Laut malam mengguncang kapal kecil itu seperti tangan raksasa yang tak sabar meremukkan mainannya. Angin menerpa wajah Ara, dingin menusuk tulang, tapi dadanya lebih dingin lagi. Api dari gudang Marunda masih terlihat dari kejauhan, nyala merahnya seakan menorehkan luka di langit malam. Hassan… Nama itu berputar di kepalanya, menabrak dinding kesadaran hingga menimbulkan gemuruh rasa bersalah. Ara menggenggam pistol di pangkuannya erat-erat, jari-jarinya gemetar bukan karena dingin, tapi karena rasa kehilangan yang belum bisa ia cerna. Richard mengarahkan kapal dengan rahang mengeras, matanya terus menatap ke depan. Garis wajahnya penuh bayangan. Ia tidak berbicara, hanya sesekali melirik Ara, seolah takut kata-kata akan menjadi pisau lain yang menusuk luka segar di hati perempuan itu.

