Ganci

977 Kata
Hujan tak henti mengguyur bumi malam ini. Rasa dingin menusuk hingga ke tulang, bahkan jaket tebal yang Dika kenakan saja tak berarti apa-apa. Rangga dan Dinda, kedua orang tua angkatnya sedang keluar. Iko sudah masuk ke kamar sejak selesai makan malam. Tinggallah ia sendiri. Meratapi nasib ditusuk rasa dingin.Mendamba kehangatan, seperti pelukan, mungkin. Ah, pikirannya selalu terkontaminasi jika sudah berdekatan dengan gadis di sampingnya. Di samping? Jadi, ia tak sendiri-sendiri amat. Di samping Dika memang sedang ada gadis bantet. Selepas waktu Magrib, Dika meminta Emil datang untuk menyelesaikan tanggung jawabnya—merekap nilai—yang tertunda. "Udah?" Dika sedikit melirik pada laptop yang ia pandangi dengan kerutan di kening, serius. "Udah kok. Mau lihat?" Emil menggeser sedikit laptop ke arah Dika. Benar juga, untuk daftar nilai tugas satu jurusan—yang mata kuliahnya diampu oleh Pak Ari—sudah selesai ia kerjakan. "Udah kan? Orang keren itu kayak gini, Bang. Cepet nyelesain tugas," akunya bangga. "Hem." Dika tidak peduli Cebol keren. Terpenting baginya hanya tugas yang dihilangkan bisa selesai. Meskipun belum semua, setidaknya sudah setengah lebih banyak yang berhasil direkap. Baiklah, Dika akui kalau Emilia keren untuk masalah tanggung jawab. Meski hujan mengguyur, dia berkenan hadir untuk melanjutkan tugas. Dika meminta Emil datang buukan karena terburu-buru ngin mengumpulkan rekap nilai.Bukan itu. Hanya saja,. Dika ingin mencegah gadis itu keluar. Entah dia mau ke mana, Dika belum juga yakin. Semenjak kejadian di kampus, saat Emil mengatakan hendak mencoba barang baru yang kemarin dibeli, Dika merasa berkewajiban menjauhkan gadis itu dari pergaulan bebas. Apalagi melihat gadis itu berboncengan dengan laki-laki yang tempo hari menemui Emil di rumah, membuat Dika berjanji dalam benaknya untuk menyelamatkan reputasi dan kehormatan Ari, dari perbuatan anak gadisnya yang tidak beradap. Padahal Dika sama sekali belum mengklarifikasi fakta yang sesungguhnya. Tadi, Dika melihatnya akan berboncengan dengan laki-laki--yang ia lihat pernah datang Sebelum barang baru—benda elastis rasa buah—itu berhasil dimainkan, sebelum laki-laki kemarin datang menemui Emil ke rumahnya, juga sebelum anak gadis dari keluarga terhormat mencoreng nama baik ayahnya, Dika sudah menghentikannya terlebih dahulu. "Elah, Bang! Ngapain sih, senyum-senyum sendiri. Kesambet pocong Ancol? Tuh, ha-pe bunyi terus dari tadi. Bukannya diangkat malah senyumin hujan." Dika melirik wajah menyebalkan sebelum pandangannya mengarah ke ponsel yang tergeletak di samping laptop. Benar juga. Enam panggilan tak terjawab. Apa telinga Dika daritadi tidak berfungsi? Atau karena ia terlalu konsentrasi melamun? Entahlah. Toh Dika tidak mengharapkan panggilan dari orang tersebut. Seseorang yang terobsesi padanya. *** "Kenapa harus mengikutiku terus, Lis?" Dika lagi-lagi bertemu dengan Lisa. Setiap detik dan menit keadaannya terintai dan terdeteksi oleh Lisa. Jengah juga lama-lama. "Aku kan cuma kenal sama Kakak saja di sini. Lagian, kita ini pasangan kekasih 'kan?Wajar dong kalau ke mana-mana berduaan." Lisa merajuk genit "Aku tidak pernah menjanjikan apa pun padamu. Kamu adikku.Hanya adik di mataku. Jangan berlebihan, Lis!" sentak Dika kesal. Lisa selalu saja seperti itu. Sudah ditolak beratus kali pun, ia tetap mengejar Dika. Membuat jengah dan bosan. Lagipula, Dika tidak berminat dengan gadis seperti itu. Lisa memang cantik, pintar juga. Belum ada perempuan yang bisa menembus relung hatinya. Cinta pertama yang kandas karena takdir bernama SAUDARA ANGKAT. Menyakitkan juga. Dika suka gadis yang pintar, Lisa memenuhi kriteria itu. Sila juga pintar, dengan apa pun yang ia lakukan. Menjadi istri yang baik, ibu yang penyayang, juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Itulah poin plus dari seorang Sila. Ia tidak peduli orang akan mengatakan apa tentang solidaritasnya, tidak masalah jika ia tak dianggap cantik, dan bukan soal kalau dia lebih memilih menimbang-nimbang harga barang termurah daripada menghabiskan banyak uang untuk memenuhi sandang pangan. Intinya, Dika suka yang apa adanya. Gadis yang menujukkan bahwa dirinya berbeda, juga berani. Bukan seperti Lisa. *** "Makasih, adik iparku yang udah item lagi," ucap Emil. Dika meletakkan gelas yang tadinya ia gunakan minum. Seperti biasa, Emil sangat suka memalak Iko yang baru pulang berkemah dari luar kota, dengan meminta gantungan kunci. Entah kenapa Emil suka sekali mengoleksi gantungan kunci. Iko sampai geleng-geleng kepala Pernah sekali,Iko tidak mendapatkan oleh-oleh. Daripada pusing mendengar rintih kepedihan Emil, Iko memungut daun di kebun tetangga, mengeringkannya kemudian melaminating. Setelah itu, Iko mengaitkannya dengan gantungan kunci, dan menyerahkannya pada Emil. Dika melihat tingkah Cebol sedang jingkrak-jingkrak kesenangan mendapat oleh-oleh dari Iko, hanya bisa tertawa. Dasar cebol! "Mas, Mama udah pulang?" Iko menghampiri Dika yang sedang mengganti bajunya dengan kaus singlet. "Belum. Katanya pulang besok, seminarnya harus nginep." Dinda sedang mengikuti seminar guru TK di salah satu hotel, sejak kemarin. Di rumah tentu saja hanya tersisa tiga laki-laki keren. Kecuali jika Emil dan Sila bertandang ke rumah. "Bang, lihat deh... bagus kan gantungan kunciku," pamer Emil pada Dika. Gantungan kunci itu biasa saja menurut Dika. Hanya kayu yang dipotong dan diberi gambar. Enta bagian mananya yang menarik. "Biasa aja," respon Dika datar. Iko pamit masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Membiarkan kakak dan temannya saling bersiteru. "Biarin, gini-gini Iko yang kasih. Emang situ pernah kasih apa? Pantes pacar Abang cerewet. Abang pelit sih!" ketus Emil tiba-tiba, kemudian ngeloyor pergi. Pacar? "Eh, tunggu!" Emil menghentikan langkah dan berbalik badan. Berharap kali ini ia akan dipuji karena memamerkan hadiah dari Iko. "Kenapa?" tanyanya. “Pacar siapa yang kamu maksud?" tanya Dika penasaran. Ia hanya berkata jujur soal gantungan tersebut. Tetapi reaksi Emil justru kesetanan dan malah merembet ke masalah pacar segala. Emil memilin rambutnya dengan jari telunjuk, menjawab, "Yang waktu itu datang ke sini. Pas di kampus itu juga. Kan Abang sering pacaran di kantin. Berisik banget deh kayaknya ya," nyinyirnya. "Oh, itu Lisa namanya." Dika baru sadar yang dimaksud. "Kalau aku, Harum namanya... kayak ibu kita Kartini," kekehnya garing. "Cowok kemarin siapa? Pacar kamu?" tanya Dika pengin tahu dan penasaran. Dika memastikan Emil tidak salah gaul. "Pengen tahu aja, apa pengen tahu banget? Abang sok kepo deh, kayak anak muda aja," balasnya. "Hem, nggak pengen tahu juga." Emangnya Emil saja yang bisa bikin kesel? Dika juga bisa. Ia lantas meninggalkan Emil yang mendengkus kesal karena tak ditanggapi. ____________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN