"Sudah?" Sambutan Medina ketika Gazain kembali dari kamar Gia. Tak ada raut cemburu, selain binar mata berisi haru. Gazain sekedar mengangguk. "Tidak sulit ‘kan? Sudah kubilang. Nikmati saja. Tidak akan ada yang memuji kesetiaanmu kepadaku. Posisinya kita sudah bertiga, kamu jadi pemain utama, lebih diharapkan jadi ‘pemain’ yang sebenarnya." Ucapan yang menyuruhnya tak setia. Medina yang meminta... memaksa begitu. Medina sendiri, dengan tanpa paksaan dari pihak mana pun menginginkan Gazain tetap mempertahankan Gia. Kejam, tapi harus Gazain akui bahwa hubungannya dengan Gia membaik karena dorongan Medina. Gazain harus menyingkirkan semua sikap menyebalkan Gia dari kepala, menoleransi pengabaiannya, dan tidak bisanya perempuan itu berterima kasih. Gazain cukup mengambil sisi baiknya. S

