“Aargh! Sial!” Erlangga mengumpat kasar sambil melempar baju kotornya ke keranjang. Ia baru saja selesai mandi. Umpatannya keluar saat ia membaca pesan yang diterima dari ponselnya. Sepuluh hari lagi ia harus kembali ke Inggris. Sial! Itu terlalu singkat! Erlangga merebahkan tubuh ke ranjang. Suara rintik gerimis yang menabrak-nabrak kaca jendela mengalihkan fokusnya. Ia mengamati titik-titik air di jendela. Hujan. Apakah Keisha baik-baik saja? Bagaimana jika ia kembali merasa sakit karena trauma itu? Adakah yang menemaninya? Erlangga mengembuskan napas lelah. Cewek itu sudah memasuki hidupnya terlalu dalam. Dan Erlangga juga memedulikannya terlalu banyak hingga membuat ia sendiri heran. Hanya saja, ia suka melihat Keisha tersenyum. Ia juga mendapat kebahagiaan tersendiri saat Keish

