Hujan sudah reda sejak subuh, tapi udara Jakarta masih basah oleh sisa-sisa malam yang murung. Di lantai paling atas gedung Alexander Corp, ruang kerja Richard terasa sunyi, hanya ditemani dengan pendingin ruangan dan secangkir kopi yang sejak tadi tak disentuh. Di mejanya, ponsel bergetar. Pesan Ara yang terakhir kali ia terima kembali muncul di layar—bukan karena pesan baru, tapi karena ia memutarnya berulang-ulang. Kata-kata itu seperti ukiran dingin di dadanya: "Tuan… kita selesai. Jangan cari aku lagi." Richard memijat pelipis. Sudah seminggu sejak pesan itu datang, dan setiap malam ia berharap akan ada pesan baru yang membatalkan semua ini. Tapi yang datang hanyalah kesunyian. Lebih parahnya lagi, tubuhnya mulai bertingkah aneh. Pagi tadi, saat sarapan, ia tiba-tiba merasa mual h

