Dan di sini Lulu minggu siang ini. Duduk pasrah di ruang tunggu bioskop. Sementara Devan sedang ngantri beli cemilan.
Lulu menatap nanar kepada 2 lembar tiket yang sedang dipegangnya. Jurrasic World Dominion itu film yang akan mereka tonton.
"Sial! Gw dijebak si kampr3t! Padahal tinggal gw beliin ayam goreng seember hutang traktiran lunas." Lulu menggerutu.
"Yang, Eh, Lu..yuk!" Devan datang dengan seember popcorn dan 2 cup cola.
Lulu memicing sebal dipanggil Yang.
"Kita pindah ke dekat teater 3 sono yuk. Bentar lagi film nya mulai nih." Devan tampak kesulitan membawa ember popcorn.
Lulu segera merebut ember itu, "Minta tolong napa? Lu mau menyemai bibit jagung di sepanjang lorong ini?"
"Hehe.." Devan cengesan.
" Tolong ya Yang.. Eh, Lulu.." ia segera mengoreksi karena bola mata Lulu nyaris keluar.
Lulu berjalan di belakang Devan. Suasana bioskop cukup ramai karena sekarang sedang weekend . Ditatapnya punggung Devan yang hari itu tampak macho pakai baju kaos warna hitam pas bodi. Otot punggungnya hasil rajin berolahraga, tampak samar. Dulu, walaupun belum setegap sekarang, punggung itu tempat yang nyaman banget buat bersandar.
Lulu menepis pikiran kotornya. Membayangkan masa lalu hanya akan membuatnya sakit hati.
' Gw ngapain dah ngekor nih orang!' batin Lulu. Ini semua gara-gara mobil si papa.
***
"Apa ini boleh gw artikan sebagai ajakan kencan Lu?" goda Devan sambil mengunggingnya senyum andalannya.
Lulu tau Devan hanya menggoda, tapi entah kenapa ia jadi terkesima. Lama ia terdiam, sampai Devan menjentikkan tangan tepat di mukanya.
"Malah bengong. Ntar beneran kesambet kolong wewe penghuni pohon baru tau rasa!" seloroh Devan.
Lulu tergagap, " E eh.. A-aapa tadi?"
Devan tersenyum, ia mengacak rambut Lulu gemas.
"Lulu sayang, lu sedang gugup atau beneran gak dengar?"
" Idih, ngapain gw gugup sama Lu!" bantah Lulu.
"Gw gak ngajakin lu kencan! Kepedean!
Gw cuma mo traktir lu sebagai ungkapan terima kasih karena udah bantuin gw gantiin ban mobil. Kalau gak ada lu mungkin gw udah beneran di comot kolong wewe karena kelamaan nungguin bantuan datang."
"Dan itu bukan kencan! Ingat, catat itu." sambung Lulu lagi.
Devan terkekeh, " Hehehe .. Iya deh, bukan kencan! Yang penting di traktir Lulu. Yeeeayy..!"
***
Dan, yang namanya traktiran itu diganti jadi nonton film! Lulu si tukang traktir, dari tadi justru belum keluar duit sepersen pun! Mulai dari tiket sampai camilan semua Devan yang bayarin. Lulu cuma disuruh duduk nunggu.
"Udah, nanti aja! Kaya siapa aja Lu!" tolak Devan tiap kali Lulu mengeluarkan dompet.
.
.
"Duh, kurang seru filmnya! Padahal gw nunggu tayangnya lama. Bagusan yang pertama dan kedua kan Lu?" Devan sibuk berciloteh di sepanjang lorong.
Lulu yang dari tadi terseok-seok mengikuti langkah Devan cuma bisa ber-ho oh ria. Untuk urusan film, mereka punya selera yang sama. Semakin sore bioskop semakin ramai, sehingga lorong antar teater terasa semakin sempit.
Devan yang masih asik bercerita, tiba-tiba merasa ada yang aneh. Lulu tak lagi merespon. Otomatis dia menoleh ke belakang, ternyata Lulu tertinggal jauh di belakang.
Ditunggunya sampai sang gadis sampai. Badannya yang tinggi dan tegap menghalangi jalan, membuat orang-orang yang lalu lalang mendelik kesal kepadanya.
Lulu mendekat dengan wajah sewot.
" Cowok macam apa lu?! Gw terhimpit kerumunan massa dan tergrepe-grepe cowok-cowok itu elu malah asiik aja jalan duluan!" sembur Lulu tanpa ampun. Lulu gak sadar kalau Devan bukan lagi pacarnya.
"Hmmm.. Tadi bilangnya gw suruh di depan. Gw mana tau kalau elu ketinggalan sayang.."
Lulu kesal dan mencubit perut Devan. Gila! Ototnya. Sedetik Lulu ternganga.
Devan yang harusnya mengaduh malah tersenyum melihat ekspresi Lulu. Dia tau apa yang ada dalam pikiran Lulu.
Ditahannya tangan gadis itu untuk tetap berada di perutnya.
"Jangan dicubit dong. Sakit. Mending diraba, roti sobeknya sekarang ada 6 lo Lu." goda Devan.
Wajah Lulu langsung memerah karena malu. Buru-buru ditepisnya tangannya dari perut Devan.
"Orang gila!" rutuknya.
Devan terkekeh girang. Becandaiin Lulu itu emang asik. Responnya itu loh, selalu semangat '45.
"Udah, sini deketan sama gw. Ntar lu ketinggalan lagi." Devan menarik tangan Lulu mendekat.
Tiba-tiba pintu teater 1 terbuka, dan segerombolan besar manusia keluar. Masing-masing sibuk membahas film horor yang tempo hari udah ditonton Lulu dengan kedua sohibnya. Lulu dan Devan yang kebetulan lewat pas di depan pintu itu otomatis ikut terseret.
Devan langsung menarik Lulu kepelukannya, melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Lulu, menarik Lulu ke dinding agar tidak ikut terseret lagi.
Semua terjadi begitu cepat. Dan tanpa disadari punggung Lulu sudah tersandar ke d**a Devan dengan kedua tangan Devan di pinggangnya. Lulu pasrah dengan posisi itu, dari pada ia tergrepe-grepe lagi.
Sampai lorong cukup sepi, kedua makhluk ini seperti tersihir. Mereka berpandangan dari samping, sibuk dengan pikiran masing-masing. Bibir Devan nyaris menyentuh kening Lulu. Bahkan Lulu merasakan detak jantung Devan yang gak karuan di belakangnya, sama seperti detak jantungnya.
Cup!
"Nanggung Lu, dikit lagi!" Devan tiba-tiba mengecup kening Lulu dan terkekeh usil.
Lulu langsung terbelalak kaget. Hampir copot jantungnya.
"Dasar kambing bandot! Lu mencuri kesempatan dalam kesempitan!" Lulu memukul Devan sejadi-jadinya. Yang dipukul berlari menjauh menyelamatkan diri.
Kedua orang yang bukan sejoli itu akhirnya sibuk berkejaran sampai ke parkiran.
.
.
" Lulu?"
Panggilan seseorang mengalihkan atensi Lulu yang sedang semangat bergelut dengan Devan. Dua makhluk yang sedang main cubit-cubitan ini lansung menghentikan aktifitas mereka.
Lulu kaget ketika mengetahui siapa yang menyapanya.
"Faisal?"
Faisal bergeming. Matanya menyorot tajam ke tangan Lulu yang sedang digenggam Devan. Sadar dengan pandangan Faisal, Lulu langsung menyentakkan tangan Devan. Devan membalas Faisal dengan tatapan yang tak kalah mengintimidasi.
"Pacar baru?" Faisal bertanya tanpa basa basi. Muka Faisal gak enak.
"E-eh, siapa?" Lulu jadi linglung dengan suasana ini.
Faisal tidak menjawab. Ia hanya mengangkat alis.
"M-maksud lu Devan?" Lulu bertanya lagi.
"Ahahaa.. bukan. Ini teman gw!"
"Teman tapi mesra?" balas Faisal penuh penekanan.
Lulu menggeleng cepat, ia tau ini akan jadi masalah. Devan yang melihat Lulu terpojok langsung menyela.
"Emang kenapa kalo TTMan? Masalah buat lo Bro? Lu bukan pacarnya juga kan?"
Faisal menyeringai sinis, " Gw emang bukan pacarnya. Tapi gw teman baik pacarnya."
"Dan sebelum Andra pergi, dia nitip jagain ceweknya ke kita-kita."
Devan tersenyum remeh, ia ingin membalas ucapan Faisal tapi Lulu menahannya.
"Sal, lu cuma salah paham. Devan ini cuma teman gw. Gw punya utang traktiran sama dia, dan hari ini gw bayarnya." Lulu berusaha membela diri.
Faisal membuang muka dan berdecih.
"Cih! Pertemanan macam apa yang sedang kalian jalin Lu? Apa pertemanan laki-laki dan perempuan itu wajar pelukan dan ciuman di tempat umum?
Lulu terperanjat, "Maksud lu Sal?"
"Gw udah liat dari tadi Lu. Sejak di pintu teater 1 sampai kalian lari-larian ala-ala film India barusan!"
Lulu terdiam. Ia tak tau harus menjelaskan bagaimana. Karena siapapun akan menyangka ia mempunyai hubungan yang istimewa dengan Devan atas apa yang terjadi tadi.
"Sal, gw.."
Faisal mengangkat tangan memotong omongan Lulu.
"Gw belum selesai Lu. Gw kecewa sama lu. Segampang itu lu berpaling ke cowok lain di saat cowok lu sedang berjuang untuk sukses. Pantas ya Lu, elu gak pernah gabung lagi sama kita-kita"
"Padahal kalau diingat, gimana drama nya lu saat Andra mo berangkat dulu.. Hah! Gw merasa lucu Lu." Faisal menggeleng kecewa.
Lulu yang mulai berkaca-kaca kini mendekati Faisal dan memegang lengannya, berusaha agar Faisal mau mendengar penjelasannya.
"S-sal.. dengar.. Lu salah paham. Gw gak ada hubungan apa-apa lagi sama Devan. Kami cuma temenan. Sumpah Sal."
"Lagi?" Faisal mengerutkan kening.