Bab47

1096 Kata

Pulau kecil itu tampak tenang dari luar, seperti secuil surga yang terapung di tengah laut biru. Namun, bagi Ara, pulau itu bukan tempat beristirahat, melainkan ruang transisi—antara hidup dan mati, antara selamat atau dikejar bayang-bayang. Richard berbaring lemah di bawah naungan pohon kelapa, tubuhnya dingin, napasnya tidak beraturan. Ara duduk di sisinya, berusaha menenangkan diri meski jantungnya berdetak liar. Ia menyentuh dahi Richard. Panas. Demam mulai menguasai tubuhnya. Luka tembak itu tidak bisa dibiarkan. Ia tahu setiap menit yang terlewat bisa berarti perbedaan antara hidup atau kehilangan. “Bertahanlah,” bisiknya lirih, meski suara sendiri terdengar asing di telinganya. Richard membuka mata sebentar, pupilnya keruh karena rasa sakit. “Kamu… masih di sini?” Ara tersenyum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN