Lamaran Lucky Saya....

1247 Kata
"Jangan cemberut lah, Mil. Nggak enak banget boncengin orang muka jelek." Langsung digetoknya kepala Iko yang baru melepas helm. Iko mengaduh, tapi Emil tak peduli. "Sakit, dodol. Ini kepala, bukan pintu. Main ketok aja. Turun! Jalan sono ke kelas. Entar pulang sendiri juga. Aku ada rapat sama anak-anak!" perintah Iko yang dibalas dengkusan oleh Cebol. Baru juga kaki Emil mau melangkah, titisan nenek lampir kesurupan lem sampai mabuk, berdiri di depannya. Menghalangi jalan, padahal sedang tidak ada lampu merah. Emil malas sekali jika berhubungan dengan gadis itu. "Maaf, mau lewat. Kalau mau ke kanan, saya ke kiri. Begitu pun sebaliknya. Jangan samaan. Nubruk, Mbak." Emil memperingatinya, karena saat Cebol hendak maju, Lisa menghalangi. Geser kanan, ikut. Geser kiri juga ikut. Apa Emil harus melompati Lisa dulu? Kalau bukan karena terhalang motor di sampingnya, mungkin ia sudah langsung kayang di atas kepala Lisa. Jalan keluar yang aman. Alternatif yang mustahil juga sepertinya. "Ehm," dehem lampir. Batuk Lisa tidak ada dalam daftar yang disuarakan pada iklan obat di televisi. Mungkin karena batuk gadis itu akibat tersedak kadal yang lupa dicincang. "Ini ya yang katanya calon istrinya Dika? Kecil...," nilai Lisa sambil melihat Cebol dari atas turun ke bawah. Bukan dari mata turun ke d**a ya. Entar dikira mau membandingkan onderdil. "Nggak cantik-cantik amat. Kok bisa ya, Dika suka sama lo. Jangan-jangan... main pelet." Lampir mengibaskan rambut berkutunya sambil menghina Emil. Iko hampir saja maju, tetapi ditahan Emil. Iko, sudah tidak tahan untuk menutup mulut Lisa dengan serangan balik. Bagaimanapun, Emil bukan sekadar tetangga, atau teman saja. Melainkan, saudara, yang akan ia bela jika disakiti. Bukan dengan kekerasan fisik, tentunya. Laki-laki tak main tangan pada perempuan, kan? "Udah berapa lama lo sama Dika?" tanya Lisa tajam. Cebol mencoba tersenyum dengan manis dan segar. "Kayaknya bukan urusan mbaknya deh," balas Emil, masih dengan senyuman yang menyusut dua jari. Si lampir makin berang. "Kita udah kenal lama, bahkan sebelum dia ketemu lo. Hubungan kita apalagi, lebih dekat dari yang lo bayangin." Emil mencoba tak peduli dengan ucapan Lisa. Kakinya melangkah ke samping, bersiap ingin pergi. Meski tak ada celah. Setidaknya ia sudah memberikan kode. Siapa tahu Lisa akan bergeser. "Mbak, saya sama temen saya ini mau lewat. Kalau mbak masih di depan situ, kita mana bisa lewat.]Samping-samping ini motor semua." Emil sudah minta baik-baik. Tetapi malah dicuekin. Kacang mahal kali ya? Sekilo berapa sih? "Situ mau lewat? Muter aja kan bisa. Punya kaki juga." "Mbak ngomong apa kumur sih? Muter ke mana? Semuanya penuh motor. Satu-satunya celah cuma jalan di depan Mbak ini aja. Lagian Mbak ya, soal Dika nggak usah sangkut pautin saya deh. Mbak ini siapanya Dika sih, kok saya dibawa-bawa? Memangnya kalau kalian dekat, urusan sama eike ini apaan? Mau pamer kalau kalian udah bareng dari orok? Nih, eike juga punya pasangan dari orok," tunjuk Emil pada Iko yang mengangguk dengan patuh. "Gue, yang harusnya sama Dika. Kenapa lo tiba-tiba aja muncul di antara kita. Inget, gue dan Dika udah kenal lama, termasuk orangtua kita. Gue juga tahu gimana tipe Dika. Kalau dia deket sama lo, mesti ada yang nggak beres. Lo main dukun?" tuduh Lisa tak kira-kira. Emil tersulut emosi juga akhirnya. Meski ia tak dekat apalagi sampai melekat ke Dika, tetapi mendengar harga dirinya terusik Emil pun tak terima. Main dukun? Ya Tuhan... Emil main kelereng saja kadang hilang arah, apalagi main dukun. Mana mau juga dia main pelet seperti yang dituduhkan nenek lampir. Iya sih, Emil memang bengal. Tatapi tak sampai musyrik juga. "Oke, gini aja deh. Mbak ini ngerasa tersaingi sama kehadiran eike? Mbak kurang cantik dan gemesin sih, makanya Bang Dika hilang selera. Lagian ya, Mbak. Apa kalau udah deket dari orok, atau bahkan pas lahiran barengan, bisa langsung ditakdirin bareng juga sampek ke liang kubur? Jodoh kok main-main. Bang Dika bernapsunya sama saya, kenapa Mbak yang repot. Kalah saing, tapi nggak terima. Oplas dulu sana ke Kuria. Biar gemesin kayak eike ini." PLAAAAKKKKK! DUGH! "Emil, awas!" *** "Bang?" panggil Emil lirih pada orang yang ia peluk. Emil tahu kalau yang datang ke kamarnya adalah Dika. Laki-laki yang membuatnya ditampar oleh lampir, dan pinggangnya terbentur motor sampai jatuh terduduk. Sial kan? Sudah sakit hati, sakit juga tubuhnya. Masalah satu belum kelar, datang lagi masalah lain. Coba kalau Emil tidak dijadikan tameng menolak Lampir. Emil rasa, ia tak akan sesial ini. "Mil, udah ya peluknya. Pinggangku capek," pinta Dika. Emil sedikit mengulum senyum tersembunyi dan melepas pelan tangannya yang melingkari punggung laki-laki itu. "Bang." Dika memutar pinggang ke samping. "Ya? Minta apa? Nanti aku bilang ke Sila." Dika merapikan selimut. Kenapa jadi perhatian begini kalau Emil sakit? Entahlah, Dika juga bingung. Sekadar memenuhi rasa manusiawi sebagai makhluk sosial akan keadaan tetangga yang butuh bantuan. Mata Emil memperhatikan setiap gerakan penuh perhatian Dika. "Kenapa ke sini?" "Lihat keadaan kamu. Ada tugas yang belum kamu selesaikan," alasannya. Padahal Emil sudah ingin melompat kegirangan jika jawaban Dika karena khawatir dengan keadaannya. "Ehm... Lisa ngapain kamu?" Emil sedikit terkejut, bagaimana laki-laki itu tahu kejadian sinetron bersambung di area parkir tersebut. Seingat Emil, hanya Iko yang tahu. Pasti Iko yang cerita. Atau, si lampir yang bermaksud mengusik harga diri Emil. "Cuma elus pipiku aja. Nggak usah dibahas, muak aku denger namanya." Emil memalingkan wajah kesal. Tangan Emil mendadak terasa hangat, karena tangan laki-laki itu seenaknya memegang, melingkupi dan sedikit... meremas. Boleh remas bagian lain nggak kira-kira, Bang? "Maaf. Gara-gara aku bilang kamu calon istriku, dia malah sakitin kamu. Tapi, kalau lihat masih bernapas sampai bisa minta peluk barusan, kayaknya kamu baik-baik aja." Dasar kutu kupret. Apanya yang baik-baik aja? Mau kukasih lihat pantatku yang berubah ada warna birunya gara-gara jatuh terduduk di lantai, juga kakiku yang bengkak ketiban motor?Emang dikira motor itu seringan selimut? Kalau ketiban tubuh dia sih nggak masalah. Masih bisa ditoleransi lah. Loh? "Kamu cepet sembuh, Mil. Lusa mau lamaran katanya. Entar Lucky batal lamar gara-gara nyesel punya calon istri pucet kayak mayat. Udah, aku pulang dulu." Dika menepuk lengan Emil pelan, kemudian bangkit dari kursi dan berjalan keluar. *** "Kedatangan kami ke mari, pertama untuk silaturahmi. Dan yang kedua, adalah meminang putri Bapak, Emilia untuk menjadi istri anak kami, Lucky Adrian." Ayahnya Bejo menuturkan niatan kedatangan bersama rombongan ke rumah Emil. Ibunya Lucky, duduk di samping suaminya. Tampak menawan khas ibu-ibu pengajian nan murah senyum. Bejo duduk di samping kedua orang tuanya yang berhadapan dengan orangtua Emil. Emil duduk dekat Sila yang tengah memangku anak perempuannya. Rey tidak tampak berada dalam ruangan, karena sedang menggendong anak laki-lakinya melihat ikan. Rian, anak Rey memang tidak bisa diajak duduk diam seperti Riana, saudara kembarnya. "Kami menerima kedatangan Bapak dan Ibu sekalian dengan senang hati. Untuk masalah anak-anak, alangkah baiknya jika ditanyakan pada keduanya langsung. Saya berharap banyak sebagai orang tua, agar Emil bisa menerima Lucky. Terlebih, karena keseriusannya menemui saya secara langsung beberapa waktu lalu, membuat saya yakin bahwa putra Bapak memang laki-laki yang baik, dan bisa bertanggung jawab pada putri saya nantinya." Ari menolehkan wajah pada anak bungsunya, diikuti kedua orangtua Bejo yang tersenyum. Emil pun membalas senyuman mereka dengan anggukan kecil. "Nah, bagaimana? Emil menerima lamaran Lucky?" Ari bersuara, semua mata mengarah pada Emil. Menantikan detik-detik jawaban yang telah dipersiapkan. Emil mengulas senyum sebelum menjawab. Meredakan debaran jantungnya yang menggila. Dan... mengurangi ketegangan yang terjadi. Semoga jawaban ini yang terbaik. Niat ibadah, tidak akan mendapat kesulitan, kan? Setidaknya Emil sudah merenung sehari semalam saat ia sakit kemarin. Ia yakin jawaban inilah yang terbaik. Menikah muda, tidak masalah buat Emil. Urusan bagaimana menjalaninya, nanti bisa sambil belajar. Baiklah, ambil napas dulu. "Saya….Lamaran Lucky saya...." ______________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN