Hujan akhirnya mereda. Jakarta dini hari tampak seperti kota yang baru saja melewati perang. Jalanan lengang, hanya sisa-sisa air mengalir pelan di selokan, dan lampu jalan berkelip seperti nyala lilin yang hampir padam. Mobil hitam yang ditumpangi Ara dan Richard berhenti di sebuah gudang tua di pinggiran kota. Bangunannya kusam, catnya mengelupas, seolah sudah lama ditinggalkan. Tapi Ara tahu, tempat ini bukan sekadar bangunan mati. Richard tak pernah membawa dirinya ke tempat yang benar-benar kosong. Ara turun, tubuhnya masih lelah. Sepatu sneakersnya basah kuyup, celana jeans menempel di kulit. Ia mendongak, menghirup udara yang lebih tenang setelah kejaran panjang. Tapi d**a Ara justru semakin sesak. “Masuk.” Richard membuka pintu besi gudang, mendorongnya agar bisa masuk lebih dulu

