Mendengar jawaban Rania, Ning Nisa tidak menyangka. Ning Nisa tidak pernah menuduga kalau Rania akan menyerahkan jawabannya pada orangtuanya. Hal ini tentu saja akan membuat hati Ning Nisa merasa sakit yang lebih lama. Sakit akan ketakutannya yang tidak kunjung berakhir mendapatkan jawaban. Sebenarnya Ning Nisa sudah menyiapkan mental apabila Rania menerima maksud baik Faris itu. Pasti Ning Nisa akan merasakan sakit. Tapi setidaknya itulah kenyataan yang harus ia tanggung. Kenyataan yang harus ia rasakan. Menolak bagaimana pun itu tidak akan merubah apa pun. Kalau seperti ini, jawaban Rania masih abu abu dan semu tanpa kejelasan. Tentu saja dalam hati Ning Nisa masih terbesit keinginan untuk bisa menjalani hidup bersama Faris.
Sepertinya memang Ning Nisa harus segera melepaskan impiannya untuk menjadi istri dari Faris. Ning Nisa menebak, pasti orang tua Rania akan menerima Faris. Secara Faris itu ikhwan yang cukup pandai dalam beragama dan memiliki ilmu umum yang baik juga. Ia juga seorang yang pandai dalam IT. Salah satu bidang keahlian yang sedang banyak di cari pada masa kini. Keluarganya pun tidak kalah terpandang. Ayahnya kyai dan memiliki toko yang memiliki banyak cabang. Hampir di setiap kota ada. Sementara ibunya adalah seorang guru di salah satu sekolah berbasis keagamaan. Sungguh siapa yang tidak ingin mempunyai besan yang sedemikian.
Malam ini juga Ning Nisa langsung menemui abah. Ning Nisa tidak mau menundanya lagi. Ia tidak mau jika abah datang tiba tiba mengetuk pintu kamarnya dan tidak sengaja melihat tangisannya. Abah tampak terduduk dengan sebuah kitab di tangannya.
“Maaf bah, Nisa akan menyampaikan jawaban dari Rania bah..”
“Eh sudah Rania sudah menjawab. Bagiamana katanya nduk?” Abah mengalihkan wajahnya dari kitab. Kini wajahnya ia arahkan ke Ning Nisa yang sudah terduduk di sofa.
“Ini bah, Rania menyerahkan jawabannya kepada orang tuanya”
“Alhamdulillah. Iya nak nanti abah akan sampaikan pada nak Faris kalau Rania minta demikian.”
“Iya bah..”
Ning Nisa kembali ke kamar. Sementara abah kembali muroja’ah kitab yang berada di depannya. Akhir akhir ini semenjak ia mengetahui jika Faris ingin menghalalkan Rania, Ning Nisa lebih banyak menghabiskan waktunya berada di kamar. Ning Nisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk bergelut memaksa berdamai dengan hatinya yang kian melebar rasa sakitnya.
Tak lama kemudian terdengar seperti ada orang mengobrol. Ning Nisa menyeka air matanya dan mencoba mendekati ruang tamu. Terdengar suara Faris. Ternyata Faris datang awal sekali untuk mengetahui jawaban niat baiknya. Ning Nisa segera masuk ke kamar kembali dan tidak ingin mendengarkan obrolan mereka.
***
Faris pulang ke rumahnya. Ia menceritakan maksud baik pada orang tuanya. Orang tuanya menyambut gembira keinginan Faris. Ternyata ayah dan ibunya juga sudah menginginkan untuk menimang seorang cucu. Mereka bahkan tidak sabar untuk segera berkunjung ke kediaman Rania.
Rania juga sudah mempersiapkan kedatangan Faris. Jujur ia belum mengetahui seperti apa sosoknya. Ia sudah berada di rumah sejak beberapa hari kemarin. Rania menceritakan kepada ibunya jika ada laki laki yang ingin berkunjung dan memiliki maksud baik. Ibunya pun tidak menolak. Bahkan ibunya bertanya kepada Rania. Apa ia benar benar ingin menikah dengan laki laki tersebut. Rania menyerahkan jawaban pada ibunya. Ia akan menurut apa pun yang ibu mau. Ibunya menyanggupi keinginan Rania. Ayahnya yang tidak bisa pulang karena urusan pekerjaan dan jarak yang lumayan jauh dengan medan yang tidak mudah akhirnya tidak bisa hadir menyambut Faris dan keluarga. Namun nantinya ayahnya akan dikirimkan foto Faris. Hal ini supaya ibunya tidak mengambil keputusan sendiri. Bagaimana pun juga ayahnya masih ada. Dan menikah bukan urusan yang main main.
***
Hari yang ditunggu keluarga Faris telah tiba. Ia akan berkunjung ke keluarga Rania. Ibunya Rania juga sudah menunggunya. Ia membuat sedikit penyambutan untuk tamunya. Persiapan sudah ia lakukan. Beberapa jenis kue dan makanan lainnya sudah tersaji di meja makan.
“Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam..” sambut ibunya Rania. Rania juga tampak berada di belakang ibunya dengan mengenakan gamis berwarna coklat yang membuat kulitnya terlihat sangat terang. Menyala seperti mengeluarkan pancaran cahaya yang menerangi kegelapan.
Mereka saling melempar senyum dan bersalaman. Ibu Rania mempersilahkan mereka masuk. Terjadilah obrolan di antara mereka. Rania hanya diam mendengar obrolan antara ke dua pihak keluarga.
Kini tinggal saat di mana Ibunya Rania harus menjawab maksud baik mereka. Ia melirik ke arah Rania. Ibu Rania meminta izin untuk mengirimkan foto Faris kepada ayahnya yang sedang mencari nafkah ditempat yang jauh.
KUNTUING!!
Sebuah notifikasi masuk masuk. Ibu Rania segera melihat ke layar ponselnya yang masih terpanjang pada w******p suaminya. Ia mematikan layarnya dan segera berbicara untuk menjawab.
“Terima kasih sebelumnya, setelah saya pertimbangkan berdasarkan hati nurani saya dan ayah Rania yang memiliki jawaban yang sama, maka saya putuskan alhamdulillah kami menerima maksud baik kalian”
“Alhamdulillah...” kalimat itu memenuhi ruang tamu Rania. Hampir semua mengucapkan kalimat yang baik itu.
“Alhamdulillah, jika memang keluarga ini menerima niat baik dari kamu, Secepatnya kami akan berkunjung kembali untuk mengikat Rania untuk putra kami yang bernama Faris”
“Iya baik, semoga selalu di lancarkan”
“Kalau begitu kami pamit dulu.. terima kasih buat semuanya, maaf jika kunjungan kami ada hal yang kurang berkenan di hati ibu”
“Hati hati, alhamdulillah, terima kasih banyak atas kunjungannya dan maksud baik kalian..”
Keluarga Faris pun berpamitan. Hari ini adalah hari pertama di mana Rania dapat melihat Faris. Hari ini juga hari pertama keluarga Faris mengetahui Rania yang sudah Faris ceritakan kepada mereka. Alhadulillah keluarga Rania menerima Faris begitu juga sebaliknya.
Kabar ini sudah sampai kepada abah pesantren Al Iman. Beliau juga selalu menanyakan bagaimana hasilnya. Mendengar jawaban pesan yang Faris kirimkan, abah menjawab dengan hamdallah.
Faris merasa bahagia. Akhirnya keinginannya untuk meminang Rania tinggal menunggu proses. Restu sudah ia kantongi baik dari keluarganya waupun keluarga pondok. KEluarga Rania juga menyambutnya dengan baik.
Ning Nisa yang mengetahui hari ini hari kunjungan keluarga Faris ke rumah Rania pun tidak kalah penasaran. Sejujurnya, Ia masih mengharapkan Faris. Mendengar informasi dari abahnya, semangat hidupnya langsung putus. Tidak ada yang tersisa sedikit pun. Batin Ning Nisa tidak kuat untuk menerima kenyataan ini. Namun bagaimana lagi, apa yang bisa ia buat. Kedua pihak keluarga saling setuju dan akan segera dilaksanakan khitbah antara Rania dan Faris.