Angin laut berembus lebih kencang dari biasanya, seakan ikut menyampaikan kabar bahwa badai yang lebih besar tengah menanti. Pulau kecil itu menjadi saksi perubahan Ara. Wajahnya yang dulu selalu ragu kini tampak keras, sorot matanya tajam seperti bilah pisau. Dalam beberapa hari, tubuhnya penuh lebam, tapi setiap luka justru menambah kekuatan baru. Richard memperhatikannya dari jauh, sambil membersihkan senapan laras panjang. Ada rasa bangga yang tak bisa ia sembunyikan. Ara bukan lagi sekadar gadis yang terseret arus takdir, ia mulai berdiri di jalannya sendiri. Tapi Richard juga tahu: setiap langkah Ara semakin mendekatkannya pada bahaya yang lebih besar. “Sekali lagi!” suara Ara terdengar tegas. Ia berdiri di depan beberapa botol kaca yang dipasang di batang pohon kelapa. Tangannya

