Keesokan harinya, suasana kantor tempat Ara bekerja terasa tak biasa. Orang-orang meliriknya seolah ada berita besar yang mereka tahu, tapi dia tidak.
Di ruangan HRD, dua orang staf sedang berbicara dengan nada rendah namun jelas memandang ke arahnya ketika ia lewat.
Sampai siang, telepon Ara berdering. Nomor internal kantor. “Arabella, bisa ke ruang Tuan Richard sekarang?” suara asisten Richard terdengar formal.
Jantung Ara berdegup. Ia melangkah ke ruangan besar itu, hanya untuk mendapati dua sosok yang membuat langkahnya goyah.
Richard duduk di kursi CEO, wajahnya menegang. Di sebelahnya… seorang wanita anggun berusia 50-an dengan tatapan tajam—Julia ibunya Richard.
Ara menelan ludah. “Permisi…”
Julia langsung menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. “Kamu Arabella?” suaranya tenang, tapi mengandung sesuatu yang dingin.
Ara mengangguk pelan.
“Kamu tahu siapa anak saya?” Julia bertanya lagi.
“Ya, Nyonya… saya tahu.”
“Dan kamu tahu, dia sudah bertunangan?”
Ara menatap Richard, berharap dia bicara. Tapi Richard hanya menunduk, menghela napas panjang.
Julia mencondongkan tubuh. “Saya tidak peduli apa alasan kamu… tapi kamu sudah membuat keluarga saya menjadi bahan omongan. Saya minta kamu mengundurkan diri dari perusahaan ini, efektif mulai hari ini.”
“Nyonya, saya—” Ara mencoba bicara.
“Kamu tidak akan memenangkan apa pun kalau melawan saya, Ara,” potong Julua. “Jauhkan dirimu dari anak saya. Pergilah… sebelum saya yang membuatmu benar-benar hancur.”
Suasana di ruangan itu menyesakkan. Richard hanya terdiam, matanya menatap Ara dengan rasa bersalah, tapi ia tidak melakukan apa pun untuk membelanya.
Ara menunduk. “Baik, Nyonya.”
Tak ada pilihan lagi. Dia harus menerima konsekuensinya. Seharusnya dia sadar sebelum hal ini terjadi. Dia tak pantas untuk seorang Richard dan mungkin bosnya itu hanya menginginkan tubuhnya saja. Ah, bodoh sekali dirinya!
---
Setelah selesai berbicara dengan ibunya Richard. Ara kembali ke ruangannya, mengemasi barang-barangnya dari meja kerja. Beberapa rekan menatapnya iba, tapi tak ada yang berani bicara. Ia melangkah keluar gedung dengan napas berat, merasa semua udara di dunia ini menolak masuk ke paru-parunya.
Di halte depan perusahaan, ia duduk sendirian. Ponselnya bergetar—pesan dari Richard.
"Ara, aku minta maaf. Aku akan jelasin nanti. Tolong tunggu aku malam ini."
Ara menatap layar lama, tapi tak membalas.
Sesampainya di kos, hujan turun deras. Pikirannya kusut—tentang Devan yang muncul, tentang Richard yang hanya diam ketika ibunya menghinanya, dan tentang Bella… dia yakin semua ini ulah Bella.
---
Sementara itu, di apartemennya, Bella membuka sebotol wine. Justin duduk di sofa, mengamati wajah Bella yang tampak puas.
“Jadi, dia dipecat?” tanya Justin sambil tersenyum miring.
Bella mengangguk pelan, memutar gelas wine-nya. “Bukan cuma itu. Ibunya Richard sudah minta Ara pergi jauh. Dan aku yakin, kalau perempuan itu tetap keras kepala, dia akan menyesal.”
Justin tertawa kecil. “Kamu berbahaya, Bella.”
Bella menatap Justin, senyumnya tipis. “Berbahaya untuk orang yang berani merebut milikku.”
Malam itu, Richard benar-benar datang ke kos Ara. Pintu dibuka, dan ia langsung masuk tanpa bicara. Wajahnya terlihat frustasi.
“Aku nggak tahu Mami akan sampai segitunya. Aku nggak setuju sama keputusannya, Ara,” katanya cepat.
“Tapi Tuan diem aja waktu dia ngusir aku,” Ara menatapnya tajam. “Kenapa? Takut sama mami kamu? Atau… takut kehilangan Bella? Sudahlah. Apa yang dikatakan mami tuan benar. Aku tak pantas untuk tuan. Kembalilah padanya. Kalian sangat serasi.”
Richard mengusap wajahnya. “Ini rumit. Mami selalu mikir Bella itu pasangan terbaik buat aku. Tapi aku nggak mau dia. Aku mau kamu. Bella selingkuh."
Ara menahan napas. Kata-kata itu seharusnya menghangatkan hati, tapi yang dia rasakan hanya luka. ”Itu mustahil. Aku rasa tuan pun tak benar-benar cinta padaku. Semua hanya kebetulan. Biarkan aku pergi dari hidup tuan. Aku tak akan mengganggu hubungan tuan dengan Nyonya Bella."
Richard menarik Ara ke pelukannya, menciumnya penuh rasa frustrasi. “Aku nggak akan biarin kamu pergi…” suaranya parau.
Di luar sana, seseorang sedang memotret dari kejauhan—orang suruhan Bella, diam-diam mengikuti Richard malam itu.
Dan dari kilatan blitz kecil yang hampir tak terlihat, Bella akan mendapatkan senjata untuk langkah berikutnya.
***
Ara terbangun dari tidurnya. Saat itu Matahari belum sepenuhnya naik. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing. Napasnya terasa sesak. Rasa mual menghampirinya. Ara berlari ke kamar mandi. Hingga akhirnya dia memuntahkan semua yang ada di perut.
Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan tangannya bergetar mencoba bertumpu di dinding. Wajah terlihat pucat, dan tubuhnya terasa lemas. Kakinya terasa tak mampu menahan beban tubuhnya.
"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya pada diri sendiri.
Dengan langkah tertatih, dia berjalan menuju ranjang kecil di kamar kosnya. Ara terdiam di tepi ranjang. Tatapannya seakan mengunci ke arah kalender yang terpasang di dinding.
Tiga minggu.
Tiga minggu ia terlambat datang bulan.
Jantungnya berdetak kencang. Otaknya mencoba menolak kemungkinan itu, tapi tubuhnya—mual, p******a yang nyeri, kelelahan yang tak biasa—semuanya mengarah ke satu jawaban.
Dengan gerakan otomatis, ia meraih jaket tipis, menyambar dompet, dan keluar menuju minimarket kecil di ujung gang. Langkahnya cepat, seakan takut seseorang akan memanggilnya dan menanyakan ke mana ia pergi.
Saat tiba di rak perlengkapan kesehatan, ia berdiri kaku di depan deretan testpack. Ada berbagai merek, warna, dan harga. Tangannya memilih satu secara acak, lalu membawanya ke kasir. Saat kasir memberikan kembalian, ia menyadari telapak tangannya basah oleh keringat.
Perjalanan pulang yang biasanya terasa singkat kini seperti menempuh kilometer demi kilometer. Hatinya berat. Kepalanya penuh suara-suara yang saling bertabrakan.
Sampai di kamar, ia duduk di lantai, testpack di genggaman. Kemasan itu ia buka perlahan, hampir seperti takut merusaknya. Prosesnya sederhana, hanya butuh beberapa menit. Tapi saat ia menunggu hasil, waktu seolah melar. Jarum jam bergerak begitu lambat, detik demi detik terdengar seperti dentuman keras di telinganya.
Lalu… garis itu muncul. Bukan satu, tapi dua. Merah tegas, tak terbantahkan.
Ara memejamkan mata. Air matanya jatuh begitu saja. Tangisnya bukan hanya tentang ketakutan, tapi juga kesadaran pahit bahwa ia tahu siapa ayah dari janin itu—Richard Alexander.
Ingatan tentang malam itu menyeruak, jelas seperti film yang diputar ulang. Malam ketika ia membiarkan semua logika runtuh di hadapan tatapan tajam Richard. Malam ketika sentuhan pria itu membuatnya melupakan semua batas. Lalu ingatan lain menyusul—pertengkaran, kecemburuan, tatapan tajam dan juga ucapan menyakitkan dari Bella.
Nada getar ponselnya memecah lamunannya. Nama Richard terpampang di layar. Ara hanya menatapnya, membiarkan dering itu berhenti. Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
"Ara, kita harus bicara. Aku nggak mau kamu pergi dari aku."
Ara menutup mata, menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Bagaimana ia bisa tetap di dekat Richard ketika seluruh hidupnya bisa dijadikan senjata oleh Bella? Foto-foto mereka berdua yang Bella pegang cukup untuk menghancurkan pekerjaannya, reputasinya, dan kini—kehidupan anak yang bahkan belum lahir.
Sore itu, ia duduk di meja kecilnya, menulis pesan panjang untuk Richard. Tangannya gemetar di atas layar ponsel. Kata demi kata terasa seperti pisau yang ia tancapkan pada dirinya sendiri.
"Tuan ... kita selesai. Jangan cari aku lagi."
Jempolnya menekan tombol kirim. Pesan itu meluncur, dan di saat yang sama, ia tahu hidupnya akan berubah selamanya.
Malam itu juga, ia mulai mengemasi barang. Tak banyak yang ia miliki—beberapa setel pakaian, dokumen penting, perhiasan kecil warisan ibunya. Semua masuk ke koper besar dan sebuah ransel.
Di luar, hujan turun deras. Petir sesekali membelah langit, menerangi gang sempit di depan kosannya. Ara berdiri di depan jendela, menatap derasnya air yang jatuh. Setiap tetes seperti memberi restu pada keputusannya.
Ia tak memberi tahu siapa pun. Tak ada pesan untuk teman, tak ada pamit untuk tetangga kos. Semuanya harus ia lakukan diam-diam.
Bukan karena ia pengecut, tapi karena ia tahu, begitu ada satu orang saja yang tahu, kabar itu akan menyebar. Dan Bella akan menemukannya.
Di suatu tempat di tengah kota, Richard duduk di ruang kerjanya. Lampu meja menyinari wajahnya yang pucat. Pesan dari Ara ia baca berulang kali, tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Ia tahu ini bukan keputusan Ara. Ia yakin Bella ada di baliknya. Tapi ada satu hal yang ia tidak tahu—bahwa di rahim Ara kini tumbuh anaknya.
---
Perjalanan Pergi
Hujan masih mengguyur saat Ara menyeret kopernya keluar gang. Taksi online yang ia pesan menunggu di ujung jalan, lampunya memantul di genangan air. Sopir menatapnya sekilas lewat spion, tapi tak berkata apa-apa.
"Arah ke stasiun, Pak," katanya lirih.
Sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela. Jakarta malam itu tampak berbeda—lampu-lampu kota buram di balik kaca yang dipenuhi tetesan hujan. Di kepalanya, ia memutar ulang rencana yang sudah ia susun dalam kepanikan.
Ia akan pergi ke luar kota. Kota kecil di mana tak ada yang mengenalnya, di mana ia bisa memulai dari awal. Di mana ia bisa menyembunyikan perutnya yang perlahan membesar.
Di stasiun, kereta malam sudah menunggu. Ara membeli tiket ke kota yang bahkan belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Ia hanya tahu satu hal—ia harus jauh dari sini.
Kereta mulai melaju, meninggalkan deretan lampu yang memudar di kejauhan. Ara duduk di kursi dekat jendela, memeluk ranselnya erat-erat. Tangannya secara refleks mengusap perutnya yang masih rata.
"Aku janji… kita akan aman," bisiknya pada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya.
Air matanya mengalir lagi, kali ini lebih tenang. Ada rasa kehilangan, ada rasa takut, tapi juga ada tekad yang perlahan menguat.
Ia tidak tahu bagaimana ia akan membesarkan anak ini sendirian. Tidak tahu bagaimana ia akan menghadapi dunia yang sering kali kejam pada perempuan seperti dirinya. Tapi ia tahu, menyerah bukan pilihan.