Bab2

1001 Kata
"Ah, sakit sekali." Ara terbangun lebih dulu. Matanya membulat sempurna. Dia begitu terkejut saat membuka matanya, ada seorang laki-laki di sampingnya. Terlebih tubuh mereka masih sama-sama polos. Hanya ditutupi selimut. "Ya Tuhan. Apa yang aku lakukan sama dia. Siapa dia? Aku harus segera pergi sebelum dia terbangun." Dia mencoba menahan rasa sakit sisa semalam. Tubuhnya terasa remuk. Inti miliknya masih terasa nyeri. Sebelum dia pergi. Ara sempat memandang wajah tenang Richard yang saat itu masih terlelap. Jantungnya berdebar. Saat mendengar ponsel Richard berdering. Dengan cepat Ara pergi meninggalkan tempat itu. Karena dia yakin, Richard pasti akan terbangun. Dan benar saja. Selang beberapa menit Ara pergi. Richard terbangun. Dengan suara terdengar serak. Richard menerima panggilan telepon dari maminya. Richard tak pernah menerima pertunangan dengan Bella. Hingga dia melampiaskannya di Club. Hampir setiap malam dia mendatangi Club itu. Namun, baru malam ini sangat berbeda. Dia merasa b*******h dan tertantang dengan Ara. Melupakan sejenak permasalahannya dengan Bella. Ara sudah sampai di rumah yang dia tempati bersama Devan. Dia akan pergi meninggalkan rumah itu. Dengan cepat dia masukkan semua barang-barangnya. Untung saja Devan tak ada. "Aku harus segera pergi," ucapnya. Ara berharap Richard tak akan mengenalinya. Jika suatu hari nanti mereka nanti bertemu. Ara menatap wajahnya di cermin. Lingkar hitam di bawah mata jelas terlihat, efek dari kurang tidur dan mabuk semalam. Dan kini pandangannya ke arah tubuhnya yang dipenuhi tanda merah karena ulah Richard. Ara mendengus kesal. Tanda itu tak juga hilang, meskipun dia sudah membersihkan diri berkali-kali. Bahkan setelah mandi air panas, tubuhnya masih terasa hangat… atau mungkin itu hanya ingatan akan sentuhan Richard yang menolak pergi. Dia menarik napas panjang. Lupakan. Itu cuma satu malam. Tidak penting. Jam hampir menunjukkan pukul delapan ketika Ara tiba di gedung kantornya, sebuah perusahaan besar di bidang properti yang terkenal dengan aturan kerja ketat. Seperti biasa, dia menyapa resepsionis, lalu berjalan menuju lift sambil membawa map laporan bulanan yang harus dia serahkan ke kepala divisi. Hari ini, suasana kantor terasa berbeda. Banyak karyawan berkumpul, berbicara dengan nada bersemangat dan berbisik-bisik sambil melirik ke arah ruang rapat utama di lantai atas. “Ra, kamu udah tahu belum?” bisik Sella, rekan kerjanya, begitu melihat Ara. “Tahu apa?” “Anak pemilik perusahaan mau turun langsung gantiin posisi Tuan Ronald. Katanya sih, dia masih muda, ganteng, tapi… galak. Dengar-dengar lulusan luar negeri, pinter banget.” Ara hanya mengangguk tanpa banyak minat. Yang dia pikirkan hanya menyelesaikan pekerjaan dan pulang cepat, mungkin untuk tidur seharian. Lift berdenting di lantai 25, tempat ruang rapat besar berada. Para karyawan sudah mulai duduk rapi, menunggu. Ara ikut masuk, duduk di kursinya. DIa menghela napas, membuka map, dan berusaha fokus pada data di depannya. Pintu ruang rapat terbuka. Langkah berat terdengar, diiringi suara sepatu kulit yang menjejak karpet. Suara percakapan mereda, digantikan oleh rasa ingin tahu yang menguar di udara. Ara mendongak. Dunia seakan berhenti berputar. Di ambang pintu berdiri pria dengan setelan jas hitam yang disesuaikan sempurna dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap. Rambut hitamnya rapi, wajahnya teduh namun penuh wibawa. Mata tajam itu menyapu ruangan, dan sesaat berhenti tepat di arah Ara duduk. "Dia?" Ara begitu terkejut. Ternyata, mantan partner ranjangnya adalah bos dia di tempat kerjanya. Darah Ara seperti mengalir deras ke seluruh tubuh. Tidak mungkin. Senyum kecil, nyaris tak terlihat, muncul di sudut bibir Richard. Bukan senyum formal untuk perkenalan, tapi senyum mengenal—senyum yang mengingatkan Ara pada ciuman di dinding hotel, pada tatapan mata yang tak pernahd ia sangka akan dia lihat lagi. “Selamat pagi,” suara Richard terdengar tegas, mantap. “Saya Richard Alexander. Mulai hari ini, saya akan memimpin perusahaan ini menggantikan papi saya.” Ara menunduk cepat, pura-pura sibuk dengan catatannya. Pipinya panas. Dia bisa merasakan tatapan Richard yang sesekali jatuh padanya sepanjang pertemuan. Rapat berjalan formal, tapi bagi Ara, waktu terasa sangat lambat. Otaknya sibuk memutar ulang malam itu—bagaimana mereka saling menantang, bagaimana Richard menyentuhnya seolah sudah mengenalnya lama. Begitu rapat selesai, Ara buru-buru membereskan barangnya. Dia ingin pergi sebelum… “Berhenti!” Richard memanggil. Jantungnya meloncat. Perlahan, dia menoleh. Kenapa Richard mengingatnya. Richard berdiri tidak jauh darinya, satu tangan menyelip di saku celana, tatapannya mengunci pandangannya. “Bisa ikut saya sebentar?” tanyanya, nada suaranya bukan permintaan, melainkan perintah. Ara menelan ludah. “Saya… masih ada pekerjaan—” “Lima menit saja,” potong Richard, lalu berjalan keluar tanpa menunggu jawaban. Ara ragu sejenak, tapi akhirnya mengikuti. Mereka masuk ke ruang CEO—ruang yang dulu jarang dia masuki, tapi kini jadi wilayah Richard. Begitu pintu tertutup, suasana berubah. Sunyi. Richard menatapnya lama, lalu tersenyum samar. “Kecil sekali dunia, ya?” Ara memalingkan wajah. “Kalau Tuan pikir aku—” “Saya pikir,” potong Richard, mendekat, “malam itu bukan sesuatu yang akan mudah dilupakan. Apalagi setelah melihatmu lagi di sini.” Ara mundur setengah langkah, tapi punggungnya menabrak meja rapat kecil di sudut ruangan. Richard tak berhenti maju. Aura karismanya mengisi ruangan, membuat napas Ara tak beraturan. “Tuan Richard…” suaranya bergetar. “Kita… kita mabuk waktu itu. Saya tidak—” “Saya tidak mabuk,” bisik Richard di telinganya. “Saya tahu persis apa yang saya lakukan. Dan saya ingat setiap detiknya. Kamu begitu menggairahkan. Saya ingin mengulanginya.” Ara memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. “Maaf Tuan, kita harus profesional.” Richard tersenyum tipis. “Profesional? Kita lihat saja seberapa lama kamu bisa pura-pura tidak mengingat.” Dia mundur selangkah, membiarkan Ara mengambil napas lagi. “Sekarang kembali bekerja. Tapi… kita belum selesai.” Ara keluar dari ruang itu dengan langkah cepat, wajahnya memerah, jantungnya berdebar tak karuan. Napasnya terasa sesak kala itu. "Ya Tuhan. Dunia rasanya sempit sekali. Kenapa aku harus dipertemukan kembali dengannya?" Jika Devan tak seperti itu. Hal ini tak akan terjadi. Dia tak akan menginjakkan kakinya di Club malam dan bertemu Richard kala itu. Ara menjadi tak fokus, dia menjadi gelisah. Pikirnya, kenapa mereka harus dipertemukan kembali. Sungguh malu sekali saat mengingatnya. Ucapan Richard terdengar begitu menakutkan. “Ya Tuhan aku harus bagaimana ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN