Lulu menggeber mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli dengan u*****n orang-orang yang ia salip. Bahkan lampu merah terakhir ia lewatkan begitu saja. Untung hari sudah sore, tidak ada polisi yang siaga di persimpangan jalan. Padahal Lulu yang baru beberapa bulan ini bisa nyetir, sebenarnya belum pernah ngebut. Tapi emosi dan amarah yang menguasainya membuat ia lupa dengan semua itu.
Tujuannya cuma satu, ia harus ke rumah cowok tengik itu. Mudah-mudahan ia ada di rumah, karena Lulu tidak tahu dimana tongkrongan makhluk astral itu sekarang. Dia benar-benar sangat muak dengan kelakuannya yang sudah kelewatan.
"Gila lu ya Van! Gak ada yang berubah dari dari lu! Lu tetap set4n!" umpat Lulu geram. Tangannya sibuk menekan klakson, meminta jalan. Ia sudah tak sabar ingin menghajar mantan g!lanya itu.
Mobil Lulu berhenti di depan sebuah rumah mewah kawasan elit. Lulu memencet bel dengan tidak sabar. Tak lama kemudian seorang wanita separuh baya tampak tergopoh-gopoh keluar dari dalam rumah.
"Maaf, mencari siapa Non?" tanyanya dari balik pagar.
"Bi Inah, masih ingat aku?" Lulu balik bertanya. Ia mendekat, berharap bi Inah masih mengenalinya dan memberi ijin masuk.
Dulu waktu masih pacaran sama Devan, Lulu pernah beberapa kali ke rumah Devan.
"Eh, ini Non Lulu kan? Pacarnya Den Devan?"
"Lebih tepatnya mantan, Bi." sahut Lulu tidak sabaran.
" Devan ada di rumah Bi?"
"Ada sih Non, tapi..."
"Aku boleh masuk ketemu dia Bi? Please.." pinta Lulu memotong ucapan Bi Inah.
Bi Inah mengangguk dan membukakan pagar. Ia mengenal Lulu, tidak ada yang perlu ditakutkan. Lagi pula majikannya pasti senang dikunjungi mantan pacarnya. Sebagai pembantu yang sudah lama bekerja di rumah ini, Bi Inah bahkan mengenal Devan lebih baik dibanding orangtua Devan sendiri. Ia yang sehari-hari mengurus kebutuhan tuan mudanya itu. Bi Inah bahkan juga tahu kalau Devan bahkan masih memajang foto Lulu di nakas kamarnya.
"Langsung masuk aja Non. Den Devan tadi sedang istirahat di ruang keluarga."
Lulu mengangguk, "Makasih Bi."
Devan sedang mengompres tulang pipinya yang memar. Ia memegang cermin dan meringis keperihan.
" Ssshh.. Siapa yang datang Bi?" tanyanya tanpa menoleh.
Sebuah tas tiba-tiba saja menghantam muka tampannya yang sudah memar. Devan yang tidak menyangka akan diserang lansung terpental ke sandaran kursi. Cermin yang ia pegang langsung jatuh ke lantai dan pecah.
"BRENGSEEK! Siapa yang..." umpatannya langsung terputus begitu melihat orang yang menyerangnya.
"Lulu?!" matanya terbelalak tak percaya.
"Apa?! Gak jadi ngumpat? Gak jadi ngomong kasar?" Lulu berkacak pinggang pongah di depan Devan. Matanya berkaca-kaca menahan tangis dan amarah. Deru napasnya tidak beraturan karena tadi setengah berlari dari gerbang pagar.
"Sekali b******k lu tetap b******k Van! Salah kalau gw sempat berpikir kalau lu udah berubah!"
"Dan satu lagi.. Sekarang lu juga BAN-CI ternyata!" Lulu menekankan di kata banci-nya.
Devan meringis kesakitan. Memar yang dari tadi sudah susah payah ia kompres kini berdarah lagi berkat hantaman tas Lulu.
Darah segar tampak mulai menetes di tulang pipi kirinya yang telak kena hantaman.
"Shhh.. Apa sih Lu? Datang-datang main marah-marah aja!" ia menyeka darah yang sudah sampai ke pipi.
Pipinya nyeri, tapi hatinya lebih nyeri. Gadis yang masih ia sukai sampai sekarang itu setahunya tidak pernah bertindak sekasar itu. Devan penasaran, apa yang sudah membuat Lulu semarah itu padanya.
Ia bangkit dengan kepayahan, karena seluruh sendinya terasa nyeri imbas berantem tadi siang.
"Lu kelewatan banget Lu, giniin gw! Masalahnya apa sampe lu semena-mena gini?" suara Devan agak meninggi.
Bi Inah yang baru aja masuk rumah, urung menawarkan minuman kepada Lulu. Ia kaget, dua anak muda saling hardik-hardikan.
Jantung tuanya tidak kuat mendengar kegaduhan, akhirnya ia memilih kembali ke dapur menuntaskan pekerjaan yang tertunda tadi.
"Haahh? Gw semena-mena?" Lulu menyunggingkan senyum mengejek.
Kini ia terpaksa harus mendongak karena Devan jauh lebih tinggi darinya. Ditelisiknya bentukan mantannya itu dari atas sampai bawah. Mukanya memar di sana-sini, tapi tidak lebih parah dari Faisal. Tangannya lecet dan lebam di beberapa titik, dan yang pasti itu lebih baik dari Faisal yang tangan kirinya di gips. Dan kakinya tampak baik-baik saja, ia bisa berdiri dengan kokoh.
"Lu ngaca gak sebelum ngomong? Yang semena-mena itu gw, atau lu dengan gerombolan sampah lu itu?" sambung Lulu lagi.
"Gerombolan sampah?" Devan menyerngit tak paham.
"Menurut lu apa istilah yang lebih bagus untuk sekelompok pecundang yang beraninya main keroyokan?"
"Segerombolan BANCI SAMPAH?" gigi Lulu gemeletuk menahan geram.
Devan semakin meringis, darah di pipinya gak mau berhenti mengalir. Kepala juga mulai pusing mencerna sesuatu. Lulu sebenarnya merasa agak bersalah karena tadi main timpuk aja, tapi emosi yang sedang menguasainya mengalahkan nuraninya untuk minta maaf.
"Kenapa diam? Sadar sama salah lu?" sambung Lulu.
"NTAR YA LU! Maksud lu apaan sih? Yang ngeroyok siapa? Ada juga gw yang dikeroyok!"
"Hahh!! Jangan memutar balikkan fakta lah Van! Jelas- jelas Faisal yang lu bikin babak belur sampai masuk IGD! Dia gak bakal begitu kalau gak dihajar rame-rame Van!" Lulu berteriak sampai urat lehernya mencuat.
Devan seketika menjadi geram, mata tajamnya melotot seolah mau menelan Lulu bulat-bulat. Ia lupa dengar rasa perih di sekujur wajahnya. Devan mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan muka Lulu. Nyali Lulu sedikit menciut, ia sadar Devan dalam mode murka. Lulu menelan ludah menahan rasa antara gugup dan takut.
"Gw gak perlu bantuan orang lain untuk menghabisi teman lu yang banci itu! Kasih gw 10 orang lagi yang kaya begitu. Habis di tangan gw sendirian!" Devan mendesis tanpa melepaskan tatapan intimidasinya.
"Gw memang b******k Lucyana! Tapi BAN-CI itu gak ada di kamus gw. Dua tahun bareng gw, gw rasa lu cukup tau itu!"
Devan bersidekap tetap mengintimidasi menunggu reaksi Lulu. Lulu setengah tertunduk, hatinya sakit entah kenapa. Padahal ia yang melabrak Devan, tapi entah kenapa malah ia yang merasa babak belur. Sudut hatinya terasa perih ketika Devan menyebut namanya dengan lengkap. Lulu menggigit bibirnya menahan tangis yang nyaris keluar.
Apa ia salah paham di sini? Jelas-jelas tadi ia mendengar Faisal lah yang dikeroyok. Tapi logikanya, sekelas Devan memang gak butuh bantuan orang lain untuk menghajar Faisal. Dulu aja waktu jaman SMA, Devan bahkan menang walaupun dikeroyok 8 orang.
"Lain kali sebelum lu ngelabrak orang, lu pastiin dulu kebenarannya! Sifat lu yang main percaya keterangan sepihak itu harus dirubah, itu gak fair buat orang yang gak salah!"
"Mending sekarang lu tanya ke teman pacar lu itu, dia yang dikeroyok atau gw yang mereka keroyok dengan gak etis? Menyerang dari belakang dan pakai senjata! Yang sampah itu gw atau mereka?!" Devan menunjuk pintu.
Ia sangat kesal. Kalau saja bukan Lulu orangnya, sudah ia hajar dari tadi. Tapi melihat gadis cantik itu tertunduk nyaris menangis, perlahan amarahnya sirna. Dari dulu ia selalu lemah dengan air mata Lulu.
Tiba-tiba saja Lulu terisak, ia sangat malu.
Dipungutnya tas punggungnya yang tergolek di lantai. Berat!
Lulu mengeluh dalam hati. Pantas saja wajah Devan berdarah lagi. Berasa tas ini diisi batu bata sepuluh buah. Wajah yang baik-baik sajapun bisa cedera ditimpuk tas seberat ini.
Lulu gak berani bahkan sekedar menoleh ke Devan. Tanpa berpikir panjang ia berbalik, bersiap mau melarikan diri.
Tapi rencana kabur dengan membawa rasa malu itu gagal. Langkah Lulu terhenti ketika salah satu tali tasnya ditahan Devan.
"Udah bikin muka tampan ini cedera, trus mo kabur gitu aja? Tanggung jawab dong!" tiba-tiba saja muka Devan sudah berhadap-hadapan dengan muka Lulu. Satu alis matanya terangkat dengan mengulas senyum samar yang sulit diartikan. Lulu meneguk ludah gugup.
***
"Jadi sebenarnya ini ada apaan sih?" Kanya berkacak pinggang sambil menatap wajah Faisal, menunggu Faisal memberi penjelasan.
"Sal..?"
Faisal masih bergeming. Ia menghela napas berat tanpa membalas tatapan Kanya. Merasa tak ditanggapi, Kanya melangkah ke arah Tyo dan merebut ponsel cowok itu.
"Kasih lihat gw foto yang tadi Yo! Kenapa Lulu bisa seemosi itu?" pinta Kanya.
Setengah malas Tyo membuka kunci ponselnya, dan memperlihatkan foto yang tadi ia perlihatkan ke Lulu.
Kanya terbelalak tak percaya, " Lu berantem sama Devan, Sal?"
"Gimana ceritanya lu bisa kenal Devan dan berantem kaya gini? Gila ya! Devan itu setan! Mending gak usah berurusan sama dia!"
"Trus sampe dikeroyok teman se genknya lagi. Udah deh, bisa gak tenang idup lu mulai sekarang Sal!" cerocos Kanya.
Sontak Faisal menoleh ke Kanya. Mukanya tampang bingung. Kanya yang sedang semangat bicarapun langsung terdiam.
"Siapa yang bilang gw kena keroyok Nya?" Faisal akhirnya membuka suara.
"Tadi si Jono yang bilang!"
Faisal melirik Jono dingin, "Info dari mana tuh?"
Jono yang merasa gak bersalah langsung aja menunjuk Tyo.
Tyo menghela napas panjang. Ia tak tahu harus mulai ngomong dari mana.
"Sorry Jon, tadi gw panik banget. Faisal udah babak belur dan tangannya patah. Dia hampir aja pingsan tadi. Untung aja ada pick up yang lewat. Gw ngabarin lu pas lagi nemenin Faisal di pick up tadi. Gw ngomongnya buru-buru, gak mikir." terang Tyo.
"Udah Yo! Jangan muter-muter, langsung intinya aja!" potong Kanya tak sabaran.
"Sorry Nya, bukan cowok itu yang ngeroyok Faisal, tapi kami yang keroyok dia!" sambung Tyo, ia tertunduk malu. Dua temannya juga ikut tertunduk.
"Ckkk, kalian... Aargh!" Kanya menyugar rambutnya gusar.
"Pas kami bertiga lewat, Faisal udah terkapar gak berdaya. Cowok itu masih aja menghajar Faisal tanpa kasihan. Gw tau ini pengecut. Tapi dia benar-benar monster, gak bisa dilawan sendirian! Terpaksalah, gw pukul pake batu kepalanya!" jelas Tyo lagi tanpa diminta.
Kanya memicingkan mata sambil memijit pelipisnya. Jono menggeleng-geleng kepala.
"Kenapa harus membelokkan cerita sih Yo? Lu bikin malu aja!" lirih Faisal. Ia juga baru tahu kàlau Tyo memberi info yang salah ke Jono.
"Maaf Sal, maksud gw supaya Jono ikutan emosi juga. Siapa tau dia bawa teman-teman yang lain buat nyariin tuh cowok dan balas dendam, gitu!" Tyo menunduk malu dengan ide kekanak-kanakan nya.
"Tapi yang datang malah ciwi-ciwi ini. Dan Lulu sampe emosi segala!"
"LU TAU KARENA APA YO?" sembur Kanya tiba-tiba. Semua yang di ruangan itu terlonjak kaget, ia sendiri juga kaget mendengar suaranya yang tiba-tiba meninggi.
"Dia mantan pacar Lulu sebelum Andra! Mantan paling brengs3k yang Lulu hindari! Gw yakin sekarang si Lulu lagi ngelabrak tuh cowok bikin perhitungan. Tau-taunya salah info gini, Lulu bisa malu sendiri tau gak lu?!
Dan lu Sal... utang penjelasan ke kita semua. Gimana ceritanya lu bisa baku hantam sama si g!la itu!" Kanya berbalik ke Faisal dengan wajah geram.
Kemarahan membuat Kanya lupa kalau Faisal adalah cowok incarannya. Ia yang biasa jaim dan manja di depan Faisal, hari ini seolah gak peduli dengan semua itu. Kanya lebih mengkhawatirkan Lulu.
"Jelasin Sal! Teman-teman lu ini pasti juga pengen tau!" tekan Kanya.
Faisal menatap nanar Kanya.