Rafian PoV. Aku menghempaskan diriku diatas kursi kantorku hingga sedikit berputar. Pikiranku kacau. Entahlah apa yang kulakukan ini benar atau salah. Hanya saja aku nggak mau mengingkari janjiku sendiri pada Dilea. Saat kepalaku terasa nyut-nyutan tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke dalam ruanganku. "Yan. Rafian. Gue nggak salah denger, kan. Kalau proyek besar kita sama Mister Roland loe berikan sama Dilea?" tanya Yoga, orang tadi. Mulutnya pun nyerocos saja hingga membuat kepalaku semakin pusing. "Yan. Jawab, Yan. Loe masih waras, kan? Cepet jelasin sama gue. Kenapa loe tarik rencana pembangunan yang sudah matang kita susun, Yan. Jawab!!" tambahnya hampir berteriak. Aku masih terdiam sambil memijat keningku yang semakin terasa pusing. "Ya! Bener!!! Semua itu bener! Proyek itu gue

