Bab48

1377 Kata

Kabut tipis pagi itu pecah oleh suara mesin perahu yang menggeram, berat dan berulang, seolah derap kaki seribu tentara yang mendekat. Suara itu menggetarkan d**a Ara, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia menggenggam pistol dengan kedua tangan, jari telunjuknya sudah bersandar pada pelatuk. Richard, meski tubuhnya masih lemah, memaksa duduk. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipis. “Sayang… jangan hadapi mereka sendirian.” Ara menoleh, matanya tajam. “Kamu belum bisa bergerak. Aku yang akan melawan.” “Kalau kamu mati, apa gunanya aku hidup?” suara Richard parau, tapi penuh tekad. Ara menggigit bibir. Ada luka yang lebih dalam daripada tembakan atau tusukan pisau—dan itu adalah kemungkinan kehilangan orang yang ia cintai. Tapi di depan mereka, kenyataan sudah menunggu. Mesin pera

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN