Langkah kaki Richard terdengar mantap, bergema di koridor menuju ruang kerja Ara. Ada sesuatu pada langkah itu—terukur, namun penuh maksud—yang membuat siapa pun di sekitarnya melirik. Pintu ruangan Ara terbuka perlahan, menyingkap sosok pria tinggi dengan jas hitam rapi, dasi abu-abu yang terikat sempurna, dan tatapan tajam yang seperti bisa menembus pikiran.
Ara yang tengah menatap layar laptop tertegun seketika. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard, namun detak jantungnya justru bertambah cepat. Bukan hanya karena Richard adalah CEO perusahaan tempat ia bekerja, tapi karena tatapan pria itu—hangat, namun sekaligus seperti ancaman lembut bagi pertahanan yang selama ini ia coba bangun.
“Aku cuma mau kasih laporan ini langsung,” ujar Richard sambil meletakkan sebuah map di meja kerjanya. Nada suaranya datar, tapi matanya berbicara lebih dari sekadar pekerjaan.
Ara menelan ludah. “Kenapa Tuan tak meminta aku ke ruangan mengambilnya?” ucapnya pelan, mencoba menahan nada suaranya agar tidak bergetar.
Richard tidak bergeming. Ia menyandarkan tubuhnya di tepi meja, posisi yang membuat jarak mereka semakin dekat. “Aku lebih suka melihat ekspresi kamu langsung. Lagipula…” ia sedikit menunduk, “kita jarang punya waktu berdua seperti ini.”
Ara menghela napas, berusaha menetralkan ekspresinya. Ia kembali menatap layar laptop, mengetik asal untuk memberi kesan sibuk. Tapi ketika ia mengangkat kepala lagi, wajah Richard hanya berjarak sejengkal. Hidungnya hampir menyentuh milik Ara, dan seketika udara di ruangan itu terasa menipis.
“Tuan…” suaranya bergetar.
“Ya?” balas Richard lirih, menurunkan kepalanya sedikit hingga napas hangatnya menyapu kulit Ara. Bibir mereka nyaris bersentuhan—
“Tuan Richard!” suara bagian keuangan mendadak memecah momen itu. Ara sontak memundurkan kursinya, wajahnya memanas. Richard berdiri tegak, cepat menutupi raut kecewa yang sempat terlihat.
Bagian keuangan itu menyerahkan berkas pada Richard, lalu keluar tanpa curiga. Pintu kembali tertutup, meninggalkan keheningan aneh di antara mereka.
Ara berdehem. “Kamu nggak boleh seperti ini di kantor,” ucapnya, mencoba terdengar tegas meski nada suaranya tetap lembut.
Richard tersenyum tipis. “Siapa yang bisa menjamin kalau aku bisa jauh dari kamu?”
---
Sejak saat itu, Ara sadar mereka semakin sulit menjaga jarak. Bukan hanya tatapan Richard yang kerap ia tangkap dari kejauhan, tapi juga cara pria itu selalu punya alasan untuk menghampirinya—entah membicarakan pekerjaan, atau sekadar bertanya hal-hal sepele.
Namun ketegangan di kantor bukan hanya datang dari hubungan mereka yang semakin terbuka. Bella, tunangan Richard, mulai mencium ada yang tak beres.
Tanda-tandanya terlalu jelas. Richard yang belakangan lebih sering di kantor daripada menemani Bella, perubahan sikapnya yang lebih dingin, dan kabar dari beberapa karyawan yang melihatnya sering berada di lantai tempat Ara bekerja.
Hari itu, saat Ara sedang mencuci tangan di toilet wanita, pintu terbuka keras. Bella melangkah masuk, tubuhnya dibalut gaun mahal, rambutnya tersisir sempurna, dan wajahnya dihiasi riasan yang tidak menutupi tatapan tajamnya.
Bella melangkah mendekat, “Aku peringatkan, jangan pernah mencoba merebut apa yang bukan milikmu. Richard milik aku. Dan aku akan melakukan apa pun untuk memastikan itu tetap begitu.”
Setelah mengatakan itu, Bella membalikkan badan dan meninggalkan Ara sendirian. Kata-katanya menggantung di udara, dingin seperti bilah pisau.
Ara menatap pantulan dirinya di cermin. Mata itu… rapuh, seperti menahan sesuatu yang berat. Ia menggenggam erat wastafel, mencoba menahan getar di tangannya.
Aku nggak mau jatuh ke jurang yang sama lagi… pikirnya. Luka yang pernah dibuat Devan dengan Susan masih menganga, dan Ara tahu, jika ia lengah, sejarah akan mengulang dirinya.
---
Di sisi lain, Richard mulai lelah dengan sikap Bella yang semakin mengatur hidupnya. Ketegangan di antara mereka memuncak di apartemen Richard suatu malam.
“Kamu kenapa sih belakangan ini?!” suara Bella meninggi, matanya merah karena emosi. “Selalu ada alasan untuk nggak ketemu sama aku!”
“Aku cuma sibuk,” jawab Richard, mencoba menahan diri.
“Bukan cuma sibuk, kamu menjauh! Kamu pikir aku nggak tahu kamu dekat sama perempuan itu?!”
Richard menarik napas panjang. “Bella… aku nggak mau lanjut hubungan ini.”
Ucapan itu membuat Bella terdiam, seakan otaknya menolak memproses kata-kata tersebut. “Apa?!”
“Aku sudah nggak bisa sama kamu. Kita berbeda tujuan, dan… aku capek diatur. Ini bukan tentang orang lain. Ini tentang kita yang nggak cocok dari awal.”
“Kamu pikir aku akan terima begitu saja?!” Bella membentak, air matanya tumpah. “Kamu akan menyesal, Richard!”
Namun, Richard tetap pada keputusannya. Esoknya, ia resmi memutuskan pertunangan itu, meski keluarganya menentang keras.
---
Tak butuh waktu lama, Bella membuktikan ancamannya. Foto-foto Ara dan Richard saat bersama di luar kantor mulai beredar di grup gosip internal perusahaan. Meski tidak ada yang vulgar, tapi cukup untuk menimbulkan bisik-bisik di setiap sudut.
Ara mencoba tetap tegar. Ia berjalan di koridor dengan kepala tegak, tapi hatinya mencelos setiap kali mendengar bisikan yang tiba-tiba terhenti saat ia lewat. Di ruang makan siang, tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu mengikutinya seperti bayangan.
Hari itu juga, sebuah kejadian tak terduga membuat semuanya lebih rumit. Devan—mantan suami yang menghancurkan hidupnya—muncul di depan kantor. Pria itu terlihat lebih kurus, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya menyiratkan penyesalan.
“Ara…” suaranya pelan tapi mantap. “Aku minta maaf. Aku bodoh ninggalin kamu. Susan nggak ada artinya. Aku cuma mau kamu balik sama aku.”
Ara terpaku. Rasa sakit masa lalu yang ia pikir sudah membaik kembali menyeruak. “Kamu pikir semuanya akan selesai cuma dengan minta maaf? Devan, kamu hancurin aku.”
“Tapi aku cinta sama kamu,” ucap Devan, suaranya bergetar.
Ara menggeleng, menahan air mata. “Cinta kamu udah nggak ada artinya buat aku. Pergi.”
Namun, momen itu tak luput dari pandangan Richard yang kebetulan baru pulang dari meeting luar kantor. Dari jarak puluhan meter, ia melihat kedekatan mereka—meski hanya percakapan singkat—dan darahnya mendidih.
---
Malam itu, di ruang kerja Richard, ketegangan memuncak. Ara dipanggil ke sana dengan nada suara yang dingin.
“Kamu tadi ngobrol apa sama laki-laki itu? Siapa laki-laki itu?” tanya Richard tanpa basa-basi.
Ara mengerutkan dahi. “Dia mantanku. Hanya minta maaf. Udah.”
“Kenapa nggak bilang ke aku dulu kalau dia bakal datang?”
“Karena itu nggak penting.”
“Buat kamu mungkin nggak penting. Buat aku… itu sangat penting,” ucap Richard, nadanya meninggi.
Ara menatapnya tajam. “Kamu nggak punya hak ngatur siapa yang boleh aku temui atau nggak.”
Ucapan itu membuat ruangan terasa makin panas. Richard menatapnya lama, rahangnya mengeras, namun di balik tatapan tajam itu ada rasa takut kehilangan yang nyaris tak ia bisa sembunyikan.
Ara memalingkan wajah, mencoba mengatur napas. Ia tahu hubungan ini semakin rumit. Bella tidak akan berhenti, gosip kantor semakin liar, dan kini Devan muncul membawa masa lalu yang menyakitkan.
Dan di tengah semua itu, Richard berdiri di hadapannya—bukan hanya sebagai bos, tapi sebagai pria yang ia cintai, sekaligus ancaman terbesar bagi stabilitas hidupnya.
Ara sadar, permainan ini sudah terlalu jauh. Namun anehnya, di balik ketakutan itu, ada bagian dari dirinya yang tidak ingin berhenti.