggungnya dengan amat sadis. Posisi mengintip Emil terhalang tiang, sehingga agak sedikit membungkuk ke meja agar suara obrolan dua makhluk di sebelah terdengar. "Ngapain sih? Bikin kaget aja," dengkus Emil kesal. "Kamu yang ngapain? Makan apa mau kentut? p****t papan penggilesan gitu dipamerin. Ada apaan sih?" Iko melihat ke arah pandangan yang sedang serius Emil tuju. "Ngintipin orang pacaran? Dasar! Jomlo ya jomlo aja. Kalau pengen kayak gitu, sana gih sama Lucky." Ditariknya rambut Iko dengan kasar saking kesalnya Emil karena Iko selalu membahas Bejo. "Mulut dilakban dulu deh, Ko. Aku cuma lagi melakukan pengintaian,"ucapnya "Buat apa? Itu kan kakak iparmu juga. Aku cabut deh.Makasih siomay gratisnya." Dia datang Cuma mau habisin makanan Emil saja ternyata. *** Pengintaian Emil masih berlanjut. Kini dalam derap langkah pelan, Emil mengikuti kedua targetnya. Terlihat Bang Asdos sedang memakai helm dan si cewek bohay itu tetap saja mengoceh, merengek pada Abang. Di sisi lain, Dika sudah hampir hilang kesabaran dengan ocehan Lisa. Mau tidak didengarkan, malah semakin merajalela. Mau didengarkan, risih juga. Sejak kedatangan Lisa di kampusnya, Dika semakin sulit bergerak saja. Ke mana pun melangkah selalu diikuti Lisa. Benar memang, Dika dan Lisa saling mengenal, tetapi tidak harus menempel layaknya magnet tempelan yang mejengpintu kulkas juga. Melihat ada gadis cebol yang mengintip pergerakannya, membuat Dika penasaran "Kenapa kamu di sini?" Sialan! Emil ketahuan. Gimana ini? "Owh, eh... anu... aku cari motorku. Lupa parkir sebelah mana," jawab Emil asal. "Bukannya kamu berangkat diantar Rey?" Ketahuan amat Emil bohongnya. "Oh iya... aku lupa. Anu... itu, aku nunggu temen mau nebeng pulang. Eh, mau ke rumah temen deh. Mau nyobain barang yang kemarin aku beli." Tanpa pikir panjang, daripada Emil kena omel mulut berbisa tetangganya ini gara-gara ketahuan ngintip, Emil memutar tubuh dan berlari ke arah Bejo yang sedang memasukkan kunci ke motornya. "Jo, aku numpang. Anterin pulang ya?" "Beneran? Oh Tuhan... akhirnya doaku terkabul juga, bisa dekat kamu. Ayo, ke mana pun aku anterin kamu." Bejo terlihat senang. Apa boleh buat, daripada dapat amukan dari kakak ipar angkatnya tersebut, Emil mending kabur bareng Bejo. Pantat Emil sudah mau parkir di jok motor Bejo, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Abang. Bejo yang sudah nangkring di motornya jadi kaget. "Kamu, pulang sama aku!" putus Dika tegas, tanpa berkedip menatap Emil. "Maaf, kakaknya meminta saya menjemput dia." Bejo bingung dengan tindakan sadis yang dilakukan Dika pada Emil. "Tapi, Emil pulang dengan saya." Bejo mencoba mempertahankan Emil. "Kamu bisa telepon Rey sendiri untuk memastikan. Silakan dihubungi." Bejo merasa tidak enak kalau sudah menyangkut kewenangan keluarga. Mau menelepon Rey? Mana dia punya nomornya? Nomor Emil saja dia tak punya. Bejo menyerah. Emil pun pelan-pelan turun dari memarkirkan p****t. Ia mengekor Dika, berjalan menuju motor Dika di parkiran. "Naik!" perintah Dika. "Nggak takut aku mencret di motor nih, Bang?" Sebenarnya takut juga. Tetapi lebih takut lagi kalau Cebol larut dalam pergaulan bebas, mengingat laki-laki yang Dika lihat barusan sama dengan yang ia lihat saat insiden kondom waktu itu. "Naik!" Emil menyerah. Ia segera duduk di jok motor Dika. Meski takut, Emil hanya bisa pasrah dan memilih diam saja. Emil berdoa semoga masih bernapas sampai di rumah. _________________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN