Devan mengangguk-angguk mendengar cerita Lulu. Terlihat jelas di mata nya Lulu yang meng-agungkan Andra. Ia menjadi sebal. Perkenalannya dengan Lulu tidak semanis itu. Devan yang sore itu trek-trekan sama genk nya di jalan belakang sekolah, gak sengaja menyiprat Lulu yang kebetulan sedang berdiri di pinggir jalan dengan genangan air sisa hujan. Walhasil, nyaris sebaju-baju Lulu basah semua. Gak ada perkenalan manis ala-ala Andra-Lulu yang sebulan kemudian langsung jadian.
Yang ada hampir satu semester Devan di amuk Lulu, walaupun hampir tiap hari ia mendatangi Lulu untuk minta maaf. Lulu baru mulai melunak ketika Devan gak sengaja menolong Jojo, kakaknya Lulu yang nyaris kena begal malam itu.
Pandangan Lulu tentang Devan yang selama ini ia nilai sebagai siswa badung seketika berubah, ketika ia dan keluarganya tergopoh-gopoh ke klinik tempat Jojo diobati. Jojo yang luka di pelipis dan pipi menunjuk seorang cowok di belakangnya yang ia daulat sebagai penolongnya. Lulu sangat kaget ketika mengetahui bahwa cowok itu adalah Devan. Keadaannya bahkan lebih menggenaskan dari Jojo, selain muka lebam, tangannya juga kena bacok. Dan saat Lulu dan keluarga datang, tangan Devan sedang dijahit. Empat orang begal yang mengeroyok mereka, tiganya berhasil dilumpuhkan Devan. Ternyata pengalaman berantemnya berguna juga. Jojo cuma kebagian satu, dan itupun berhasil membuat Jojo bonyok.
Sejak saat itu Devan menjadi akrab dengan keluarga Lulu, dan jalan Devan mendekati Lulu semakin terbuka lebar. Hampir dua bulan setelah kejadian begal itu, Devan jadian sama Lulu.
"Pantes ya Lu, elu lupa banget sama gw. Ternyata dunia lu setelah gw begitu indah." timpal Devan setelah Lulu menuntaskan ceritanya.
Lulu memainkan alisnya tanda setuju. Ia haus setelah bercerita. Dipanggilnya mba-mba waitress, ia memesan segelas es jeruk.
"Lu mo tambah gak?" tawar Lulu ke Devan.
Devan menggeleng.
"Gw emang playboy Lu. Tapi gw bukan cowok b******k yang suka ngancurin cewek. Gw punya kakak perempuan, gw bakal marah juga kalau ada yang ngancurin kakak gw."
" Gw galaunya sampai berbulan-bulan setelah kita lulus loh Lu. Gw yang gak lu kasih kesempatan buat membela diri waktu itu, benar-benar membuat gw down. Bahkan keluarga lu yang semula udah deket sama gw ikutan marah. Gw bahkan pernah nyeret Tantri di jalanan buat datang minta maaf ke elu. Tapi si j4lang itu malah tertawa kesetanan. Dia bilang rencananya berhasil. Benar-benar gak tau malu. Padahal video bugilnya malam itu tersebar kemana-mana. Gw habis dihajar bokap yang dapat video itu entah dari mana." Devan curhat dengan nada pilu.
"Hahhh..." Lulu menghela napas lelah. Ia tak mau membayangkan masa lalu yang suram itu.
"Semua udah berlalu Van. Gak perlu diungkit lagi. Kita juga udah punya kehidupan masing-masing." sambung Lulu.
Devan hanya membalas dengan anggukan.
"Udah sore banget nih. Balik yok?" ajak Lulu. Devan menggangguk.
Belum sempat mereka berdiri dari kursi, seorang cewek dengan rok span selutut mendatangi mereka. Heels hitam 9 cm tampak kontras di kakinya yang putih. Mini blouse dengan belahan d**a rendah membungkus atasan badannya yang tampak berontak ingin keluar. Plus muka kinclong paripurna made in salon. Dia cewek Devan yang Lulu pernah lihat di fesbuk!
'Gila! Ini Cindy mah lewat. Atasannya Cindy gak segede itu! Puas nih si kampr3t sama dia!' batin Lulu v****r.
"Sayang? Dia siapa?"
"Bee?" Devan kaget.
"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Devan lagi.
"Jawab aku dulu Van!" tegas si cewek.
Lulu yang sudah mau berdiri duduk lagi. Ia bersiap untuk menonton drama sepasang kekasih ini. Es jeruknya yang tadi sisa separoh, ia seruput kembali.
"Ini... Lulu." jawab Devan ragu.
Cewek itu terhenyak. Dipandangi Devan dengan mata berkaca-kaca.
" Tega kamu ya Van! Kamu tolak ajakan aku buat jalan, ternyata kamu nya malah janjian sama mantan!" gadis itu setengah menjerit, mencuri atensi orang-orang sekitar.
Lulu tertunduk. Hedeh, hari ini penuh drama.
Gadis itu berbalik menuju pintu cafe setengah berlari. Lulu salut, ia bisa berlari dengan heels setinggi itu.
"Beverly! Tunggu! Cckk.. Aaahh!!" Devan setengah kesal meninju angin. Ia menatap Lulu dengan kalut memohon bantuan.
Lulu membalas dengan mengangkat dagu menuju pintu, " Kejar! Lu nunggu apaan sih? Nungguin gw seret?" semprot Lulu.
"Maaf ya Lu!" Devan mengatupkan tangan meminta maaf, dan berlari mengejar ceweknya.
Lulu yang tinggal sendiri langsung merasa awkward dipandangi berpasang-pasang mata.
"Bikin malu!" rutuknya.
Tak lama Lulu beranjak ke kasir sambil memesan ojol.
"Meja 22 mbak!" Lulu menyerahkan kartu debitnya ke mbak kasir.
"Meja 22 sudah di bayar kak." ucap mbak kasir dengan pasti.
"Hah? Siapa yang bayarin mbak? Mbaknya salah kali, cek lagi deh mbak. Ntar mbak rugi loh!" tegas Lulu. Ia heran, siapa orang baik yang bayarin makannya.
"Benar kak. Tadi mas ganteng yang lari-larian keluar itu yang bayar kak. Pakai uang cash. Malah sisa banyak kak." si mbak kasir memberikan selembar uang 50 ribuan dan beberapa lembar 10 ribuan.
" Cckk! Si kampr3t!! Maksudnya apaan?" Lulu berdecak kesal sampai si mbak kasir kaget. Ia berjalan ke pintu mencari penampakan Devan di parkiran.
"Kak! Ini kembaliannya dan kartu kakak!" si mbak kasir setengah bersorak, ia kira Lulu pergi begitu saja.
Lulu balik ke kasir mengambil kembali kartu debitnya, "Kembaliannya buat mbak aja! Itu rejeki mbak." sahutnya.
Secepat kilat Lulu beranjak keluar dari cafe. Ia berharap masih bisa menemukan Devan di sekitar cafe. Hari ini Lulu benar-benar merasa seperti dikerjai, ia akan membuat perhitungan dengan manusia itu. Kalau gini ceritanya, utang Lulu gak bakal pernah lunas.
Lulu berjalan menuju motor Devan diparkir tadi. Motor sport merah itu masih betah nangkring di situ. Berarti yang punya masih disekitaran cafe.
Lulu celingak celinguk mencari keberadaan Devan. Tak lama, dari kejauhan Lulu melihat Devan dan pacarnya sedang seret-seretan di pinggir jalan.
Lulu menggeram, "Si kampr3t! Awas lu!".
Ia setengah berlari menyamperi Devan yang sedang berdrama. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar cewek yang bernama Beverly itu menangis histeris. Lulu mengintip di balik pohon.
"Lepaaas! Biarin aku pergi Van!" Beverly menampik tangan Devan yang menggenggamnya dari tadi.
" Bee... please... Jangan berlebihan gini dong!" suara Devan terdengar putus asa. Sepertinya ia sudah lelah menjelaskan dari tadi.
" Huhuhuuu.. Coba kamu posisiin diri kamu di posisi aku? Kamu ajak aku jalan, aku bilang gak bisa, aku mau nyalon sama teman. Tau-tau kamu nge-gap aku sedang jalan sama cowok lain! Gimana perasaan kamu?" Beverly menantang mata Devan dengan air mata bercucuran.
Devan yang biasanya bermata tajam kini tertunduk sayu. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia memang sudah berbohong dengan Beverly. Demi bisa jalan dengan Lulu hari ini ia tolak ajakan Beverly dengan dalih ada pertandingan futsal antar komunitas.
"Jangan nunduk Van! Tatap aku dan jawab jujur! Gimana pertandingan futsalnya? Kamu menang?" Beverly mendorong d**a Devan.
Devan menatap Beverly lembut, diusapnya rambut sang gadis. Beverly malah makin nangis kejer.
"Sstt... jangan mewek lagi dong. Gak malu diliatin orang-orang?" bujuk Devan.
Beverly tak menanggapi. Ia masih sibuk menangis.
"Sayang, dengar. Aku emang mo tanding futsal tadi, tapi batal karena Daren dan Rudi gak bisa datang. Trus aku dan teman-teman akhirnya nongkrong di sini. Terus gak sengaja ketemu Lulu yang lagi sendiri, aku samperin, eh sama teman-teman malah ditinggal." jelas Devan dengan karangan bebasnya.
"Preet.." timpal Lulu setengah berbisik dari balik pohon.
"Dasar tukang kibul! Gini nih yang bikin gw gak bisa percaya sama lu. Dan tuh cewek b**o banget kalau percaya."
"Berapa lama kamu ngobrol sama dia?" Beverly terdengar balik bertanya.
"Gak lama Bee, orang dianya juga udah mo pergi. Basa basi doang!" ngeles Devan.
Beverly tertawa hambar dalam tangisnya. Dan lama-lama tangis itu makin histeris.
Lulu yang lagi ngumpet setengah bingung, 'Apaan sih nih cewek? Sakit jiwa ya? Bentar nangis, bentar ketawa!'
"Aku udah setengah jam nontonin kamu yang lagi asik nostalgia sama dia Van! Gak usah pakai acara bohong!" Beverly histeris.
Ia berlari ke tengah jalan. Untung Devan sigap, dan langsung menangkap pinggang pacarnya. Nyaris saja, karena sesaat setelah itu sebuah mobil box melintas dengan kencang. Dua sejoli itu terduduk di trotoar. Tak lagi terdengar tangisan Beverly, tapi justru berganti dengan raungan Devan.
" BEE!! Bangun!"
Lulu yang sedang ngumpet mau tak mau penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Ia keluar dari balik pohon dan mendatangi Devan yang sedang panik menepuk-nepuk pelan pipi pacarnya.
"Kenapa sih Van?" Lulu ikut bersimpuh. Ia kaget melihat Beverly yang tak sadarkan diri. Rencana mau menyemprot Devan sirna seketika, melihat Devan panik ia ikutan panik.
Muka ganteng Devan pias, seketika matanya berkaca-kaca.
" Lu, tolongin gw!"