Sirene kapal patroli pemerintah terdengar semakin dekat, melolong panjang menembus udara malam yang penuh asap dan mesiu. Ara masih berdiri di tengah bunker, napasnya terengah, pistol di tangannya berat seperti sebatang besi cair. Di sekelilingnya, tubuh-tubuh bergelimpangan, beberapa masih mengerang, sebagian tak lagi bergerak. Bau darah, besi, dan bubuk mesiu menusuk hidung hingga membuat perutnya mual. Tapi ia tidak muntah. Tidak kali ini. Satu-satunya fokusnya adalah Richard—tergeletak di lantai, bahunya bersimbah darah. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap terbuka, menatap Ara seolah ia adalah jangkar terakhir yang mengikatnya pada dunia. “Aku… masih di sini,” bisik Richard, suaranya serak. Ara segera berlutut, menekan luka tembak di bahu Richard dengan kain robek yang ia temukan d

