Langit sore itu menggantung kelabu, seperti meniru suasana hati Arabella yang campur aduk. Hujan belum turun, tapi udara di luar kantor sudah basah oleh aroma tanah yang menunggu disiram air langit. Di meja kerjanya, Ara seharusnya fokus pada laporan penjualan yang harus dipresentasikan di meeting sore bersama Richard. Tangannya memang mengetik, tapi pikirannya terhanyut ke tempat lain—tepatnya ke kejadian beberapa hari lalu yang masih meninggalkan jejak panas di kulitnya.
Pintu ruang kerja Richard tiba-tiba terbuka. Ara sontak mengangkat kepala. Tatapan pria itu—dingin sekaligus memanggil—langsung mengunci gerakannya.
"Masuk," suara Richard rendah namun penuh otoritas.
Ara menelan ludah. Bahkan dari jarak itu, ia masih bisa mengingat dengan jelas malam di hotel… tatapan Richard yang dalam, sentuhan yang membuatnya melupakan semua yang seharusnya ia ingat, dan cara pria itu mengoyak pertahanannya seperti kertas tipis. Ia mengira, setelah malam itu, semuanya akan berhenti. Tapi tatapan Richard sekarang bukan tatapan bos kepada karyawan. Itu tatapan seorang pria yang menginginkan—bukan sekadar tubuh—tapi juga kehadiran seseorang.
"Tuan kenapa memanggil saya?" Ara berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Richard berdiri, melangkah pelan namun pasti, lalu menutup pintu. "Kamu tahu kenapa," jawabnya singkat.
Jantung Ara berdentam. Ia mundur setengah langkah. "Tuan… ini kantor, kita nggak—"
Belum sempat ia selesai, Richard menarik pinggangnya mendekat. Napas panasnya menyapu kulit leher Ara.
"Berhenti memanggilku 'Tuan'… panggil aku Richard," bisiknya di telinga.
Ara tahu ini salah. Salah secara profesional, salah secara moral. Tapi godaan itu terlalu dekat. Tatapan mata itu… bukan tatapan Devan, mantan kekasihnya yang mengkhianatinya. Ini tatapan yang membuatnya merasa diinginkan, dibutuhkan, diutamakan.
Ciuman itu datang tiba-tiba. Awalnya pelan, seolah Richard memberi kesempatan untuk mundur. Tapi Ara tidak mundur. Ciuman itu menjadi lebih dalam, menuntut. Jemari Richard cekatan membuka satu per satu kancing kemeja Ara. Sebuah dorongan kecil sempat Ara berikan ke d**a pria itu, tapi kekuatannya kalah oleh hasrat yang ikut membara.
Mereka berdua akhirnya terjatuh ke sofa kulit di sudut ruangan. Tirai sudah tertutup rapat, hanya cahaya lampu meja yang temaram menerangi ruangan. Richard tak lagi peduli mereka berada di kantor, di tengah gedung penuh karyawan.
"Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu, Ara," desahnya di sela ciuman. "Bahkan waktu bersama Bella pun, yang aku bayangin cuma kamu."
Nama Bella membuat d**a Ara berdesir aneh. Ada rasa bersalah, tapi juga kepuasan terselubung. Ia tahu, kata-kata Richard itu berarti ia perlahan merebut tempat Bella—wanita yang selama ini terlihat sempurna.
Pakaian jatuh berserakan di lantai. Richard menggenggam pinggang Ara, menariknya lebih dekat. Gerakan mereka cepat, intens, seperti dua orang yang menumpahkan semua frustasi dan kerinduan yang terpendam. Ara memejamkan mata, menggigit bibir untuk menahan suara, tapi percuma—detik itu, mereka tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
"Tuan…," desahnya lirih.
Pria itu tersenyum tipis, mempercepat ritme, seakan ingin memastikan Ara mengingat momen ini selamanya.
Ketika akhirnya mereka sama-sama mencapai puncak, Richard memeluk Ara erat. Napas mereka terengah, keringat bercampur, waktu seolah berhenti.
"Aku rasa… aku nggak bisa kembali ke Bella," ucapnya pelan, menatap lurus ke mata Ara. "Kamu sudah mengikat aku… lebih dari yang kamu pikir."
Ara membeku. Kata-kata itu bukan sekadar godaan—itu pernyataan yang bisa mengubah segalanya.
"Tapi, Tuan ..."
"Jangan menolak!" Ucap Richard ketus. Dia tak ingin ada penolakan.
---
Keesokan paginya, suasana kantor terasa berbeda. Ara mencoba bersikap biasa saja, mengetik laporan sambil menahan tatapan yang sesekali dikirim Richard dari ruang kerjanya. Sejak kejadian itu, batas profesional nyaris hilang. Richard tidak lagi sekadar bos—ia menjadi pusat perhatian Ara, sumber kegugupannya, sekaligus tempat ia merasa aman.
Namun, bayang-bayang Bella masih menghantui. Ara sering bertanya dalam hati. Bukankah dia sudah punya tunangan? Tapi Richard, dengan caranya berbicara penuh keyakinan, selalu membuatnya merasa seolah hanya Ara satu-satunya perempuan di dunia. Terlebih Bella lebih segalanya darinya.
Menjelang siang, telepon di meja Ara berdering. Suara Richard di ujung sana terdengar datar tapi memerintah.
"Aku ingin kamu menemaniku makan siang."
Ara sempat ragu. "Kalau orang kantor lihat?"
"Biarkan saja," jawabnya santai. "Mereka akan tahu cepat atau lambat."
Mereka makan di sebuah restoran mewah yang letaknya agak jauh dari kantor. Richard duduk santai, matanya hanya tertuju pada Ara, bahkan ketika ponselnya berdering. Nama Bella terpampang jelas di layar. Richard hanya melirik sebentar, lalu menekan tombol diam.
"Kau tak jawab?" tanya Ara hati-hati.
"Tak perlu," jawabnya. "Yang penting aku di sini… bersamamu."
Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat d**a Ara terasa hangat—dan juga was was.
---
Malamnya, kejadian tak terduga terjadi. Bella datang ke kantor tanpa pemberitahuan. Ara yang sedang membereskan berkas melihat wanita berparas cantik itu melangkah cepat menuju ruang Richard. Pintu tertutup rapat, tapi nada suara yang meninggi terdengar jelas.
"Kenapa kau semakin menjauh dariku, Richard?" suara Bella terdengar bergetar, setengah marah, setengah terluka.
"Aku tak bisa lagi berpura-pura. Hubungan kita… sudah selesai," jawab Richard tanpa ragu.
Ada jeda hening, lalu langkah kaki terdengar mendekat. Bella keluar dengan mata sembab, dan tatapan matanya bertemu dengan Ara. Tatapan itu penuh amarah—dan kecurigaan. Tanpa berkata apa-apa, Bella pergi, menyisakan jejak aroma parfum mahalnya di udara.
Ara terpaku di tempat. Di satu sisi, ia merasa bersalah. Tapi di sisi lain… ada rasa lega yang tak bisa ia bantah.
---
Larut malam, saat sebagian besar karyawan sudah pulang, Richard memanggil Ara ke ruangannya. Kali ini nada suaranya tak lagi bernuansa bisnis.
"Aku sudah mengakhiri segalanya dengan Bella," katanya langsung, tanpa basa-basi.
"Aku tidak memintamu melakukan itu," balas Ara pelan.
"Aku mau. Karena aku tidak ingin setengah hati. Dan aku… tidak ingin kehilanganmu."
Kata-kata itu meruntuhkan sisa pertahanan Ara. Ia tahu, apa pun yang mereka jalani sekarang bukan sekadar permainan. Saat Richard menariknya ke pelukan, Ara tak lagi menolak. Ciuman itu bukan sekadar hasrat, tapi juga janji—janji yang diam-diam membuat Ara takut, karena janji bisa pecah kapan saja.
Malam itu, mereka kembali hanyut. Tak ada rasa bersalah yang sama seperti sebelumnya. Yang ada hanyalah keintiman yang semakin dalam, keterikatan yang semakin kuat, dan risiko yang semakin besar.
---
Namun, keesokan harinya, bisik-bisik mulai terdengar di kantor. Tatapan beberapa rekan kerja terasa berbeda, seolah mereka menyimpan rahasia yang sama. Ara mulai menyadari, hubungan seperti ini tidak bisa selamanya tersembunyi. Dan ketika ia melihat pesan masuk dari nomor tak dikenal—pesan berisi foto dirinya bersama Richard di restoran kemarin—perutnya terasa mual.
Richard yang melihat pesan itu hanya tersenyum tipis. "Biar saja. Aku sudah memilih. Dan pilihanku… adalah kamu."
Ara menatapnya lama. Sebagian dirinya ingin percaya. Tapi sebagian lain tahu, dunia mereka sedang bermain di tepi jurang. Dan sekali saja terpeleset, semuanya bisa hancur.
Dan di titik itu, Ara mulai bertanya-tanya—apakah ia sedang menjalani kisah cinta… atau sedang menulis awal dari sebuah skandal besar yang akan membakarnya hidup-hidup.