Diam

1045 Kata

"Hati-hati, loh, Ariya rumah itu sudah banyak memakan korban, tinggalkan saja secepatnya sebelum semuanya terlambat," ujar Minah saat berkunjung ke rumahnya. Mengingat perkataan itu dia berdengus berat dan coba melirik pintu ruang bawah tanah tampak berdiri di sudut taman. Bergegas Ariya pergi karena bulu kuduknya sudah merinding. Bunyi ponsel tersambung, badan Ariya gemetar ketika menghubungi kakaknya yang tadi berpamitan pulang sebentar. Karena langit sudah mulai gelap, ia takut ditinggal sendirian di rumah. Apalagi malam ini Shinta harus bekerja part time. "Kak angkat, dong!" rengeknya memegangi ponsel, perlahan jingga membias hitam di setiap sudut langit. Ariya gemetar ketakutan. Ia semakin gemetar lagi ketika mendapati pesan dari Aksan bahwa ia terlambat datang malam ini. Sembari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN