Bab3

1043 Kata
Pagi itu, udara kantor terasa berbeda. Ada aroma yang tidak bisa dijelaskan—bukan hanya campuran kopi, parfum karyawan, atau pendingin ruangan. Ada sesuatu yang membuat semua orang sedikit tegang. Desas-desus telah beredar sejak kemarin sore, tapi pagi ini gosip itu seperti bahan bakar yang dituangkan ke api. Tunangan CEO baru akan berkunjung. Bagi sebagian besar karyawan, itu artinya kesempatan melihat sosok yang selama ini hanya menjadi cerita. Wanita cantik, seorang model Internasional, dari keluarga berada. Bagi sebagian yang lain, itu berarti mengukur seberapa “beruntung” CEO baru mereka, Richard Alexander. Dan bagi Ara, itu berarti… hari yang panjang. Dia duduk di meja kerjanya, menunduk pada tumpukan dokumen. Tangannya memegang pena, matanya menelusuri angka-angka, tapi otaknya tidak sepenuhnya di sana. Potongan kalimat dari meja-meja sekitar menembus telinganya, entah dia mau atau tidak. “Katanya model internasional. Foto-fotonya di majalah saja sudah kelihatan berkelas.” “Dengar-dengar keluarganya punya perusahaan besar. Sama-sama dari keluarga elite lah.” “Ya cocok banget sama Tuan Richard. Pasangan perfect.” Pasangan perfect. Kata itu seperti jarum yang menusuk pelan ke dadanya. Ara mencoba mengusir perasaan itu. Malam di antara dia dan Richard hanyalah satu momen yang tidak seharusnya terjadi. Sebuah kesalahan… atau mungkin sebuah kebetulan yang terlalu berani. Tapi setiap kali dia mengingat tatapan Richard—mata itu yang seolah tahu terlalu banyak—Ara merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan. Dia menarik napas panjang, mencoba fokus. Tapi tubuhnya seperti sudah tahu akan ada badai yang datang. Sekitar pukul sebelas siang, lift VIP di ujung lorong berbunyi. Suara itu, yang biasanya diabaikan, kini membuat seluruh kepala menoleh. Pintu terbuka, dan dari sana melangkah seorang wanita yang tampak seperti baru turun dari halaman majalah fashion. Tinggi semampai, rambut hitam berkilau terurai hingga punggung, dan gaun putih elegan yang jatuh pas di tubuhnya. Setiap langkahnya diiringi bunyi hak tinggi yang memantul di lantai marmer, menciptakan ritme mantap yang terdengar seperti peringatan. Dia tersenyum tipis. Tapi itu bukan senyum yang mengundang—lebih seperti tanda kepemilikan. “Bella,” seseorang berbisik di dekat meja resepsionis. “Tunangan Tuan Richard,” jawab yang lain dengan nada setengah kagum, setengah iri. Bella berjalan lurus, tanpa ragu, menuju ruang CEO. Pandangannya tidak berbelok, seolah dia sudah hafal rute menuju “wilayah kekuasaannya.” Ara menunduk spontan, berharap tak menjadi sasaran tatapan wanita itu. Tapi keberuntungan tidak selalu berpihak padanya. Sekilas, mata Bella bergerak, menyapu ruangan, dan berhenti sepersekian detik pada Ara. Tatapan itu singkat, tapi cukup membuat jantung Ara berdegup lebih cepat. Ara membutuhkan pasokan udara. Dadanya terasa sesak. Entah apa yang dia pikirkan saat itu. Pandangannya tak terlepas pada wanita cantic yang kini memasuki ruangan bos sekaligus mantan partner ranjangnya. Setengah jam kemudian, ada panggilan dari Richard. Dia meminta Ara ke ruangannya membawa berkas yang dia butuhkan. Ara menelan ludah. Jari-jarinya meraih map berwarna merah, lalu dia berdiri dan melangkah ke pintu ruangan Richard berada. Ara mengetuk pintu ruangan dengan ragu. Namun, taka da pilihan lain baginya. Richard di dalam sana menunggunya. “Masuk,” suara Richard terdengar dari dalam. Ara membuka pintu, dan pandangannya langsung bertemu dengan pemandangan yang seperti diatur untuk menegaskan perbedaan dunia mereka. Richard berdiri di balik meja kerjanya, rapi dalam setelan abu-abu. Sementara itu, Bella duduk di kursi tamu, kaki disilangkan, postur tegak namun santai—tanda bahwa ruangan itu juga adalah panggungnya. “Ara,” kata Richard, suaranya tenang tapi dengan nada yang… entah kenapa terdengar lebih hangat daripada biasanya. “Ini Ara, dia bagian keuangan aku.” Bella menoleh, bibirnya melengkung membentuk senyum yang terlalu sempurna untuk tulus. “Oh? Jadi ini Ara.” Nada suaranya ringan, tapi Ara merasakan ada lapisan lain di baliknya—seperti permukaan kaca yang licin namun di bawahnya terdapat arus deras. Ara menyerahkan map itu ke meja Richard. “Ini laporan yang Tuan minta.” “Terima kasih.” Tatapan Richard menahan sedikit lebih lama dari yang perlu. Bella tidak melepaskan pandangannya dari Ara. “Kamu sudah lama kerja di sini?” “Dua tahun,” jawab Ara singkat. Bella mengangguk pelan. “Pasti menyenangkan ya, punya atasan baru yang… hmm… menarik.” Dia melirik Richard sambil tersenyum tipis. Richard menghela napas pendek. “Bella—” “Aku cuma bercanda,” potong Bella, meski matanya tetap tertuju pada Ara. Ara merasa ruangan itu semakin menyempit. Buru-buru dia berpamitan keluar. Tapi, sebelum pintu tertutup, Dia mendengar suara Bella—pelan, nyaris berbisik, tapi cukup keras untuk didengar. “Wanita harus tahu batasnya.” Langkah Ara terhenti sepersekian detik. Dia tidak menoleh, hanya menarik napas dan melanjutkan keluar. --- Siang itu, gosip di pantry mulai memanas. “Aku lihat langsung tadi… cantiknya parah.” “Tapi aku sumpah, kayaknya dia nggak suka sama Ara.” “Masa sih?” “Tatapannya beda. Kayak… warning gitu.” Ara memegang cangkir kopinya, pura-pura sibuk. Tapi percakapan itu mengganggu. Dia tahu Bella tipe perempuan yang tidak akan membiarkan ancaman berada terlalu dekat. Dan entah mengapa, Ara yakin di mata Bella… dialah ancaman itu. Menjelang sore, Ara sedang memfotokopi berkas ketika pintu pantry terbuka. Bunyi hak tinggi kembali terdengar, kali ini lebih pelan namun tetap berwibawa. “Lagi sibuk?” suara Bella terdengar dari belakang. Ara menoleh, berusaha tersenyum sopan. “Sedikit.” Bella berjalan mendekat. “Aku cuma mau bilang… aku dan Richard akan menikah. Segera.” Kata-kata itu keluar seperti pisau yang dibungkus beludru. Ara terdiam. Bella melanjutkan, suaranya pelan tapi tegas. “Aku yakin kamu gadis pintar. Jadi, jangan sampai ada… salah paham di antara kita.” Senyum itu kembali muncul, tapi matanya sedingin batu. “Aku tidak suka kalau ada orang mencoba bermain di wilayahku.” Tanpa menunggu jawaban, Bella berbalik, meninggalkan aroma parfum mahal yang menusuk. Ara berdiri mematung. Jantungnya berdegup keras. Bukan karena takut… tapi karena rasa marah yang mulai membara. Bella tidak tahu apa yang terjadi malam itu. Tapi intonasinya seolah Ara memang perebut. "Kamu pikir aku menyukai tunangan kamu? Aku gak peduli meskipun dia sekarang CEO di perusahaan ini. Asal kamu tahu. Yang mencoba mendekati aku itu, tunangan kamu. Bukan aku," gerutunya dalam hati. "Ah, mimpi apa aku semalam. Kenapa aku sial sekali." Ternyata, diam-diam Richard memantaunya. Dia melihat Bella yang datang menghampiri Ara. Entah kenapa dia merasa tak suka dengan apa yang Bella lakukan kepada Ara. Mungkinkah Richard sudah memiliki perasaan pada Ara?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN