“Mereka jelas-jelas mempermainkanmu, Medina. Katakan, kamu akan tetap memilihnya? Si badjingan ini?!” Medina mengangguk yakin, sekalipun air matanya turun begitu deras. Medina tahu kasih sayang seorang ayah akan selalu bermuara padanya. Akan tetapi, jika ia tinggalkan Gazain dan Gia dalam situasi rumit ini, lagi-lagi Jihad yang akan kena dampaknya. “Maafkan Medina, Yah. Ampuni putrimu ini,” Medina memohon dengan dua tangan tertangkup di depan wajah yang basah. Tuan Guid menggeleng beku. Kata-kata hilang sama sekali dari beliau. Medina menghambur, memeluknya. “Medina akan selalu mencintai Ayah. Medina tidak akan pernah membenci Ayah,” bisik Medina dari hatinya. “Pulang dan tenanglah. Ayah tahu, Medina bukanlah perempuan yang bodoh atau pantas menerima penghinaan, sekecil apa pun itu.

