Bab 22 Kejujuran

1903 Kata

“Gue ….” Detik berikutnya, dunia menggelap. Sosok Erlangga hilang dari pandangan, dan begitupun semua hal di depannya. “Listriknya mati!” umpat Erlangga kemudian. Prang! Bunyi piring beradu dengan lantai menggema saat kaki Erlangga tidak sengaja menendangnya ketika cowok itu berniat keluar, mencari penerangan dari lingkungan. “Kei? Diem di situ aja. Duh, HP gue di rumah, lagi.” Erlangga bicara sendiri selagi masih mengamati sekeliling paviliun. Terdengar suara agak riuh dari rumah utama. Lalu beberapa saat setelahnya listrik kembali menyala. Erlangga kembali masuk ke dalam, dan Keisha masih berada di tempatnya. Menatap Erlangga seolah sedang melihat hantu. “Lo mau ngomong apa tadi?” Keisha tersentak. “Oh, enggak, kok. Nggak jadi.” Erlangga mengernyit. “Beneran?” “Iya,” ujar Keish

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN