Lorong tambang itu bergaung dengan detak jantung Ara. Nafasnya terengah, tubuhnya bersembunyi di balik kereta tambang tua yang berkarat. Bau karat bercampur debu menusuk hidung, membuat paru-parunya sesak. Di kejauhan, suara langkah kaki terdengar mendekat, semakin lama semakin jelas. “Aku terjebak…” bisik Ara, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menggenggam besi karatan di sampingnya erat-erat, seolah benda itu bisa menjadi senjata. Tangannya gemetar, tapi matanya menyala dengan tekad. Ia tahu, sekali lengah, hidupnya berakhir di sini. Cahaya senter mulai menembus kegelapan. Suara anjing menggonggong sayup terdengar dari mulut tambang. Suara kasar Arka pun menggema. “Dia ada di sini! Jangan biarkan dia keluar!” Ara menahan napas, tubuhnya semakin menempel ke kereta. Ia bisa mendengar s

