Sebulan berlalu setelah perang Kanya-Beverly. Devan memutuskan untuk tidak menghubungi Lulu dulu, mengingat Beverly yang super posesif setelah kejadian itu. Gadis itu selalu mengintili Devan hampir setiap hari, dan kalau lagi gak bersama, Devan wajib lapor dua jam sekali. Devan nyaris gila meladeni cewek itu kalau gak ingat janjinya ke almarhum Beryl.
Hari itu Devan bahkan sampai mengamuk karena harus menunggui Beverly mengulangi ritual facialnya lagi. Mereka keluar dari salon itu ketika hari sudah gelap dan dengan perut kelaparan. Devan tidak berbicara sepatah kata pun kepada gadis itu, bahkan sampai mengantarkan gadis itu ke depan rumahnya. Ia sangat kesal dan marah, takut tidak bisa menahan diri dan mengumpati gadis itu.
Bisa-bisa Beverly nanti mengeluarkan jurus andalannya, menangis drama dan berujung pingsan. Bisa runyam masalahnya.
Ingin rasanya malam itu Devan menemui Lulu untuk meminta maaf, tapi ia yakin Lulu pun pasti sedang kesal kepadanya. Akhirnya Devan memutuskan untuk mabar dengan teman-temannya.
Kanya pun hari itu bernasib sama dengan Beverly. Ia disidang kedua temannya, bisa-bisanya bikin malu dikeramaian. Walaupun Kanya sudah membela diri karena ia dijambak duluan, tapi tetap saja Dinda dan Lulu mengomeli dirinya.
'Dasar cewek gelo! Cocok banget pacaran sama cowok gelo itu! rutuk Kanya dalam hati.
Sementara itu, Faisal juga sudah lama keluar dari rumah sakit, tangannya yang patahpun sudah sembuh. Ia juga sudah mulai latihan ngeband lagi setelah vakum sebulan lebih. Hari ini Faisal bertekad mau menemui Lulu di fakultasnya. Ia ingin meminta maaf atas kesalahan waktu itu. Faisal sudah konfirmasi ke Kanya, ketiga cewek itu ada kelas bareng hari ini.
Faisal duduk di bangku taman, nungguin Lulu cs kelar kuliah. Ia sibuk memainkan ponselnya tanpa mempedulikan ciwi-ciwi ekonomi yang tepe-tepe norak di sekitarnya. Para ciwi-ciwi ini sibuk berbisik-bisik melihat penampakan cowok ganteng yang gak pernah mereka lihat sebelumnya. Faisal mendengus, ia sudah biasa dipelakukan begitu.
"Saaal...!" panggilan Kanya mengalihkan atensi Faisal dari ponselnya.
Faisal menoleh mencari sumber suara itu. Ia melihat Kanya setengah berlari menyamperinya, gadis itu terlihat sangat kegirangan bertemu pujaan hatinya. Faisal tersenyum sambil melambaikan tangannya. Lulu dan Dinda juga tampak mengekor di belakang Kanya.
"Udah sembuh banget Sal?" tanya Kanya sumringah sambil mendudukkan pant4tnya di bangku beton.
Faisal mengangguk, "Ho-oh."
Lulu mendekati kedua orang itu dengan perasaan enggan, masih ada sedikit rasa sakit hati sama Faisal.
"Lu! Gw datang ke sini mo minta maaf sama lu." terang Faisal secara frontal.
Lulu mendengus, "Telat amat.." lirihnya sinis.
"Gw nunggu sembuh dulu Lu!" Faisal berusaha membela diri.
"Gw bener-bener gak bermaksud ngelecehin dengan omongan itu Lu. Gw cuma terprovokasi sama si gelo itu! Gak tau harus ngomong apa lagi buat bikin dia panas. Gw dan dia emang sampah banget udah jadiin lu objek ejek-ejekan. Maaf banget Lu.." terang Faisal lagi. Wajahnya memelas memohon ampunan Lulu.
"Lu tau gak Sal? Omongan lu itu bakal bahaya buat gw kalau orang lain yang dengar dan mikir macam-macam!" keluh Lulu.
"Cara berantem lu sama Devan itu lebih kekanak-kanakan dibandingin duel Kanya sama ceweknya si Devan itu! Seenggaknya mereka berdua itu gak bawa-bawa nama orang lain!" cerocos Lulu sedikit emosi.
Kanya menyikut paha Lulu yang berdiri di sampingnya, "Lah kok gw dibawa-bawa?" sungutnya.
"Lagian lu kan tau Sal, Lulu gimana orangnya. Apa dia kaya cewek kegatelan butuh belaian? Enggak kan? Lu bisa liat sendiri gimana gaya pacarannya sama sohib lu. Gw kenal Lulu sejak masih ingusan loh Sal. Gak pernah macam-macam anaknya. Orang Bapak sama abang-abangnya protektif banget!" Dinda ikutan membela Lulu.
Faisal mengangguk-angguk. Ia memang salah banget udah ngomong sembarangan. Gak kebayang kalau Andra tau, orang Jono aja bisa semarah itu ke dia, apalagi Andra!
"Gw bener-bener minta maaf Lu.." Faisal mengatupkan kedua telapak tangannya.
Lulu tersenyum sambil menurunkan tangan Faisal. Ia memang sudah memaafkan Faisal sejak mendengar penjelasan dari Devan dulu, selama ini ia hanya menunggu iktikad baik dari Faisal saja untuk meminta maaf.
"Gw udah maafin lu Sal. Lain kali gak usah cari masalah lagi sama Devan. Gw kan udah bilang, dia itu g!la. Kalau papasan di jalan, cuekin aja! Anggap aja lalat lewat." terang Lulu bijak.
"Makasih Lu..Ya udah, gw cabut ya.." Faisal bangkit.
"Yaahh... Sal... Ngantin bareng dulu kita.." Kanya bersungut sedih. Baru aja dia ketemu gebetannya setelah sebulan lebih. Demi loyalitasnya kepada Lulu, Kanya juga ikut-ikutan gak ketemuin Faisal.
"Lain kali aja ya Nya! Gw ada janji latihan sama anak-anak.." ujar Faisal sambil menunjuk gitar yang sedari tadi ia gendong di punggung. Ia cengiran lebar untuk mengantisipasi ambekan level 2 Kanya.
"Besok gw traktir lu bakso depan kontrakan?" tawarnya lagi.
Mata Kanya langsung berbinar, ia lansung tersenyum lebar dan menghentak-hentakan kaki kegirangan. Lulu dan Dinda langsung bergidik jijik melihat kenorakan anak itu.
"Ok deh, sampai ketemu besok ya. Lulu dan Dinda sekalian ikut ya, udah lama kita gak kumpul bareng" ajak Faisal juga.
Wajah Kanya langsung tertekuk kecewa, "Yah.. kirain cuma berdua.."
Lulu dan Dinda terkikik.
"Takut dicemburuin si dedek ya..?" tanya Kanya cemberut.
Faisal menyerngitkan alisnya kebingungan, " Dedek siapa?"
" Dedek bebeb lu dong.. si junior cantik!"
Faisal makin bingung, "Junior yang mana sih?". Ia memandangi Lulu dan Dinda bergantian, berharap ada yang memberi penjelasan.
Lulu langsung terbahak geli. Ia mengubek-ubek pipi Kanya yang masih sibuk cemberut.
"Udah Sal! Lu pergi aja! Lama nih jinakin anak macan ngambek." usir Lulu.
Kanya mendelik sebal. Ia dibohongi Lulu! Tapi dalam hati ia tesenyum. 'Faisal masih jomblo! Yee...'
***
Lulu tiduran sambil mainin ponselnya di gazebo kecil di sudut halamannya. Boneka doraemon segede bagong yang ia bawa dari kamar dijadikannya bantal. Weekend sore-sore begini, Lulu lagi mageran level akut. Dia bahkan belum mandi dari pagi! Masih dengan piyama keroppi yang kena iler semalam. Bawaannya lagi malas ngapa-ngapain. Padahal dari tadi ditelpon Dinda ngajak rujakan di rumahnya, tapi Lulu lagi mager banget. Minta dijemput dan dimandiin dulu!
"Bodo! Emang gw mbok emban lu!" rutuk Dinda.
Lulu lagi iseng scroll IG-nya Andra. Stalking pacar judulnya. Walaupun sedang vakum, tapi mereka kan belum putus. Tak nampak aktifitas yang berarti di IG itu. Untuk urusan sosmed, Andra emang setipe sama Lulu, kurang suka upload ini-itu. Mereka buka sosmed cuma buat stalkingin orang-orang. Upload an terbaru Andra aja 2 bulan yang lalu, itupun foto bareng sama teman-temannya di depan kampus.
Entah karena rindu, semalam Lulu ngimpiin Andra. Lulu menangis sesugukan ketika terbangun, dan akhirnya bangun kesiangan gara-gara ia ketiduran lagi menjelang subuh. Moodnya langsung rusak gara-gara diledekin Jojo.
Jojo nyanyiin lagu Audi yang udah uzur banget.
"Tahukah kamu... semalam tadi.... Aku menangis...."
Jojo langsung kabur ke kamarnya begitu Lulu mengubernya sama sapu. Abangnya itu cekikikan di kamar sambil menyambung lagunya.
Lulu hanya bisa merutuki abangnya itu dari balik pintu, "Dasar tukang nguping! Gw sumpahin kuping lu kopokan!".
Lulu menghela napas panjang. Apa Andra tidak merindukannya? Gimana bisa tuh cowok mendiaminya selama ini?
Lulu rindu, tapi terlalu gengsi untuk mengontak duluan. Andra yang mengajak vakum, jika Lulu yang memulai kok kesannya ngarep banget! Rindu itu memang berat!
Atensi Lulu beralih ke IG Devan. Entah apa yang mendasarinya menstalking IG mantannya ini. Tiba-tiba teringat begitu saja.
Sudah cukup lama cowok itu tidak mengganggu dirinya, mungkin Lulu rindu?
Kebalikan dari Andra, Devan ini tipe manusia yang aktif banget bersosmed. Dengan tampang yang menjual itu, bahkan followernya aja sudah hampir 20k! Bentar lagi jadi selebG dia.
Mood Lulu sedikit membaik melihat polah tingkah mantannya itu dalam berbagai pose, tentu saja dengan penampakan Beverly di sana sini. Memang manusia narsis! Lulu tertawa sendiri. Lulu semakin antusias meng-scroll sampai ke bawah. Ia berhenti di suatu foto. Hanya foto biasa, sebuah gelang rajut dengan mainan hati yang tidak utuh, di bawahnya tertulis caption 'Still Keep It'. Hanya Lulu dan Devan yang paham, apa makna gelang itu, karena pecahan hati yang lain ada di Lulu. Entah dimana ia menaruhnya, atau mungkin sudah ia buang bersama peninggalan Devan yang lain.
Lulu tersenyum miris mencermati foto itu. Pikirannya berkelana kemana-mana. Apa waktu itu memang salah paham? Apa ia terlalu egois tidak memberi Devan kesempatan? Apakah benar cowok itu masih menaruh hati padanya? Apa di hatinya sendiri benar-benar tidak ada Devan lagi? Semua pertanyaan itu berkecamuk di pikirannya. Atas semua debaran yang ia rasakan belakangan ini, ia meragukan pertanyaan yang terakhir.
Cowok sableng itu masih ada di hatinya. Lulu bahkan mulai tepengaruh dengan tuduhan Faisal. Mungkinkah ia memacari Andra karena gak bisa move on dari Devan? Lulu menggeleng-gelengkan kepalanya menampik pikiran itu.
Lulu memicingkan matanya. 'Gw harus di rukyah nih' batinnya. 'Hei setan-setan! Pergilah dari otakku!'
Ponsel Lulu berdering menandakan ada panggilan masuk. Lulu langsung mengangkatnya tanpa mengintip siapa penelponnya.
"Halo.."
"Halo Lu.." seorang laki-laki menjawab dari seberang sana.
"Iya, ada apa Van?" tanya Lulu setengah mengantuk.
"Lulu... Ini Andra..." jawab seseorang itu.
Lulu langsung terduduk, matanya langsung melotot melihat nama yang tertera di ponselnya, My Andra!
Mampus!