Udara lembap memenuhi ruangan kecil itu. Gubuk kayu tua yang ditempati wanita renta itu hanya diterangi oleh lampu minyak berkelap-kelip, menebarkan cahaya temaram yang goyah, seolah ragu untuk tetap menyala. Di sudut ruangan, aroma kayu terbakar dari tungku kecil bercampur dengan bau dedaunan kering yang dijemur. Ara terbaring di lantai, tubuhnya menggigil hebat. Air sungai masih menetes dari rambut dan pakaiannya. Wanita itu—berambut putih kusut, kulit keriput, tapi sorot matanya tajam—bergegas mengambil kain tebal dari rak. “Cepat buka bajumu yang basah itu, Nak. Kalau tidak, kau bisa mati kedinginan,” katanya dengan suara serak namun penuh ketegasan. Ara mencoba menggerakkan tangannya, tapi tubuhnya terlalu lemah. Jemarinya terasa seperti batu. Wanita itu mendecak, lalu tanpa banyak

