Bab1
Hari itu, Ara pulang lebih cepat dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, dan langit sore Jakarta terlihat cantik, berwarna oranye kemerahan. Di tangannya, ada sekotak kue stroberi kesukaan Devan, dibungkus rapi dengan pita merah. Dia sengaja mampir ke took kue favorit mereka di perjalanan pulang, berharap memberi kejutan manis pada kekasih yang sudah dia pacari hampir tiga tahun.
Langkahnya ringan ketika memasuki rumah yang mereka sewa selama ini. Sepatu dia lepas pelan di rak dekat pintu, tak ingin mengganggu. Tapi begitu melewati ruang tamu, sesuatu yang asing membuat alisnya berkerut. Dari lantai dua, samar-samar terdengar suara—lirih tapi penuh desahan. Ara berhenti. Jantungnya berdetak cepat, denyutnya terdengar di telinga. Dia mencoba menepis pikiran buruk, meyakinkan diri bahwa itu hanya suara TV atau musik.
Namun, saat ia menapaki anak tangga satu per satu, suara itu semakin jelas. Desahan seorang wanita bercampur dengan erangan seorang laki-laki. Napas Ara tercekat. Kotak kue di tangannya mulai terasa berat. Tangannya gemetar ketikad ia menggenggam gagang pintu kamar.
Perlahan,d ia dorong pintu itu.
Pandangan pertamanya membuat seluruh tubuhnya membeku.
Di sana, di atas ranjang yang selama ini menjadi tempat Ara dan Devan berbagi canda, tawa, dan mimpi, berdiri pemandangan yang memusnahkan semua kenangan indah itu. Devan—lelaki yang dia cintai—tengah menindih tubuh Susan, sahabatnya sendiri sejak duduk di bangku kuliah. Tubuh keduanya telanjang, kulit bertemu kulit, gerakan mereka penuh gairah dan tanpa rasa bersalah.
"Devan…?" suara Ara nyaris tak terdengar, serak dan patah.
Devan terlonjak, tapi bukan rasa bersalah yang pertama kali terlihat di wajahnya—melainkan keterkejutan dan sedikit kekesalan. Susan hanya menutup tubuhnya dengan selimut, menatap Ara tanpa kata.
“Ara… ini—” Devan berusaha bicara, tapi Ara sudah mundur.
Kotak kue jatuh, pita merahnya terlepas, kue stroberi hancur berantakan di lantai. Ara tidak menangis, bukan karena tak sakit, tapi karena rasa syok itu terlalu besar untuk mengizinkan air mata jatuh.
DIa berbalik, langkahnya tergesa. Tidak ada teriakan, tidak ada makian—hanya keheningan yang terasa lebih menyesakkan daripada ribuan kata. Dia keluar rumah, membiarkan pintu menutup dengan suara keras di belakangnya. Dia begitu kecewa. Pikirannya begitu kacau saat itu.
Hujan gerimis menyambut Ara di luar. DIa berjalan tanpa arah, hanya ingin menjauh sejauh mungkin dari rumah itu. Kepalanya dipenuhi gambar-gambar yang tak ingin Dia lihat, tapi terus muncul—Devan dan Susan, kulit mereka, suara mereka.
Rasa sakit itu berubah menjadi kemarahan, dan kemarahan itu mendorong Ara melangkah masuk ke sebuah club malam yang ramai di bilangan SCBD. Lampu-lampu neon memantul di kulitnya yang lembap oleh gerimis, dentuman musik membuat lantai bergetar.
Tanpa pikir panjang,Dia menuju bar. “Vodka. Double,” katanya pada bartender.
Satu gelas habis. Lalu satu lagi. Alkohol mulai menghangatkan tubuhnya, tapi tidak cukup untuk menghapus rasa sakit. DIa memesan lagi. Musik yang tadinya bising mulai terdengar seperti pelarian. Di tengah kerumunan, Ara bergerak mengikuti irama, mencoba menenggelamkan diri.
Saat itulah, sebuah tatapan menangkapnya.
Seorang pria berdiri tidak jauh darinya, mengenakan kemeja hitam dengan kancing atas terbuka. Rambutnya rapi, rahang tegas, mata tajam yang menyapu tubuh Ara tanpa malu-malu. Dia tidak tersenyum lebar, hanya sedikit mengangkat sudut bibirnya—cukup untuk membuat d**a Ara berdebar dengan cara yang berbeda.
Pria itu bergerak mendekat, langkahnya tenang, kontras dengan hiruk pikuk sekeliling. “Kamu kelihatan seperti seseorang yang sedang mencoba melupakan sesuatu,” suaranya berat, nyaris seperti bisikan di telinga.
Ara menatapnya, lalu tertawa singkat—tawa pahit. “Dan kamu kelihatan seperti seseorang yang tidak peduli asal tahu cerita orang lain.”
Pria itu mengangkat alis, memesan minuman yang sama seperti Ara. “Richard,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Ara,” jawabnya singkat, menyambut tangan itu. Sentuhan singkat mereka entah kenapa membuat tubuh Ara merinding.
Percakapan mengalir, didorong oleh alkohol dan tatapan yang semakin lama semakin berani. Richard tidak bertanya banyak, tapi dia mendengarkan. Ada ketenangan dalam caranya menatap, seolah mengizinkan Ara menjadi dirinya sendiri malam itu.
Setelah beberapa gelas lagi, dunia di sekitar mereka seperti memudar. Ara mendekat, menatap matanya lekat-lekat. “Aku ingin… melupakan segalanya malam ini,” katanya, suaranya serak.
Richard mencondongkan tubuh. “Bagaimana caranya?”
Ara tersenyum miring, menantang. “Buktikan kalau kamu bisa membuat aku lupa.”
Tatapan Richard berubah—ada api yang menyala di sana. “Jangan menantang sesuatu yang kamu tidak siap jalani,” bisiknya.
“Coba saja,” jawab Ara, menegakkan dagu.
---
Mereka meninggalkan club dalam keadaan mabuk, tapi langkah Richard tetap mantap. Sebuah taksi membawa mereka ke hotel bintang lima tak jauh dari club. Richard rela meninggalkan mobil mewahnya begitu saja di sana. Sesampainya di Hotel, Richard menyewa kamar suite tanpa ragu. Tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Ara.
Begitu pintu kamar tertutup, Richard mendorongnya lembut ke dinding. Bibirnya menemukan bibir Ara dengan gesit, ciumannya panas dan dalam, tanpa jeda. Ara membalas, menyalurkan semua kemarahan dan kesedihan melalui sentuhan itu.
Baju mereka terlepas satu per satu, jatuh ke lantai seperti lapisan-lapisan masalah yang Ara ingin lepaskan. Sentuhan Richard intens, tapi juga penuh kendali—membuat Ara merasa diinginkan, bukan sekadar dilampiaskan. Ara tak sadar dengan apa yang dia lakukan saat itu. Satu hal yang dia rasakan. Rasa yang begitu nikmat. Sentuhan tangan dan lidah Richard begitu memabukkan. Sama halnya Richard, dengan Ara merasakan yang berbeda. Tak seperti saat bersama Bella tunangannya. Richard tak mencintai Bella. Dia muak dengan rencana pernikahan bisnis ini.
"s**t! Sulit sekali. Apa kamu masih virgin?" tanya Richard di sedikit kesadarannya.
"Lakukan saja! Bukan itu yang kamu inginkan selama ini? Aku ingin kamu melakukannya denganku. Bukan dengan wanita jalang itu. Ayo, cepat!"
"Baiklah kalau kamu memaksa. Jangan salahkan aku, jika nantinya aku tak bisa menghentikannya," ucap Richard tersenyum licik. Dia tak peduli dengan ucapan Ara. Richard menginginkan pelepasan.
"Tahan sedikit! Awalnya pasti sangat sakit. Aku akan melakukannya secara perlahan."
Richard mulai memasukkan miliknya ke bagian inti Ara secara perlahan.
"Aarrgghh ... Sakit!" Teriak Ara.
Kuku cantik Ara menancap di punggung Richard, seiring darah segar mengalir dari area sensitifnya. Richard tak pedulikan itu. Dia justru sangat menikmati. Perlahan, rasa sakit yang dirasakan Ara pun berubah menjadi rasa nikmat.
"Ah, ini sungguh nikmat sayang."
Richard semakin mempercepatnya. Hawa panas mengalir dari tubuh mereka. Hingga akhirnya Richard ambruk di atas tubuh Ara. Dia berhasil menyemburkan cairan hangat ke rahim Ara.
Di akhir, ketika tubuh mereka lelah, Ara berbaring di d**a Richard. Napasnya masih terengah, matanya berat.
“Kamu… siapa sebenarnya?” gumam Ara setengah sadar.
“Richard,” jawabnya singkat.
Ara tersenyum samar. “Ara.”
Tak ada nomor yang ditukar, tak ada janji untuk bertemu lagi. Hanya nama—dan malam panas yang membekas di kulit dan ingatan.
Sebelum Ara benar-benar tertidur, pikirannya sempat bertanya-tanya… kenapa rasanya dia baru saja melakukan sesuatu yang akan mengubah hidupnya.