Pak Arif sedang menjelaskan mengenai sastra-sastra lama, tapi Keisha tidak bisa menyimak. Keisha mencoret-coret bukunya, menuliskan goresan tinta tidak tentu arah. Kebanyakan hanyalah gambar abstrak yang kalau dilihat malah bikin mimpi buruk. Ia lalu menoleh, memandang Felish di sebelahnya yang memperhatikan papan tulis dengan serius. Ia memandangi cewek itu. Otomatis teringat pada Erlangga, kakaknya. Kalau dilihat-lihat, Felish tidak begitu mirip dengannya. Rambutnya, Felish berambut lurus—asli, bukan karena dicatok—sementara Erlangga ikal. Warna mata Felish cokelat muda terang, sementara Erlangga beriris hitam pekat. Tulang pipinya pun berbeda. Semakin diperhatikan, semuanya jadi malah berkebalikan. Keisha mencoba mengingat penampilan ayah Felish. Dari posturnya memang tidak begitu jauh

