Gelap. Itu yang menyambut Ara begitu ia melangkah masuk ke dalam jalur tambang lama. Bau tanah basah bercampur logam karat memenuhi hidungnya. Dinding batu di kanan-kiri terasa dingin, dan setiap tetes air yang jatuh dari langit-langit membentuk gema menyeramkan. Ara menelan ludah, memaksa dirinya melangkah lebih dalam. Jalur itu sempit, hanya cukup untuk satu orang berjalan. Sesekali ia harus meraba dinding agar tidak terjatuh. Nafasnya masih berat, d**a naik-turun cepat, tapi ia tahu ia tidak boleh berhenti. Di belakang, suara gonggongan anjing sudah terdengar samar. Mereka masih mengejar. “Aku harus bertahan…” bisiknya pada diri sendiri. “Aku tidak boleh menyerah.” Ia terus berjalan, hingga lorong melebar sedikit. Dari celah batu di atas, cahaya samar masuk, memberi penerangan seada

