Bagian 20. Andra Pulang

1457 Kata
Lulu sontak mematikan pangilan telepon itu. Ia mengusap-usap d**a menahan debaran jantungnya yang gak karuan. " Seriusan nih? Andra?" gumamnya sambil kembali mengecek panggilan terakhir. Ponselnya kembali berdering. Nama 'My Andra' kembali muncul di layar ponselnya. "Mampus! Gw mesti jawab apa? Gimana bisa nama Devan yang tadi gw ucapin?" rutuk Lulu sambil menjitaki jidatnya sendiri. "Angkat gak ya? Kalau gak diangkat justru makin mencurigakan!" Lulu masih sibuk dengan keraguannya sendiri sampai akhirnya panggilan itu berakhir. Gadis itu setengah gemetar memegangi ponselnya. Semalam ia ngimpiin Andra dan sekarang tiba-tiba aja ditelpon Andra setelah sekian lama? Apakah ini pertanda? 'Gw telpon balik ajalah!' tegasnya dalam hatinya. Lulu langsung memencet nama 'My Andra' dipanggilan terakhir tadi. Ia menggigiti kukunya menahan gugup. Otaknya sibuk merangkai berbagai alasan. "Halo Lu.." Andra mengangkat panggilan di seberang sana. "Ha-halo Ndra.." jawab Lulu gugup. "K-kamu barusan emang nelpon aku atau salah sambung?" Pertanyaan garing macam apa ini? Lulu gemas kepada dirinya sendiri. Udah tau tadi Andra nyebut nama dia. "Emang nelpon kamu Lu... Aku ganggu ya?" "Tadi kok dimatiin? Lagi nunggu telpon seseorang ya?" "Ooh, enggak.. enggak! Tadi lagi di kamar mandi. Hehee.." karang Lulu. Pintar ngibul sekarang. "Aku lagi di Jakarta loh Lu..." Lulu terperanjat, " Hah? Seriusan? Kapan kamu nyampe? Kok gak ngabarin aku? Dalam rangka apa nih pulang? Kan belum libur semester?" Lulu memberondong Andra dengan rentetan pertanyaan. "Hahaa.. bingung mo jawabnya nih!" Andra tertawa lirih di seberang sana. "Dadakan sih Lu.. Baru tadi pagi nyampenya. Sekarang aja lagi di rumah sakit!" "Hah? Rumah sakit? Siapa yang sakit? Kamu?" kaget Lulu lagi, sontak hatinya langsung merasa cemas. "Bukan Lu.. Ayah tiba-tiba masuk ICU.." "Apa?!" "Ya udah, aku ke sana sekarang! Share loc Ndra!" Lulu langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Andra. Ia buru-buru mandi kilat dan bersiap-siap. *** Lulu setengah berlari menelusuri lorong rumah sakit. Ia kebingungan mencari ruang ICU. Padahal tadi udah tanya sama mbak-mbak susternya. "Duh dimana sih? Perasaan arahnya udah bener deh.." gumamnya sambil celingukan. "Apa gw telpon Andra aja ya?" Lulu akhirnya sampai sampai juga di ruang ICU setelah bertanya kepada ibu-ibu yang kebetulan lewat. Ia melihat penampakan Jono yang lagi duduk di kursi tunggu. "Jono!" panggil Lulu sambil menepuk paha Jono sekuatnya. PLAK! "Anjir!" Jono terkaget, hampir aja ia menjatuhkan ponselnya. Ia mendelik sebal setelah melihat siapa yang mengeplaknya. Kalau aja ia latah udah kena tonjok tuh pelakunya. "Lulu! Sakit tau! Apaan sih lu?" geram Jono setengah teriak. "Ssttt... jangan berisik ah! Ini ICU dodol!" bisik Lulu. Mbak-mbak suster yang lagi duduk di meja jaga langsung mempelototin kedua makhluk ini. Lulu berusaha nyengir kuda ke mbaknya, memohon maaf. "Lu kenapa gak ngabarin gw sih?" bisik Lulu "Lah gw juga baru ditelpon Andra tadi siang. Kaget banget gw tau! Kirain lu udah tau duluan!" "Ngg.." Lulu menelan ludah. Mereka gak tau aja kalau dia udah lama gak kontak-kontakan sama Andra. "Gw baru dikabarin barusan. Ini aja mandi ninja gw!" lirih Lulu. Jono menarik napas dalam, " Itu juga gw yang nyuruh Andra nelpon elu Lu." sambungnya. Lulu ternganga. Maksudnya? "Udah! Gak usah nganga gitu. Kami udah tau kalau lu sama Andra lagi diem-dieman kan?" serang Jono. Lulu menyandarkan badannya ke sandaran kursi. Ia hanya mengangguk lemah menanggapi Jono. Entah kenapa Lulu merasa sakit hati. Jadi kalau gak disuruh Jono, Andra gak bakal ngabarin? Apa hubungan mereka harus serenggang ini? Apa segitunya Andra ingin menjauh? "Jangan mikir macam-macam!" ujar Jono seolah tau isi kepala Lulu. Nih orang cenayang apa ya? " Dia cuma takut gak lu angkat Lu, karena status kalian kan lagi break dulu. Dia gak mau lu ikutan repot. Gw bilangin, Lulu mungkin bakal lebih sakit ati kalau lu gak nganggap dia Ndra. Cewek lu gak sepicik itu! Makanya dia berani nelponin elu!" "Makasih ya Jon." Lulu menepuk bahu Jono. Jono mengangguk. "Trus Andranya mana? Anak-anak yang lain?" "Andra lagi di dalam! Masuknya gak boleh rame-rame. Trus Faisal sama Tyo lagi ada kuliah, tadi mereka udah ke sini kok." "Trus lu gak kuliah?" "Orang gw kuliah cuma sampai Kamis. Gw padat-padatin tuh jadwal. Ngapain rajin amat ngampus tiap hari." kilah Jono. Setelah berulang kali di pelototin suster jaga karena asik ngerumpi, akhirnya Lulu dan Jono memutuskan untuk memainkan ponsel masing-masing daripada berisik. Tak lama kemudian pintu ruang ICU terbuka, bundanya Andra keluar dengan mata sembab. Lulu langsung bangkit menyambut calon mertuanya. "Bunda..." Lulu langsung menyalami bunda Andra dan mecium tangannya dengan takzim. "Naak.." bunda Andra memeluk calon mantunya itu. Mudah-mudahan benar-benar jadi mertua-mantu. "Ayah kenapa bund?" tanya Lulu. "Serangan jantung..." Bunda Andra terisak, menangis untuk kesekian kalinya. Matanya sudah lelah menangis sejak semalam. Lulu ikutan baper, ia ikut menangis sambil mengelus punggung bunda Andra. Ikut merasakan kepedihan sang bunda. Bunda dan Ayah Andra ini kaya Habibie-Ainun, kemana-mana selalu bersama. Gak kebayang gimana paniknya bunda sendirian, apalagi Andra sedang jauh. Mereka gak punya anak yang lain, hanya Andra seorang. Lulu merutuki dirinya yang gak pernah mengunjungi orangtua Andra semenjak Andra di Jepang. Jono berdiri, ia berusaha menenangkan kedua wanita yang sedang menangis itu. "Bunda duduklah dulu.. Nanti bunda pusing." tawar Jono sambil membimbing bunda sohibnya ini. Bunda Andra ini sangat ramah dan baik hati, ia tidak ingin dipanggil tante. Ia menganggap semua teman-teman anaknya seperti anak sendiri juga, jadi harus memanggilnya bunda juga. "Lu, ajakin bunda makan gih! Kata Andra bunda belum makan dari pagi, tadi gw ajakin gak mau. Siapa tau sama lu mau. Andra juga kebingungan sendiri sampe gak mikirin makan." bisik Jono ke Lulu. Lulu mengangguk meng-iyakan. "Bund.. bunda belum makan ya? Lulu temenin makan ke kantin rumah sakit ya?" Bunda Andra menggeleng lemah, "Bunda gak lapar nak.." "Buund.. Jangan gini dong. Bunda harus makan biar ada energi. Nanti bisa-bisa bunda juga ikutan sakit. Bunda gak kasian sama Andra?" bujuk Lulu sambil mengusap-usap lengan camernya. "Lulu suapin? Yuk Bund?" Lulu berusaha tersenyum semanis mungkin. Biasanya, senyum maksimal Lulu bisa meluluhkan siapa saja. Dan bunda Andra pun luluh. Wanita itu berjalan pasrah dibimbing Lulu menuju kantin rumah sakit yang bahkan Lulu aja gak tau posisinya dimana. 'Malu bertanya sesat di jalan' batin Lulu. *** Setengah jam setelah Lulu dan bunda pergi, Andra ikutan keluar dari ruang ICU. "Loh, bunda mana Jon?" tanyanya kepada Jono yang sedang khusuk mainin ponselnya. "Ooh... tadi diajakin Lulu makan.." jawab Jono sambil mematikan ponselnya. "Ayah gimana Ndra?" "Lagi diperiksa dokter di dalam. Lulu datang?" tanya Andra setengah tak percaya. Bibirnya mengulas senyum tipis. Gadisnya datang? Padahal tadi ia sangsi kalau Lulu bakalan datang. Jono mengangguk. Ia menunjuk parcel buah yang tergeletak di sampingnya, "Itu.. Lulu yang bawa. Kan gw udah bilang, cewek lu enggak sepicik itu. Masa sih gw yang lebih ngerti dia, padahal kan cowoknya elu. Lu kek baru kenal dia aja Ndra! Pacaran udah dua taon pun. Orang asing aja dia tulungin, apalagi cowok sendiri. Walaupun manja dan banyak maunya, anaknya kan baik hati Ndra.." Jono tiba-tiba jadi orang yang bijaksana. Padahal biasanya, dia yang paling usil godain si Lulu sejak Andra gak ada. "Walaupun penampakan lu paling ancur di antara kita-kita, tapi kadang lu juga yang paling bener isi kepalanya Jon!" puji Andra sambil memangku sohib di sampingnya itu. "Sialan! Itu muji atau ngebully?" sewot Jono. . . "Andraa..." Andra dan Jono serempak menoleh. Lulu berdiri mematung beberapa meter dari mereka. Tangannya memegang sebuah kresek, dan tangan lainnya membimbing bunda Andra. "Lulu...?" Perlahan Lulu mendekat dengan hati yang berdebar-debar. Cowok yang udah hampir satu semester berpisah dengan ini, cowok yang beberapa bulan lalu berhasil membuatnya mewek semalaman, cowok yang selalu ia tangisi saat ia sedang sendiri, cowok yang tadi malam baru saja ia mimpikan, kini berada di depan matanya? Lulu menatap Andra dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya gemetar berusaha menahan tangis. Ingin rasanya ia menghambur memeluk cowok itu, tapi Lulu ragu mengingat status mereka. Tangisan Lulu akhirnya lolos juga.Si tomboy cengeng ini gak pernah bisa menahan air mata. Ia menutupi wajahnya sambil terisak-isak. Kerinduan itu tiba-tiba membuncah. Andra tidak bisa menahan diri lagi. Ditariknya tubuh gadis yang sedang terisak di depannya itu ke dalam pelukannya. Pelukan yang sangat erat, Lulu membalas memeluk pinggang Andra. Jono buru-buru menarik kresekan di tangan Lulu sebelum terjatuh, kek yang di drama-drama. Siapa tau isinya barang pecah belah, kan berisik! Andra menciumi pucuk kepala Lulu berulang-ulang. Rasanya ia gak mau melepaskan pelukan itu selama-lamanya, Andra sangat rindu! "Aku kangen banget Lu.." bisiknya. Lulu mengangguk dalam isakannya. "Ndra.. Aku belum keramas.. Jangan diciumin terus.." "O-ohh.. Pantesan asem!" gurau Andra. "Ish..." Lulu mencubit pinggang Andra. Mereka sama-sama tertawa dalam tangis. Jono menatap jijik pasangan prik yang sedang ber-drama di depannya itu. Ia melirik Bunda Andra yang ternyata malah tersenyum melihat kelakuan putra dan calon mantunya. Jono menggeleng-geleng kepala sambil memutar bola matanya. Tapi sedetik kemudian, ia tersenyum lebar setelah mengintip isi kresekan Lulu. Ada dua nasi bungkus dan dua cup jus mangga. Pastinya untuk Andra dan dirinya pikirnya kepedean.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN