Hujan masih deras ketika mobil itu melaju meninggalkan pusat kota. Lampu-lampu gedung tinggi Jakarta memudar perlahan, digantikan oleh jalanan gelap di pinggiran kota. Wiper mobil bekerja keras, tapi air hujan seolah tidak pernah mau berhenti menutupi kaca depan. Ara bersandar di kursi belakang, tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dingin, tetapi juga karena ketakutan yang menekan dadanya. Richard duduk di sampingnya, napasnya teratur meski baru saja mereka lolos dari maut. Tangan kanannya masih menggenggam pistol, jemarinya kaku seolah tak mau melepaskannya barang sedetik pun. Di kursi depan, seorang pria asing mengemudi. Wajahnya tirus, rahang tegas, sorot mata tajam memantul dari kaca spion. Ara belum pernah melihatnya sebelumnya. “Siapa dia?” tanya Ara pelan, hampir berbisik karena t

