Lulu dan Devan terduduk lesu di kursi tunggu rumah sakit. Bau obat-obatan menyengat menusuk hidung Lulu yang sensitif dengan bau-bauan rumah sakit. Ia memijit pelipisnya yang mulai pusing. Hari ini terasa panjang baginya. Mulai dari cekcok dengan Faisal, drama Beverly di cafe, dan berujung di rumah sakit sekarang ini.
Lulu menatap Devan yang dari tadi tertunduk di sampingnya. Ia baru saja menelpon orangtua Beverly dan sepertinya habis kena omel. Mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Satu jam yang lalu...
"Lu, tolongin gw!"
Tangan Devan bergetar menahan kepala pacarnya yang terkulai. Beverly Pingsan. Lulu gemetaran, gak pernah lihat orang pingsan di depan mata.
"D-dia lu apain Van?"
Devan menggeleng, "Gw gak tau Lu. Bee pingsan gitu aja! Lulu..." Devan menatap cemas pacarnya, lalu berganti menatap Lulu seolah meminta bantuan.
"Angkat Van! Kita ke rumah sakit." Lulu bangkit, ia meraih tas Beverly yang tergeletak di trotoar.
Lulu sibuk menyetop kendaraan apa aja yang lewat, sementara Devan malah berjalan ke parkiran dengan menggendong Beverly ala bridal sytle.
"Woi! Kemana? Gak mungkin bakal lu boncengkan?" sorak Lulu.
Devan menoleh kepayahan, " Mobil Beverly di sana Lu!" Devan menunjuk dengan dagunya.
Lulu mengerngit heran dan menggaruk tengkuk.
"Bawa mobil ngapain pake drama mo lari di pinggir jalan segala!" gumam Lulu pelan, ia tak habis pikir. Lulu mendengus dan kemudian setengah berlari mengikuti Devan.
Mereka berhenti di depan sebuah mobil berwarna pink.
"Lu, tolong kuncinya mungkin di tas."
Sigap Lulu mengacak-acak isi tas Beverly dan menemukan kunci mobil di antara lautan kosmetik. Devan meletakkan Beverly di kursi depan dan menurunkan sandarannya. Ia berbalik ke Lulu, dan menyerahkan sebuah kunci lainnya.
"Tolong bawain motor gw ya Lu." pinta Devan. Keringat sebesar biji jagung menghiasi dahinya yang biasa glowing. Raut wajahnya sudah cemas tak karuan.
Lulu yang tadinya ingin sekali memarahi jadi gak tega. Ngomel bisa diundur nanti, yang penting nyawa orang harus selamat dulu. Ia hanya bisa mengangguk pasrah dan menerima kunci motor Devan.
"Ntar gw share lock di rumah sakit mana." ujar Devan sambil melajukan mobil meninggalkan parkiran.
"Gimana mo ngomelin kalau keadaannya sedang begini." gerutu Lulu sambil melangkah gontai ke motor Devan. Untung Lulu sering menunggangi motor Jojo.
Sebuah motor matic dengan abang-abang ojol berbaju hijau memasuki halaman cafe tepat sebelum Lulu menaiki motor Devan. Ia langsung teringat bahwa tadi sudah memesal ojol. Buru-buru Lulu menghampiri abang ojol yang sedang celingak-celinguk.
"Bang, pesanan ojol atas nama Lucyana ya?" tanya Lulu.
" Iya kak." si abang mengangguk.
"Maaf bang, saya gak jadi pesan." Lulu meringis sambil menangkupkan tangan meminta maaf.
"Yah, kak. Bisa kena suspend saya." si abang ojol tampak gak enak mukanya.
Lulu tersenyum, mengerti apa yang dikhawatirkan si abang.
"Tenang bang, saya gak batalin di aplikasinya. Saya juga udah bayar diaplikasi kok. Tapi abang gak usah antarin ke tujuan. Soalnya saya harus bawa motor teman. Abang atur aja gimana-gimananya, nanti saya kasih bintang 5 kok." terang Lulu.
Si abang ojol tersenyum sumringah, " Wah, terima kasih kakak cantik."
Lulu mengangguk dan tersenyum manis.
Tak lama Lulu berlalu dari parkiran menunggangi motor sport Devan.
.
.
.
"Van, cewek lu sakit apaan?" tanya Lulu memecah keheningan.
Devan mengangkat mukanya dan menggeleng. Ia menatap nanar tembok putih rumah sakit.
"Bee memang gampang cape'an Lu, tapi gak pernah sampe pingsan kek gini. Setau gw dia gak sakit apa-apa!"
Lulu mengangguk paham. Ia gak mau bertanya lebih lanjut karena Devan tampak kalut. Mungkin urusannya sama Devan bisa diselesaikan nanti.
" Van, gw pulang dulu ya. Ini udah malam banget. Lu yang sabar ya." Lulu menepuk-nepuk bahu Devan memberi semangat.
"Gw antar ya Lu."
Lulu menggeleng, "Gak usah, Kak Jojo udah otw jemput kesini. Bentar lagi juga nyampe, gw tunggu di depan aja biar dia gak bingung nyariin."
"Gw antar sampe depan.." Devan bangkit.
Lulu menahan bahunya agar tetap duduk.
"Gak usah Van! Lu stand by di sini. Gw duluan ya."
Lulu bangkit, tapi belum melangkah Devan sudah memengang pergelangan tangannya.
"Lu, thanks ya." lirihnya dengan tatapan sayu.
Lulu tersenyum dan mengangguk. Ia segera berjalan menjauh. Sebenarnya Jojo baru mau berangkat dari rumah, tapi Lulu sengaja buru-buru pergi karena tidak mau bertemu dengan orangtua Beverly. Ia takut mereka salah paham, sama seperti anaknya.
***
Seminggu kemudian, Lulu sudah nongkrong di lesehan teras kontrakan Andra dengan semangkok bakso di depannya. Ia bersama Kanya. Gadis itu merengek ingin ikut dengan dalih mau menjaga Lulu dari gerombolan siberat. Padahal modus sebenarnya mau ngapelin Faisal. Tapi apalah daya, ternyata Faisal belum pulang.
Kanya setengah cemberut mengaduk-aduk baksonya. Diliriknya dengan kesal laki-laki yang dari tadi tak henti-hentinya mengulas stok senyum termanis, Jono!
"Sepi amat Jon. Yang lain mana?" pertanyaan Lulu memecahkan konsentrasi Jono yang sedari tadi sibuk menelisik wajah Kanya.
Jono cemberut, lamunan indahnya tentang Kanya buyar sudah. Lulu terkikik.
"Faisal masih di studio, Tyo ada kuliah praktek, Andra di Jepang!" jawab Jono setengah hati.
Lulu mendelik, "Ish! Yang terakhir gak usah dibilangin."
Mereka mulai menyendok bakso masing-masing.
"Ssshh.. Pedes amat dah! Lu masukin sambal berapa sendok sih Nya?" mulut Lulu langsung monyong kepedasan. Matanya mulai berair.
Kini giliran Kanya yang terkikik. Ia sengaja melebihkan satu sendok sambal ke bakso Lulu, kesal karena sedari tadi Lulu menikmati penderitaannya yang gak nyaman dipelototin Jono.
"Dua sendok doang Lu, kek biasa." kilah Kanya.
"Dua sendok kok pedes amat!"
"Ga tau! Tanyain si mas gih! Cabe mahal kali, jadi dicampur cabe setan."
Jono yang nyaris menandaskan bakso beserta mangkuknya, kelimpungan tiba-tiba ditatap penuh harap oleh Lulu.
"Ssshh.. Apaan dah?"
"Es teh gw Jon.." pinta Lulu sambil mengejapkan matanya yang mulai berair.
"Ish.. minta ndiri!" acuh Jono sambil menyeruput kuah bakso.
Lulu memicingkan mata kesal, mulutnya udah kepedasan. Ia menyikut Kanya, nyaris aja Kanya tersedak bakso. Kanya melotot kesal. Keduanya langsung main pelototan sambil komat kamit gak jelas. Kanya langsung mengerti apa mau Lulu.
"Jon, gw haus.." pinta Kanya lirih.
"Kanya haus? Tunggu ya." secepat kilat Jono berlari menyebrangi jalan kecil di depan kontrakan.
"Sekalian punya gw Jon!" sorak Lulu dari kejauhan.
"Dasar kampr3t! Gw gak digubris, lah elu baru mo ngomong aja udah sampe dia di seberang!" gerutu Lulu.
Kanya terbahak puas.
Tak lama Jono kembali dengan membawa nampan berisi tiga gelas minuman. Ia kembali menyeringai aneh eh, tersenyum ke Kanya. Sebenarnya Kanya sangat kesal, tapi apa boleh buat, tenaga Jono dibutuhkan. Kanya membalas dengan seringaian yang tak kalah anehnya.
"Segelas es jeruk segar untuk Kanya yang cantik. Segelas es teh untuk jomblo new born.." Jono berlagak seperti pramusaji profesional.
Lulu langsung merenggut mendengar celotahan Jono. Ia langsung menyeruput es tehnya tanpa ampun. Perpaduan antara kepedasan, haus dan kesal.
"Tumben amat lu ke sini Lu? Perasaan sejak Andra pergi lu gak mau lagi gabung sama kita-kita." tanya Jono.
Ketiganya kini sedang selonjoran kekenyangan. Warung bakso depan kontrakan makin rame. Bahkan parkiran motor udah nyampe ke halaman kontrakan Andra. Untung banget, kalau gak ada kontrakan Andra mungkin Lulu gak bisa selonjoran habis ngebakso. Rame gini, gimana bisa berlama-lama. Yang ada dipelototin orang-orang yang ngantri.
"Gw kangen sama lu Sarjono." jawab Lulu ngasal.
Jono mencibir, "Preeet!"
"Enggak ding. Sebenarnya Kanya pengen makan yang pedes sekalian silaturahmi sama lu."
Kanya menepuk paha Lulu yang sembarangan ngomong. Matanya melotot nyaris keluar. Lulu tergelak.
Jono yang percaya gitu aja langsung mengembangkan senyum peps*dent. Untung aja gak cabe yang nyelip di gigi.
"Baiklah Sarjono, yang barusan ngarang juga. Sebenarnya gw ada perlu sama Faisal." kejujuran Lulu memudarkan senyum peps*dent Jono. Tampangnya langsung ngambek seperti orang yang sakit gigi.
"Aseeem!" umpat Jono.
"Perlu apaan sih? Kepo gw!"
"Ada deh Jon.."
Tak lama kemudian ponsel Jono berdering. Ringtone nya yang super berisik terdengar sampe ke teras.
"Hape lu bunyi tuh Jon! Lu budeg ya berisik amat ringtonenya!" Kanya setengah bersorak sambil menutup kupingnya.
"Hehee.. Maaf Kanya cantik. Kalau gak keras gak kedengaran. Kalah sama bunyi mesin!" balas Jono dengan senyum miris.
"Buruan angkat gih! Budeg kuping gw!" sembur Lulu.
Setengah malas Jono bangkit dari posisi selonjorannya, dan masuk ke dalam rumah menjawab panggilan.
Terdengar suara Jono kasak-kusuk menjawab penggilan teleponnya. Sepertinya ada sesuatu yang cukup gawat terjadi. Lulu dan Kanya saling berpandangan dan mengendikkan bahu.
"Lu! Nya! Ikut yuk!" Jono muncul dari dalam rumah. Tangannya sudah menenteng jaket dan helm. Raut mukanya sangat gusar.
Sontak Lulu dan Kanya serempak bertanya, " Kemana?"
"Ke klinik Asra Medika! Faisal dikeroyok!"
"APAAA?" teriak Kanya histeris, Lulu sampai kaget nyaris menendang mangkok bakso yang sudah kosong.
"Buru ah! Ntar aja dramanya!" sahut Jono.
"Baksonya bayar dulu Lu! Sekalian punya gw." sambung Jono.
"Ya yaaa..." Lulu mendelik, lalu menyebarangi jalan dengan membawa nampan yang berisi mangkok dan gelas kosong.
.
.
.
Kanya setengah berlari memasuki klinik. Lulu yang baru aja parkir ditinggal begitu saja. Lulu geleng-geleng kepala, sepanjang jalan Kanya tak henti meratapi Faisal.
"Dasar! Kek laki lu aja yang terluka Nya!" gerutu Lulu sambil membanting pintu mobil.
Dari kejauhan Lulu bisa mendengar suara tangisan Kanya di dalam klinik. Samar juga terdengar suara Jono yang sedang menenangkan Kanya. Jono yang berangkatnya sama motor sudah lebih dulu sampai.
Lulu memasuki klinik, tampak sudah ramai di sana. Faisal tergolek tak berdaya di hospital bed. Ia diinfus, tampaknya kondisinya cukup parah. Faisal tampak meringis, entah karena kesakitan entah karena kebisingan yang dibuat Kanya. Sementara Jono yang duduk di dekat kaki Faisal tampak cemberut, ia cemburu melihat perhatian Kanya ke Faisal. Iseng dipukulinya kaki sahabatnya yang sedang tergolek itu sebagai pelampiasan, sehingga si empunya badan semakin meringis. Kanya marah dan langsung menghujani Jono dengan pukulan.
Di sana juga sudah ada Tyo dan dua orang teman Faisal lainnya. Mereka terduduk di kursi dengan muka sedikit memar di sana-sini.
Lulu mendekat, ditatapnya Faisal dengan wajah khawatir. Niatnya hari ini memang ingin menemui Faisal, menuntaskan kesalahpahaman yang terjadi tempo hari. Tapi Faisal yang dalam kondisi begini tidak mungkin untuk diajak bicara, apalagi masalah pribadinya Lulu. Tampaknya Faisal juga belum bercerita apa-apa kepada kedua teman serumahnya, karena dari tadi Jono juga tidak membahas apa-apa. Malah Jono juga tidak tahu apa tujuan Lulu ingin bertemu Faisal.
"Sal, lu berantem sama siapa? Kata Jono lu dikeroyok." tanya Lulu lembut.
Ditariknya sebuah kursi kecil dan duduk di samping bed Faisal. Tapi reaksi Faisal membuat semua yang di ruangan itu terperanjat. Ia melengos menghindari Lulu.
"MENJAUH 5 METER DARI GW!" Faisal berteriak dengan suara parau.
"Kurang dari itu gw bisa mati!"
Lulu terperanjat dihardik tiba-tiba, "M-maksud lu apa Sal?"
Lulu hampir menangis, ia sakit hati.
Kanya yang dari tadi kecentilan bergelayut di lengan Faisal sampai terlonjak kaget.
Faisal bergeming, ia tidak menjawab Lulu. Mukanya memerah menahan amarah, entah karena apa.
"Sal! Ini kenapa?" Lulu memberanikan diri bertanya. Ia sakit hati, tapi ia harus tau kenapa sikap Faisal begini kepadanya.
Faisal mengangkat tangannya yang tidak diinfus, menyuruh Lulu diam.
Lulu kalut, ia mulai menangis tanpa suara. Ditatapnya satu persatu orang di ruangan itu, berharap ada yang memberi penjelasan. Jono dan Kanya jelas tidak tahu, sementara tiga orang lainnya hanya saling berpandangan dengan wajah lesu.
"Lu.." Tyo memecahkan keheningan.
"Lu kenal orang ini? Dia yang udah buat Faisal sekarat kek gini!"
Tyo memperlihatkan sebuah foto di ponselnya. Lulu mendekat, melihat lebih jelas ke ponsel Tyo.
Matanya langsung terbelalak melihat foto Faisal yang sedang terkapar dihajar oleh seorang cowok yang sedang menduduki perutnya. Mesti foto itu agak blur karena diambil dengan buru-buru, tapi wajah cowok yang sedang menoleh ke kamera itu cukup jelas bagi Lulu.
Dada Lulu langsung terasa sesak, napasnya memburu. Tangis Lulu yang tadi tanpa suara berganti jadikan isakan geram. Ia menyambar tas punggungnya yang tergeletak di nakas dan berlari keluar bangsal klinik tanpa mempedulikan Kanya yang berteriak kebingungan ditinggalkan.
***