Bagian 9. Balada Lollipop

1633 Kata
Dua tahun lebih yang lalu... Hari kedua ospek mahasiswa baru. Lulu dan sekelompok teman-teman barunya, disuruh duduk melingkar sama abang senior yang kabarnya udah mahasiswa sepuh. Menurut desas desus antara mahasiswa baru, bang Hendra ketua BEM yang sekarang bahkan dulunya diospekin sama si abang senior jangkung ini. Badannya tinggi banget. Kira-kira 190 cm ada tingginya. Mukanya jutek banget, gak mempan di godain mahasiswi cantik sekalipun. Tipikal cowok setia banget lah. Cindy aja yang cantik, disuruh merangkak juga sama kek cewek-cewek dekil lain yang ikut terlambat. "Oke! Disiang yang cerah ini, kita ada sesi keakraban! DENGAR SEMUAAA...?!" soraknya pakai toa. Padahal gak pakai toa pun, suara si abang senior udah kek toa. "Dengar baaang..." cicit sekelompok anak-anak ini. "YANG KERAS!" " DENGAR BANG!!" "Gitu dong, udah pada makan siang juga!" si abang senior berjalan berputar-putar di tengah kelompoknya Lulu. Ada sekitar 10 kelompok lainnya yang duduk melingkar di tengah lapangan fakultas. Siang yang terik, suara teriakan senior di sana sini. Kepala Lulu mulai pusing, mana acara makan siangnya ala militer banget. Cuma di kasih waktu 5 menit, makanan harus habis tanpa sisa. Untung aja Lulu dapat jatah nasi bungkus lauk rendang. Diliriknya Dinda dan Kanya, ternyata ada di kelompok lain. Tak ada satupun yang dikenali Lulu di kelompoknya ini. Lulu menunduk sebal. Kali ini keisengan apa lagi yang mau dibuat si abang senior ini? Si abang jangkung mencomot sebuah lollipop yang menggantung dileher salah satu mahasiswa baru. "Nyet! Buat gw ya!" Si anak baru cuma bisa mengangguk ketakutan. Yap. Para senior kampr3t ini berhasil membuat tampilan Lulu dan teman-temannya lebih parah dari ondel-ondel. Topi dari bola plastik yang dipotong 2, muka dicemongin arang kek tentara mo perang, tas dari kresek hitam dan tali rafia merah, kaos kaki bola yang beda warna kiri kanannya, kalung berbagai macam permen yang ternyata tujuannya untuk dicomotin si kakak-kakak senior, dasi petai, plus name tag dari karton indomie yang ditaliin ke leher yang harus dibawa kemana-mana sebagai pengenal. Nama pemberian senior pastinya. Nama berbagai macam hewan dengan embel-embel ciri khas pemilik nama itu. Yang idungnya pesek dikasih nama monyet pesek, yang gendut dikasih nama gajah bengkak, yang rada keling dikasih nama kambing item, Cindy yang agak mendingan dikasih nama lucu, marmut merah jambu, persis novelnya Raditya Dika, entah apanya yang merah jambu. "Okeh!" Si abang jangkung mengemut permen itu, lalu memberikannya kembali kepada Monyet pesek, sang pemilik aslinya. "Lu emut, habis itu secara estafet lu terusin ke temen-temen lu, searah jarum jam. Pemegang permen berikutnya harus sambung mengemut, terusin ke teman sebelah, begitu seterusnya sampai permennya balik lagi ke elu Nyet!" terang si abang penuh kepuasan. Senior lain yang mengawasi ikut terkikik geli. Kelompok anak-anak malang ini langsung riuh, ada yang muntah mual, ada protes gak higienis, ada yang cuma ber huu huu ria. " Diaaaammm!!!" bentak Si abang jangkung. "Atau mau gw ganti? Kalian kunyahin petai dari mulut ke mulut?" Sontak sorakan protes langsung terdiam. Pilihan kedua lebih menjijikan. "Gw udah cek, dari kalian gak ada yang TBC ataupun HIV. Jadi aman, setelah ini dijamin kalian semua akan saling mengenal dengan baik. Ini akan jadi kenangan terindah kalian di ospek tahun ini." orasi si abang sok tau. "Oke, kita mulai! Lu hoki Nyet, karena ini permen Lu!" Lulu bergidik ngeri melihat penampakan cowok sebelah kanannya, karena Lulu akan dapat operan dari dia. Bentukannya nyaris mendekati abstrak. Bukannya body shamming, tapi si cowok abstrak yang hobi ngobrol itu, selalu meninggalkan liur yang memutih di ujung bibirnya. Belum lagi giginya yang kuning bak mentega. Lulu menelan ludah ngeri, mukanya pucat. Lulu sibuk berstrategi dalam hati supaya dia gak dapat operan lollipop dari si abstrak. 'Apa gw harus pura-pura pingsan? Atau gw kejang-kejang aja kek orang ayan? Haduh, mati gw! Habis ini gw rabies dah!' batinnya. "Ssstt.. Mo tukeran tempat gak?" seseorang di sisi kiri Lulu tiba-tiba menepuk bahunya. Lulu sontak menoleh, dan ternganga takjub. Is he an angel? Ganteng banget! Blasteran lagi. Cowok itu tersenyum manis, Lulu rela diabetes kalau dia penyebabnya. "Hei, buruan! Sebelum para senior sadar." si cowok memecah lamunan Lulu. Tanpa banyak berpikir Lulu mengangguk, dan dalam sekejap mereka sudah gantian tempat duduk. Tak ada yang sadar, karena proses estafet lollipop ini ternyata sangat drama. Banyak yang ber- iiiii.. ria sebelum terpaksa mengemutnya. Lulu lebih ikhlas mengemut bekasnya si cowok angel di banding si cowok abstrak itu. Sampai digiliran si cowok abstrak, dia mengemut cukup lama. Sepertinya dia doyan. Lulu jadi gak tega membayangkan masa depan si cowok angel yang rela berkorban untuknya. Apakah ketampanannya akan hilang setelah mengemut sisa si cowok abstrak? Apakah ia akan menjadi pangeran kodok sesuai name tag nya 'kodok buriq'? Pasti senior yang kasih nama ini adalah senior cowok yang ngiri. Cowok angel ini sempat ragu menerima lollipop sisanya si cowok abstrak, sesaat ia meneguk ludah sementara si cowok abstrak tersenyum tanpa dosa. Semua mata memandang iba padanya. Mungkin semua orang punya pikiran yang sama dengan Lulu. Namun pada akhirnya diemutnya juga dengan tampang yang sulit dijelaskan, bahkan ia mengemut sangat lama. Sepertinya liur si abstrak mengandung magic! Semua yang menonton merasa mual, terlebih Lulu yang setelah ini mendapat giliran. Lulu mendengar bunyi gemeretak di mulut si cowok angel, sesaat kemudian ia menarik tangkai lollipop dari mulutnya, hanya tangkainya saja, lollipopnya sudah hilang. "E-eeh maaf bang. Gak sengaja terkunyah! Saya kebiasaan bang, lollipop kalau udah kecil suka saya kunyahin." ia menghaturkan tangannya minta maaf. Si abang jangkung langsung berdecak kesal, "Ckk..!! Tarik permen lu! Emut, kasihin ke teman di samping! Setelah ini lu push up 20 kali!" "Baik bang!" cowok angel menarik lollipop yang tergantung di lehernya. "Bentar bang, permen tadi nyangkut di tenggorokan saya. Saya izin minum dulu." tanpa menunggu persetujuan si abang ia langsung meneguk air mineral yang ia ambil dari tas kreseknya. Cowok itu mengemut permennya sedikit, dan memberikannya ke Lulu. Sedetik ia tampak mengedipkan mata ke arah Lulu, seolah memberi tanda, 'udah aman, lu boleh emut bekas gw, gw udah cuci mulut barusan'. Lulu langsung mengemut permen dari si cowok angel tanpa ragu dan mengoper ke teman di sebelahnya. Teman-temannya yang tersisa mengemut tanpa ragu sampai si lollipop kembali ke Monyet pesek dan si monyet yang menghabiskannya. Biang bencana telah diselesaikan dengan keren oleh si ganteng cowok angel, dan semua sepakat tentang hal itu. Hari kedua ospek berakhir dengan damai. Di depan gerbang fakultas, Lulu berdiri menunggu Dinda menjemput mobil di parkiran. Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. "Hei. Sudah mau pulang?" Lulu menoleh, Si Cowok Angel sang penyelamatnya. Lulu tergagap, "E-eh.. Iya nih." Lulu tersenyum, ia tak tau harus berkata apa. "Tenang aja. Gw gak rabies kok. Gak TBC juga, gak HIV juga. Sehat gw." Lulu tergelak mendengar penuturan si cowok. Ia teringat acara estafet lollipop tadi siang. "Makasih banyak ya yang tadi itu. Gw nyaris pingsan tadi." Ia ikut tergelak. "Gw liat lu pucat banget tadi, gak tega gw." terangnya. "Oh ya, kita belum kenalan. Gw Revandra. Lu siapa?" cowok itu menjulurkan tangannya. Lulu ternganga, nama itu mengingatkan dia pada seseorang yang sudah susah payah ia lupakan. Nama yang hampir sama, akankah sifatnya juga sama? "Halo?" cowok itu membungkukkan kepalanya yang jauh lebih tinggi dari Lulu, menatap heran muka Lulu yang sedang dalam mode bengong. "Ah, gw Lulu!" Lulu segera menjabat tangan Revandra. "Panggil aja gw Andra, biar lebih gampang." sambungnya. Lulu mengangguk. Ia menghela napas lega, untung panggilannya beda! Lulu segera menepis pikiran buruk tentang cowok yang baru dikenalnya itu. "Cieeee... korban cinta Balada Lollipop.." sekelompok senior yang kebetulan mau keluar gerbang menyoraki mereka berdua. Andra tersenyum malu menggaruk kepalanya yang pelontos. Lulu juga tertunduk malu. Senior yang bernama bang Topan mengalungkan tangannya ke leher Andra, "Gercep ye lu! Padahal kalau telat dikit gw nih yang maju." bisiknya ke telinga Andra. Seorang senior cewek yang berdiri di sampingnya sontak mencubit pinggangnya. "Aaahh.. sakit. Becanda Yang.." bang Topan meringis sambil menggenggam tangan si kakak yang mencubit tadi. Lulu tersenyum canggung dan menganggukkan kepala kepada si kakak dan dibalas dengan senyuman kaku si kakak. Senior cewek biasanya memang lebih sok cool dibanding senior cowok. "Jangan lupa pajak jadiannya ya!" sorak mereka sambil berlalu. Abang-abang senior itu bersuit-suit norak. "Jangan pulang kemalaman! Besok hari terakhir ospek datangnya harus lebih pagi!" sambung mereka dari kejauhan. Sebulan setelah ospek Lulu beneran jadian sama Andra, sesuai prediksi abang-abang senior. Tentu saja campur tangan mereka yang ikut nyomblangin hampir tiap hari ikut memberi andil. Malah setelah itu bisa dibilang Lulu bucin banget ke Andra yang jadi idola ciwi-ciwi kampus. Bang Is si senior jangkung biang kerok Balada Lollipop, bertemu dengan Lulu dan Andra yang sedang nongkrong di taman kampus. Belakangan ia jarang terlihat karena sibuk ngurusin skripsi yang udah bertahun tak kunjung di acc buat sidang. " Nah, apa gw bilang? Estafet lollipop akan mengakrabkan kalian semua. Bahkan kalian sampai jadian kan?" "Gw bukannya gak tau akal lu hari itu Ndra!" sahut bang Is lagi. "Gw liat kok lu tukaran tempat duduk sama Lulu. Gw juga sadar lu sengaja ngunyah tuh permen.Untung gw lagi baik hati waktu itu, gak tega juga liat cewek lu ini ngemut sisanya si Gigi khoneng itu. Bisa-bisa si Gigi itu sekarang yang jadi cowok elu, Lu." bang Is dan Andra tergelak mendengar penuturan bang Is. Lulu mendelik sebal. Setahun kemudian bang Is wisuda. Tepat tujuh tahun ia menjadi penghuni kampus. Bahkan belakang namanya ditambahin anak-anak gelar selain S.E, yaitu M.A, Mahasiswa Abadi. Dasar junior laknat. Lulu dan Andra bahkan membawakan boneka yang besar khusus buat bang Is. Bukan buat ledekan, tapi sebagai tanda terima kasih dan kenang-kenangan buat bang Is. Ada andil bang Is juga di hubungan mereka. Kuliah bukan sekedar lulus tepat waktu. Tapi lebih tepatnya, 'Lulus di waktu yang tepat.' Bang Is yang bergelar Mahasiswa Abadi, tak lama setelah wisuda langsung direkrut sebuah perusahaan BUMN dengan gaji yang Wow untuk fresh graduated. Mengalahkan teman-temannya yang tiga tahun lebih dulu wisuda darinya tapi masih nganggur. Pengalaman organisasi bang Is di kampus menjadikan nilai plus dalam CV nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN