Sirene itu terdengar makin jelas. Awalnya hanya samar, bagai dengung jauh di luar garasi tua yang pengap. Namun dalam hitungan menit, suara itu mendekat, menusuk telinga, membuat setiap orang di dalam ruangan membeku. Ara berdiri kaku di samping mobil yang baru mereka tinggalkan. Pikirannya kacau, tubuhnya masih gemetar hebat. Tangannya terasa dingin, seolah darah tak lagi mengalir dengan normal. Sirene itu polisi atau mereka? Pertanyaan itu menghantam kepalanya tanpa henti. Bayu melirik ke arah Richard. “Kita harus pergi sekarang. Kalau mereka menemukan garasi ini, habis kita.” Richard berjalan bolak-balik, wajahnya tegang. Tangannya mengusap rambut basahnya, lalu meraih pistol yang diselipkan di pinggang. “Tidak bisa gegabah. Bisa jadi jebakan. Kalau polisi itu bagian dari mereka, kit

