Bagian 8. Kalian Beda

1251 Kata
"Nama cowok lu Revanda?" Lulu langsung menghentikan kunyahannya, sepotong udang yang tadinya udah siap mau masuk mulut ia letakkan begitu saja di piringnya nasinya yang hampir tandas. Diraihnya segelas penuh air putih dan meminumnya tanpa jeda. Pertanyaan Devan mebuat tenggorokannya seret. Ditatapnya Devan yang dari tadi masih betah menunggu Lulu merespon pertanyaannya. "Jangan bilang lu punya pikiran yang sama dengan Faisal?" balas Lulu setelah cukup lama terdiam. "Kalau lu gak jawab, emang begitulah analisa gw Lu." Lulu melengos, "Jangan kepedean lu Van. Lu dan Andra itu dua orang yang beda banget. Gak ada sama-sama nya! Kebetulan aja nama kalian yang hampir mirip." "Cowok lu tau gak kalau nama mantan lu Devandra?" Devan balik bertanya sambil mengangkat alis iseng. "Pasti enggak kan? Karena lu takut dia salah paham?" Lulu tak menjawab, karena tebakan Devan 100% benar. Ia menarik napas panjang. Ia memang sangat jarang membahas mantan dengan Andra, karena mereka berdua sepakat masa lalu yang tidak menyenangkan tidak perlu untuk diungkit-ungkit. Tapi setidaknya, Lulu tau kalau mantan pacar Andra sewaktu SMA dulu bernama Jasmine. Mereka pernah berpapasan waktu nonton konser di GOR. Namun Lulu, tidak pernah sekalipun menyebut nama mantannya di depan Andra. Ia takut keceplosan menyebutkankan nama lengkap sang mantan yang hampir mirip dengan sang pacar. "Lulu? Is it true?" pertanyaan Devan membuncah lamunan Lulu. "Gak penting buat gw jelasin ke elu Van!" "Oh, oke.." Devan mengendikkan bahu. Ia mengulum senyum menyebalkan yang membuat Lulu yang tadinya tidak mau bicara banyak jadi mendelik sebal. "Asal lu tau ya, gak ada bayang-bayang lu sedikitpun di dirinya!" "Gw gak ada pikiran kesitu loh Lu." "Ckk, dari senyum nyebelin itu keliatan isi otak lu!" Lulu berdecak sebal. Ia berdiri dan berjalan. "Lah, mo kemana Lu?" heran Devan. "Cuci tangan! Lu mo jilatin tangan gw yang bau udang ini?" Lulu berbalik. Devan menjulurkan lidahnya, " Sini, gw mau!" "Cih. Orang g!la." Devan tertawa melihat punggung Lulu yang makin menjauh menuju westafel. Iseng diraihnya ponsel Lulu yang tergeletak pasrah di samping gelas es kelapa jeruk. 'Ganteng juga cowok lu Lu.' batin Devan setelah ia mencoba menghidupkan ponsel Lulu tapi ternyata terkunci. Ia hanya bisa melihat foto Lulu yang sedang senderan dengan seorang cowok yang dijadikan wallpaper layar kunci. Cowok dengan wajah sedikit blasteran. 'Pantes lu lupa sama gw! Lah gw nya malah masih membawa bayang-bayang lu di cewek gw yang sekarang.' Devan merasa tidak terima. Sebuah ide tiba-tiba terbersit di benaknya. "Ngapain lu pegang-pegang hape gw? Mo nge-hack?" semprot Lulu tiba-tiba sambil merebut ponselnya dari tangan Devan. Devan terkaget sambil mengurut d**a," Astaga Lu. Suuzan aje ke gw. Gw cuma mo lihat penampakan cowok lu. Eh ternyata.." "Ternyata ganteng?" potong Lulu. "Lumayan..." "Lumayan mbah lu. Ganteng banget tau. Dan BA-IK!" Lulu menegaskan di kata 'baik' nya. "Lah, emang gw gak baik gitu?" tanya Devan sok polos. Lulu hanya membalas dengan senyuman sinis. "Lu lupa gimana elu tiga tahun yang lalu? Lu gak lupa dong kejadian di birthday party Zara waktu itu? Lu bukan hanya menghancurkan perasaan gw, tapi lu juga udah merusak masa depan seorang gadis yang menjadi harapan besar orang tuanya! Gimana lu bisa hidup sesantai ini sampai sekarang Van?" d*da Lulu sesak membayangkan kejadian itu. Malam itu Lulu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri gimana brengseknya seorang Devan yang sejak awal emang terkenal playboy. Tapi ia tidak menyangka kelakuan Devan akan sejauh itu. Di salah satu kamar keluarga Zara ia memergoki Devan dengan Tantri bergulat panas di atas kasur nyaris tanpa pakaian. Lulu yang sedang bercanda gurau dengan teman-teman yang lain di taman, dibisiki oleh seorang teman, bahwa ia melihat Devan dan Tantri masuk rumah tapi belum keluar-keluar sampai sekarang. Perasaan Lulu langsung gak enak. Pesta anak SMA, minim pengawasan orang dewasa karena mami papi Zara sengaja memberi ruang untuk Zara dan teman-temannya. Ditambah lagi ada yang iseng membawa minuman alkohol. Pesta ini bisa berujung tragedi. Dan benar apa yang ia khawatirkan. Lulu gak bisa lupa bagaimana ia sampai gemetaran melihat adegan dewasa yang biasa di tonton teman-teman cowok sekolahnya pas jam pelajaran kosong. Devan sisa boxer, sementara Tantri sudah tidak pakai apa-apa lagi. Lulu yang histeris langsung berlari meninggalkan pesta tanpa menunggu penjelasan Devan sedikitpun, Devan yang seperti orang linglung hanya bengong jadi tontonan, sementara Tantri langsung terbirit masuk kamar mandi. "Bahkan jika gw ulang jelaskan sekarangpun lu pasti gak bakal mau percaya Lu." Devan berkata lirih. Sampai detik ini bahkan Devan tidak diberi kesempatan oleh Lulu untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Walau sebenarnya Lulu sudah mendengar selentingan cerita kalau minuman Devan malam itu dicampur obat perangsang oleh Tantri yang dari kelas 1 SMA memang sudah naksir Devan. Yang Lulu tau, Devan sendiri memang playboy. Ia suka tebar pesona ke cewek-cewek, bahkan jika disamping Lulu sekalipun. Ia mau pacaran dengan Devan karena Devan sendiri tidak pernah kurang ajar ke Lulu. Selain sifat playboy dan suka berantem, Devan bisa dikatakan tak punya kekurangan apa-apa lagi. Apalagi Devan orang yang sangat supel, ia bahkan sudah akrab dengan seluruh anggota keluarga Lulu. Papa Lulu yang kaku saja bisa dibikin jinak sama Devan. "Gak ada yang perlu dijelasin Van. Itu semua udah masa lalu. I don't care!" "Gw udah bahagia dengan Andra. Dan elu juga, sama cewek baru lu. Gw cuma heran, kirain setelah itu lu akan sama Tantri, setelah semua yang udah kalian lakukan. Ternyata beda lagi ceweknya." Lulu tersenyum sinis. "Gw rasa udah puluhan kali gw bilang, gw malam itu dijebak Lu!" sanggah Devan. "Lagian lu tau dari mana cewek baru gw?" alis Devan berkerut memikirkan sesuatu, tapi sesaat kemudian ia mengulum senyum. "Hasil stalking ya?" Muka Lulu langsung memerah malu. 'Sialan, kartu AS gw!' batin Lulu. "B-buruan abisin makanan lu! Gw mo pulang." Lulu langsung mengalihkan topik. "Awas kalau gak abis! Mubazir duit gw." Devan terkikik, ia mengangguk. "Santai Yang, belum jam 5 ini." Lulu melotot berang, "Jangan panggil gw Yang Yang! Emang gw kuyang." "Sayang maksudnya, elaaah..." sanggah Devan sambil mencomot nuggetnya. Devan memang sengaja tidak memesan makan berat, karena sebenarnya ia tidak terlalu lapar. Ia hanya mengulur waktu supaya bisa berlama-lama dengan Lulu. "Trus, lu kenal Revandra itu gimana ceritanya?" Lulu tersenyum tipis mendengar pertanyaan Devan. Bagaimanapun awal perkenalannya dengan Andra memang sangat indah, seperti drama-drama FTV. Mungkin bukan hanya Lulu, semua yang ada di sana saat itu merasa Andra sangat keren. Lulu tersenyum dan bersemu mengenang kejadian itu. Devan yang menanti jawaban merasa kesal, ia merasa menyesal bertanya, karena sepertinya ia agak cemburu melihat Lulu mengenang sesuatu yang indah dengan sang pacar. " Woii Lu! Ditanyain malah senyam senyum kek orang gila!" Devan mencubit pipi Lulu iseng. "Ish.. apaan sih pegang-pegang?" Lulu mendelik sebal. Lamunan tentang Andra jadi buyar gara-gara Devan. "Apaan? Buruan abisin makanan lu." "Lu bayangin apa? Senyam senyum?" "Bayangin Andra! Puas lu?" Devan merenggut kesal, ia memang salah tanya. "Jadi gimana ceritanya?" "Jangan ngiri ya kalau gw cerita." lirik Lulu iseng. Devan menggeleng malas. Padahal dari tadi ia memang sudah iri. "Jadi, Andra itu bisa dibilang semacam pahlawan lah. KEREN BANGET! Kalau gak ada dia, gw mungkin udah rabies seumur hidup." Lulu melebay. "Jadi dia udah nyelamatin lu dari kejaran anjing gila?" Devan terbahak. Ia membayangkan Lulu yang sedang terbirit-b***t dikejar anjing liuran, lalu datang pahlawan kesiangan yang bernama si Andra itu membawa tongkat dan mengusir anjing itu. "Heii! Khayalan anda berlebihan bro!" Lulu menggetok kepala Devan. Ia sepertinya tahu isi kepala Devan. " Dia bukan hanya nyelamatin gw. Tapi juga yang terbaik di ospek tahun itu!" Lulu tersenyum manis. Sepertinya ia bersiap-siap untuk menceritakan sesuatu yang menarik. Devan ikut tersenyum, walaupun agak panas, tapi demi berlama-lama dengan Lulu ia siap jadi pendengar yang baik. *** . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN