Malam itu udara Jakarta terasa pengap, meski hujan baru saja berhenti. Aroma tanah basah masih menguar dari jendela yang terbuka setengah, bercampur dengan sisa bau aspal panas yang tertampar air. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik tirai tipis, menciptakan siluet temaram di ruang apartemen Richard.
Ia duduk di kursi bar yang menempel pada meja dapur kecilnya. Dasi yang tadi siang begitu rapi kini terlepas, kemejanya terbuka dua kancing di bagian d**a. Seutas urat menonjol di lehernya ketika ia meneguk minuman, jemari menggenggam gelas kristal dengan tekanan yang nyaris membuat jemarinya memutih. Aroma alkohol bercampur dengan sisa parfum mewah yang melekat di tubuhnya, menciptakan aura lelah sekaligus berbahaya.
Tatapannya kosong ke arah lantai, tapi bibirnya melengkung sedikit—senyum yang terlalu tipis untuk disebut ramah, terlalu sinis untuk diabaikan.
“Aku sudah tahu semuanya, Bella,” suaranya keluar serak, tapi penuh ketegasan yang tak bisa dibantah.
“Kamu pikir aku nggak tahu soal kamu dan Justin?”
Bella, yang berdiri tak jauh darinya, sontak memucat. Rambut panjangnya yang biasa ia biarkan jatuh indah di bahu kini tampak kusut karena gerimis.
“Sayang, itu nggak seperti yang kamu pikir…” ucapnya terbata, mencoba mencari pegangan.
“Berhenti bohong.”
Richard meneguk minumannya sekali teguk, lalu menatapnya tanpa berkedip. “Aku nggak sebodoh itu. Aku lihat sendiri kalian di hotel. Senyum itu, tatapan itu… sama persis seperti waktu dulu kamu sama aku.”
Nada suaranya dingin, tapi menyakitkan, seperti pisau yang diayunkan perlahan.
Bella mencoba melangkah mendekat. “Aku—”
Namun, Richard mengangkat tangannya, menghentikan langkah itu.
“Kamu sudah mengkhianati aku. Dan yang paling lucu, kamu masih pura-pura jadi tunangan yang sempurna di depan keluargaku.”
Tangan Bella gemetar, air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Sayang… aku nggak mau kehilangan kamu.”
“Sayangnya…” Richard berdiri, tubuhnya tegap, tatapannya menusuk dalam. Ia meletakkan gelasnya di meja dengan bunyi yang memecah keheningan. “…aku sudah nggak peduli lagi.”
Hening kembali jatuh. Suara hujan yang tinggal rintik di luar menjadi satu-satunya latar.
Bella menahan isak dan berbalik, melangkah pergi. Pintu tertutup dengan suara pelan tapi tegas—menandai akhir sebuah hubungan yang dulu mereka pikir akan abadi.
---
Richard tidak langsung tidur malam itu. Ia duduk di sofa, memandangi ponselnya, jemarinya bergerak lambat membuka daftar kontak. Nama itu—"Ara"—terlihat seperti satu-satunya hal yang masuk akal untuk dihubungi saat ini.
Butuh waktu beberapa detik sebelum ia mengetik:
Aku mau ketemu malam ini.
Ara yang saat itu hendak tidur. Membuka matanya kembali, dan melihat ponselnya. Kemudian membaca pesan itu, lalu menatap layar cukup lama. Jantungnya berdetak cepat, dan entah kenapa ia bisa merasakan… sesuatu yang berbeda dari biasanya. Nada dalam pesan itu bukan sekadar ajakan biasa. Ada beban, ada ketegangan, ada… kebutuhan.
Di luar, gerimis masih turun. Lantai lorong kos basah dan berbau tanah. Ara berdiri di depan pintu, mencoba mengatur napas. Saat ia membuka pintu, Richard sudah berdiri di sana. Basah oleh gerimis, rambutnya sedikit berantakan, tapi tatapannya—Tuhan—tatapan itu begitu panas dan langsung menembus pertahanan Ara.
“Aku butuh kamu malam ini,” ucapnya singkat. Tidak ada basa-basi. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar.
Ara ingin bertanya, ingin mengulur waktu, ingin menjaga jarak seperti yang selama ini ia coba lakukan. Tapi jemarinya sudah terperangkap dalam genggaman kuat Richard. Pria itu menariknya masuk, menutup pintu dengan gerakan tegas, lalu memutar kunci.
Tangannya terangkat, meraih wajah Ara. Dan sebelum logika sempat bekerja, bibir mereka sudah bertemu. Ciuman itu—keras, lapar, seolah semua emosi yang ditahan selama ini meledak sekaligus.
Ara terengah di sela napas, mencoba mundur, tapi tangan Richard melingkari pinggangnya, menariknya lebih dekat. Napasnya berat di telinga Ara, membuat tubuh gadis itu bergetar.
“Aku nggak mau pura-pura lagi,” suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang membakar telinga. “Aku mau kamu, Ara… sepenuhnya.”
Kata-kata itu menghantam hati Ara. Antara takut dan menginginkannya. Tapi tubuhnya sudah menyerah.
Richard mendorongnya perlahan ke ranjang. Malam itu, mereka melebur dalam pelukan dan desahan, menghapus semua batasan yang pernah mereka jaga. Richard tak lagi menahan diri—setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap tarikan napas penuh dengan kepemilikan. Ara bisa merasakan, pria itu tidak hanya ingin tubuhnya, tapi juga ingin menandai jiwanya.
Di luar, suara hujan perlahan mereda. Tapi di dalam kamar, badai justru baru dimulai.
---
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Richard selalu menemukan alasan untuk datang—kadang pura-pura ada urusan kerja, kadang hanya mengirim pesan:
Aku di depan.
Setiap kali ia datang, mereka akan terjebak dalam pola yang sama—tatapan yang mengundang, sentuhan yang membuat mereka lupa bernapas, dan akhirnya… malam-malam yang berakhir di ranjang sempit Ara.
Dan setiap kali Richard pergi, aroma tubuhnya, hangatnya pelukan itu, dan beratnya tatapan sebelum ia menutup pintu selalu tertinggal. Membuat Ara sulit tidur, sulit memikirkan hal lain.
Namun, Bella tidak tinggal diam. Ia mulai muncul di kantor lebih sering, sengaja mencari kesempatan untuk berbicara dengan Richard, atau sekadar menatap Ara dari jauh. Tatapan itu tajam—tajam seperti pisau yang tak kasat mata. Ara kadang merasa napasnya tercekat setiap kali menangkap tatapan itu.
Tapi anehnya… setiap kali Richard berada di dekatnya, semua itu memudar. Ada sesuatu di mata pria itu—sesuatu yang campuran antara hasrat, proteksi, dan kepemilikan—yang membuat Ara lupa alasan mengapa ia seharusnya menjaga jarak.
Hingga suatu sore, ketika Ara sedang membereskan dokumen di meja kerjanya, Bella menghampiri.
“Ara,” panggilnya dengan nada yang terlalu manis untuk dipercaya. “Kita ngobrol sebentar, yuk?”
Ara menelan ludah, lalu mengangguk. Mereka berjalan ke ruang pantry yang sepi. Bella bersandar di meja, menatapnya lama.
“Kamu tahu,” ucap Bella pelan tapi jelas, “aku nggak suka kalau ada orang mencoba bermain di wilayahku.”
Ara menghela napas. “Nyonya, aku—”
“Tolong simpan alasanmu,” potong Bella, senyum dingin menghiasi bibirnya. “Richard itu milikku. Dan kalau kamu pintar, kamu akan tahu batas.”
Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, Ara ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa Bella sudah kehilangan hak itu. Tapi kata-kata itu tertahan. Ia hanya menatap balik, mencoba menyembunyikan gejolak di dadanya.
Malam itu, Richard datang lagi. Tanpa bicara banyak, ia mencium Ara begitu pintu terbuka. Kali ini, ciumannya tidak liar seperti malam pertama, tapi lebih dalam… lebih bermakna, seolah mengukir janji yang tidak terucap.
“Aku janji, Ara,” ucapnya di sela napas. “Aku nggak akan ninggalin kamu.”
Ara menutup mata, membiarkan kata-kata itu meresap. Dalam hati, ia tahu hubungan ini berbahaya. Tapi entah kenapa, ia juga tahu—ia tidak akan mundur.