Sejak kedatangan Bella kemarin, kepala Ara terasa seperti tidak pernah berhenti berputar. Kata-kata tunangan Richard itu, "Aku tidak suka kalau ada orang mencoba bermain di wilayahku," terus berputar di kepalanya seperti lagu yang tak mau berhenti.
Bukan cuma nada ancamannya yang menusuk, tapi juga cara Bella mengatakannya—penuh keyakinan bahwa Ara memang telah melanggar batas.
Padahal… satu-satunya yang benar-benar tahu apa yang terjadi malam itu hanyalah dirinya dan Richard.
Dan Richard—sialnya—tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melupakan kejadian itu. Malah, ia seolah sengaja menghidupkan bara yang sudah nyaris padam.
---
Pagi itu, udara kantor sejuk berkat pendingin ruangan, tapi jari-jari Ara terasa dingin saat menekan tombol keyboard. Ia berusaha fokus pada laporan yang harus rampung sebelum jam makan siang, tapi ponselnya bergetar di meja.
Satu pesan masuk.
Richard:
Ke ruanganku sekarang.
Ara menatap layar itu beberapa detik. Pesan singkat, tanpa salam, tanpa alasan. Tidak ada penjelasan apa-apa, seolah ia hanya memberi perintah kepada bawahan yang harus patuh.
Di satu sisi, Ara ingin pura-pura tidak melihat pesan itu. Di sisi lain, ia sadar betul secara hierarki, ia tidak punya pilihan. Sejenak dia berpikir. Kenapa Richard bisa tahu nomor ponselnya.
Dengan napas yang ditahan, Ara berdiri, merapikan kemejanya, lalu berjalan ke arah ruang Richard berasa. Sepanjang koridor, ia bisa merasakan tatapan beberapa rekan kerja yang mungkin bertanya-tanya. Kenapa Ara begitu sering keluar-masuk ruang Richard akhir-akhir ini?
Ara mengetuk pintu ruangan Richard.
“Masuk,” suara itu terdengar jelas dari dalam.
Dia pun langsung membuka pintu, dan menemukan Richard sedang duduk di balik meja besar dari kayu mahoni. Setelan jas abu-abu gelapnya tampak sempurna, dasinya rapi, rambutnya tersisir licin. Tidak ada laptop di depannya, tidak ada dokumen di tangannya—hanya tatapan yang langsung mengunci langkah Ara.
“Duduk,” perintahnya.
Ara duduk di kursi tamu dengan posisi tegak. “Tuan ingin membicarakan laporan?” tanyanya datar.
Richard menyandarkan tubuh ke kursi, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Aku sudah bilang, kita nggak perlu pura-pura formal kalau cuma berdua.”
Ara merapatkan jari-jarinya di pangkuan. “Di kantor, saya akan selalu formal. Itu yang seharusnya.”
Richard bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja. Langkahnya tenang, nyaris tanpa suara. Ia berhenti tepat di belakang kursi Ara.
Aroma parfum maskulin yang khas menyelusup, membungkus indra penciumannya. Napas Ara sedikit berat, tapi ia menatap lurus ke depan.
“Kenapa kamu menghindariku?” tanya Richard pelan, suaranya rendah dan dalam.
Ara menelan ludah. “Saya tidak menghindar.”
“Kamu bahkan tidak berani menatapku sekarang,” godanya, nada suaranya setengah main-main, setengah menantang.
Ara berdiri, mencoba menciptakan jarak. Namun Richard bergerak cepat, menahan pergelangan tangannya. Sentuhan itu tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuatnya tak bisa langsung melepaskan diri.
“Malam itu, Ara…” suara Richard terdengar nyaris seperti bisikan, “kamu yang menantangku. Dan aku belum selesai menerima tantangan itu.”
Ara mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya. “Kita mabuk waktu itu. Dan… Tuan punya tunangan.”
Tatapan Richard mengeras. “Itu urusanku, bukan urusanmu.”
Kalimat itu membuat darah di wajah Ara naik. “Kalau tunangan Anda tahu—”
“Bella tidak akan tahu kalau kamu tidak bilang,” potong Richard cepat. Senyumnya muncul lagi, tipis tapi penuh arti. “Kecuali kamu memang mau membuatnya tahu.”
Ara terdiam. Kata-kata itu seperti jerat yang tak terlihat, menariknya semakin dekat meski akalnya berteriak untuk menjauh.
Dia pun akhirnya terlena dengan rayuan Richard. Bibir mereka beradu kembali. Richard mendudukkan Ara di meja kerjanya. Perlahan Richard membuka kancing kemeja yang Ara kenakan. Desahan manja keluar dari bibir Ara. Richard menyukainya. Tubuh Ara seakan candu untuknya.
Dengan cepat Richard membawa Ara ke ruang peristirahatannya.
"Tuan ..." Suara Ara seakan tertahan. Bibirnya menolak. Namun, tubuhnya bereaksi.
"Aku menginginkanmu. Nikmati sayang," ucap Richard sembari membuka pakaiannya, dan melemparnya begitu saja.
Tubuh keduanya kini sudah dalam keadaan polos. Keduanya begitu b*******h. Seakan tak ada ruang pemisah di antara mereka.
"Ah, Sayang. Nikmat sekali."
Tak cukup satu gaya. Richard tak merasa puas. Meskipun Richard tahu, ini hal baru bagi Ara. Masih terlihat sangat kaku. Namun, dia menyukainya.
Wajah Ara memerah. Bisa-bisanya dia tak menolaknya. Dia merasa malu pada dirinya sendiri. Keduanya masih berpelukan. Jika Richard tak memintanya. Dia tak akan berani melakukan itu.
"Cukup menjadi rahasia kita berdua. Abaikan saja, jika Bella berkata menyakitkan kepada kamu," ucap Richard.
Ara mendongak dan menatap wajah tampan bosnya itu. Dia takut sekali, kalau akhirnya dia akan jatuh cinta.
"Bagaimana bisa. Dia tunangan Tuan. Aku tak mungkin bisa melakukan itu. Sebaiknya kita hentikan saja kegilaan ini," kata Ara. Dia pun memilih bangkit. Hendak memakai pakaiannya.
"Aku tak mencintainya." Ara begitu terkejut mendengarnya.
Richard kecewa. Saat pertama kali mereka hendak bercinta. Ternyata, Bella sudah tak perawan. Dia ingin memutuskan pertunangan dengan Bella. Namun, dia belum menemukan alasan yang kuat. Dia tak mungkin mengatakan ini kepada kedua orang tuanya.
---
Siang itu, di ruang kerja, Ara tenggelam dalam tumpukan berkas. Jemarinya sibuk memeriksa angka, tapi pikirannya belum benar-benar keluar dari ruangan Richard.
Tiba-tiba, suara langkah hak tinggi terdengar mendekat. Ara mengangkat kepala. Bella berdiri di ambang pintu, tanpa mengetuk, hanya bersandar santai di kusen.
“Aku lihat kamu sering dipanggil ke ruang Richard,” ucap Bella. Nada suaranya ringan, tapi setiap katanya seperti ujung pisau yang disembunyikan di balik senyum.
Ara menoleh sekilas. “Itu urusan pekerjaan.”
Bella tersenyum miring. “Aku harap begitu.”
Mata mereka bertemu—dingin melawan tenang. Tidak ada yang mengalihkan pandangan lebih dulu.
Bella lalu berbalik, meninggalkan Ara dengan aroma parfum yang berbeda dari kemarin. Tapi perasaan tidak enak itu tetap sama—Bella semakin waspada. Dan itu berarti setiap interaksi dengan Richard kini bukan sekadar risiko, tapi taruhan besar yang bisa menghancurkan kariernya.
Menjelang sore, Ara membawa dokumen revisi ke ruang Richard. Tangannya sedikit berkeringat saat menggenggam map, berharap Bella tidak ada di sana.
Begitu pintu terbuka, ia lega. Hanya Richard di balik meja.
“Tutup pintunya,” ucapnya sambil menandatangani berkas.
Ara menurut, lalu meletakkan dokumen di meja. Namun sebelum ia sempat berbalik pergi, Richard sudah berdiri di dekatnya.
Tangannya bertumpu di sisi meja, memerangkap Ara di antara tubuhnya dan permukaan kayu itu. Jaraknya begitu dekat hingga Ara bisa merasakan panas tubuhnya.
“Kenapa kamu selalu tegang kalau ada aku?” tanyanya, matanya menelusuri wajah Ara dengan penuh perhatian.
Ara berusaha menatap balik. “Karena kamu membuat segalanya jadi rumit.”
“Ribet?” Richard mengangkat sebelah alis. “Atau menarik?”
Tubuhnya condong ke depan. Napasnya terasa di pipi Ara. Detik itu, Ara sadar—kalau ada yang masuk sekarang, tidak ada cara untuk menjelaskan situasi ini.
Dan tentu saja, semesta seperti ingin menguji nyali mereka.
Suara ketukan pintu memecah momen. Richard mundur cepat, sementara Ara berpura-pura merapikan dokumen.
Pintu terbuka. Bella berdiri di sana, senyumnya manis tapi matanya langsung bergerak ke posisi Ara. Dia datang kembali, menghampiri Richard.
“Sayang, kita ada janji makan malam, ingat?” suaranya terdengar seperti ajakan, tapi juga seperti pesan yang sengaja diumumkan kepada orang ketiga di ruangan.
"Batalkan saja! Aku sedang sibuk. Lain waktu saja. Sebaiknya sekarang kamu pulang," ucap Richard tegas.
Wajah Bella memerah. Dia merasa malu mendapatkan penolakan dari Richard. Harga dirinya seakan jatuh di depan Ara.