Gazain yang penat masuk kamar Medina. Bukan ia tak ingin menghargai usaha Gia, tapi dirinya saat ini sedang tak bisa berpura-pura. Syukur saja tadi Gia tidak memaksanya atau merayu lebih jauh, sehingga ia tak lepas membentak atau malah mengasarinya. Lelaki yang digelayuti lelah itu tertegun selepas menutup pintu. Langkahnya berhenti saat melihat isi ranjang. Pemandangan menawan telah menguapkan kata-kata dari kepalanya. Alangkah damai tidur Medina dengan putranya. Terlihat jemari Jihad memeluk telunjuk Medina cukup erat, keduanya saling memejamkan mata, dan berhadapan. Lebih dekat seperti sedarah, ibu dan anak. Pemandangan itu mendamaikan, sedikit melerai kusut di benaknya. Merekalah bukti perjuangan Gazain sejauh ini. Gazain pun berganti pakaian lalu bersiap ikut menyelam ke alam mimp

