Hujan deras kembali mengguyur Jakarta malam itu. Jalanan licin, lampu-lampu kota memantul di aspal yang basah, seperti kilatan cahaya yang tak pernah berhenti menari. Ara berdiri di jendela kamar hotel yang sempit, tubuhnya gemetar meski jaket tebal menempel di bahu. Ia tahu tempat persembunyian ini tak akan bertahan lama. Richard berdiri di belakangnya, menyalakan rokok, asap putih berputar-putar di udara sebelum lenyap ditelan dingin. “Kita harus bergerak lagi. Mereka pasti sudah melacakmu sampai sini.” Ara menoleh cepat, matanya merah penuh amarah dan kelelahan. “Kamu pikir aku bisa terus lari? Aku bahkan tidak tahu siapa musuhku sebenarnya. Kamu? Mereka? Atau justru aku sendiri?” Richard menghela napas panjang, meletakkan rokok di asbak yang penuh puntung. “Kamu masih tidak percaya

